"Kesetiaan hanyalah limbah yang mengalir dari peradaban yang jauh...." Saya pernah menuliskan kata-kata ini. Tapi di mana ya? Saya lupa. Kalau nggak salah dulu saya pernah punya catatan yang hilang. Judul catatan itu adalah "Cinta dalam Skema Rumit" (Elegi Cinta buat TJ).

Ah, sayang mengapa harus hilang. Mungkin masih era floppy disk dan saya juga belum memiliki flashdrive, hard disk, bahkan komputer, apalagi laptop. Saya juga belum mengenal shared-drive yang dikenal dalam cloud computing sekarang ini. Jadi sayapun merelakan catatan itu hilang begitu saja.

Saya pernah mencetaknya, membuatnya dalam format buku kecil, mirip novel. Waktu itu tahun 2001. Tapi entah di mana saya juga sudah tidak tahu lagi juntrungannya. Semuanya tidak berbekas. Hanya beberapa kata dan frase yang sempat kuingat. (Buat TJ, kalau masih punya catatanku, pinjam donk!)

Dalam kata-kata itu saya sepertinya sudah mulai merasakan bahwa kesetiaan kedepan menjadi sesuatu yang langka. Akan ada jamannya dimana kesetiaan itu musnah, seperti dinosaurus yang punah ditelan jaman. Mungkin saja jaman itu adalah jaman sekarang ini!

Sepertinya sekarang sudah bukan lagi jamannya untuk setia. Kesetiaan pada idealisme politik saja tidak kelihatan, tidak ada bedanya dengan setia pada pasangan. Pindah-pindah partai sudah biasa, seperti ganti baju saja. Tentunya banyak juga yang memiliki “cadangan” di mana-mana.

Ini sudah Desember lho, ya? Sudah di penghujung tahun lagi. Biasanya ini menjadi momen-momen buat flashback selama tahun berjalan. Mengkoreksi diri, introspeksi diri, evaluasi diri, atau semacamnya. Lalu digunakan buat menentukan langkah ke depan. Nggak jauh-jauh dari teori manajemenlah: Planning, Organizing, Actuating and Controlling.

Kalau sudah begini baru tau rasanya, kalau waktu itu cepet banget muternya. Perasaan baru kemarin saya bikin resolusi, sekarang sudah harus dievaluasi. Sungguh malu kalau tahu kesenjangan antara resolusi dan realitanya. Untung aku nggak ungkapkan apa resolusi itu. Hari ini saya benar-benar malu sama diri sendiri. Achievement saya nol besar.

Yaah... gagal itu sih biasa (ini mau ngeles apa ekskyus yach?). Tentu segala sesuatu ada sebabnya. Kenapa sampai gagal? Ada sih. Sesuatu yang sangat nyata sekali. Sebuah kesalahan paling besar yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Entah berapa lama waktu yang akan dibutuhkan buat membenahinya kembali. Tentu saja harus pelan-pelan.

Dalam hidup ini kita kan mengenal yang namanya cobaan, ujian, hambatan, rintangan, gangguan, godaan, tantangan, ... apa lagi ya? Semua itu bisa terjadi bergantian maupun bersama-sama. Hehe... nih critanya ngeles beneran deh!

Tapi bener loh, seseorang mungkin tangguh dalam menghadapi cobaan, ujian, hambatan, rintangan, gangguan bahkan godaan sekalipun. Tapi dia tidak suka tantangan. Maka suatu ketika dia akan merasa kalah ketika melewatkan tantangan yang ditawarkan kepadanya. Penyesalanpun timbulnya belakangan.

Hai hai hai...
Lama gak jumpa, gimana kabarnya? Baik-baik semua kan? Nih saya juga baru sempet nulis lagi. Biasanya sih sibuk. Sibuk kerja lah, masa' sibuk apaan? Orang sibuk nih? Nggak juga. Pura-pura sibuk sajalah, biar dikira orang sukses. Padahal kalau sibuk sendiri itu karena nggak sukses-sukses. Mengejar mimpi terus. Tapi ngapain juga mimpi dikejar ya? Kurang kerjaan banget. Pantesan sibuk!

Tapi bener kok. Saya sibuk. Ini sekaligus meluruskan beberapa asumsi yang beredar, bahwa saya sakit. Saya enggak sakit kok. Saya sehat-sehat saja berkat doa dari kalian semua. Thanks yach? Operasi kemarin lancar, anggap saja prosesi buang sial atau semacam membebaskan satu belenggu yang membebani hidup ini. Jadi sekarang, I feel better, okay?

Ini kebetulan pas liburan natal plus satu hari cuti bersama, jadi bisa longgarin pikiran dan tangan buat nulis (baca: ngetik) di tempat paling indah dan seksi ini. Jujur sebenarnya ini agak dipaksain karena gak tau mau nulis apa. Nah, ini juga penyakit lama. Biasanya saya "jalan-jalan" dulu ke blog-blog populer, baru dapet ide, trus nulis disini. Tapi kali ini udah jalan-jalan sampai capek kok ya nggak nemu ide. Kalau sudah begini ini akhirnya jurus "ngayawara" pun dipakai. Ini jurus paling jitu buat update blog.

By the way, saya lagi nyiapin ngetik beberapa ide kedepan. Mungkin akan jadi dua atau tiga postingan di akhir Desember yang biasanya kelabu. Saya mungkin nggak akan ngetik panjang-panjang tapi secukupnya saja. Saya sadar kalau saya nggak jago nulis, kalian juga kayaknya tipe pembaca yang bosenan. Kamu pasti kalau baca loncat-loncat, kan? Sudah capek-capek diketik, tapi kamunya nggak baca 'kan rugi gitu. Salah siapa sebenarnya ini?

Energi negatif memang sesekali harus dipanen. Nggak selamanya ditabung dan ditumpuk-tumpuk terus. Walaupun sebagian sudah diupayakan untuk diseimbangkan dengan memperbanyak energi positif, namun tentu masih ada residu-residu negatif yang masih tersisa, mengendap dan tidak mudah dilarutkan begitu saja. Dengan kata lain, proses netralisasi energi negatif dengan menggunakan energi positif sepertinya tidak selalu bisa terjadi.

Ada hal-hal yang kuyakini dalam hidup ini, walaupun mungkin bagi orang lain tidaklah sepenuhnya benar. Aku hanya memetik pelajaran dan hikmah dari perjalanan hidup dari sudut pandangku sendiri, yang mungkin tidak berlaku bagi orang lain. Termasuk dalam hal meyakini hukum keseimbangan alam, lebih khusus lagi keseimbangan antara unsur energi negatif-positif yang berlaku disetiap orang.

Saya mungkin sengaja, atau setengah sengaja dalam melakukan ini. Saya melakukan apa yang disebut menuai energi negatif dalam hidup saya. Yaitu dalam bentuk sakit. Sakit yang sebenarnya tidak perlu terjadi, sakit yang oleh banyak orang justru dihindari, ini malahan sengaja saya rencanakan.

"Saya minggu depan ijin tidak masuk, ya? Saya mau sakit seminggu!"

"Lho, sakit kok direncanakan? Itu bukan sakit beneran! Itu namanya pura-pura."

Meliuk, mendayu, manja. Begitulah sang Jiwa kalau sudah bertemu sandarannya. Sepertinya segala kerinduan yang dibendungnya selama tujuh purnama, kini ditumpahkan begitu saja. Demikian pula sang Sandaran Hati, serasa menenggak hujan pertama di akhir kemarau panjang, tersenyum bahagia.

Ketika itu wacana untuk menyelipkan selembar rencana di dalam serangkaian skedul yang teramat padat telah menjadi nyata. Dibayarnya sang Angin yang biasanya hanya dititipi salam, untuk mengangkat sayapnya terbang menuju kekasih hati pada hari itu. Beban rindu di pundaknya sudah melebihi segalanya, hingga harga mahal yang dimintapun tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu: menciptakan kebersamaan, walau dia tahu itu hanya untuk sesaat.

Tidak semudah itu juga sih. Kegagalan pernah terjadi ketika wacana hanya tinggal wacana. Kekecewaanpun bergulir. Menangis. Mengelus dada dan bergumam, sabar, sabar, sabar, .... Akan indah pada waktunya,....

Masih seperti mimpi, ketika sang Jiwa tiba di tempat yang dijanjikan. Di bawah atap Surga itu ia masih terus berkelahi dengan dirinya sendiri. Berharap segera bertemu agar pertengkaran itu bisa rehat sejenak seperti kisah bersambung. Sang Sandaran Hatipun masih mengatur waktu dan berhadapan dengan hujan. Hanya serbuan pesan pendek yang bisa dia kirim-terimakan melalui jaringan, kebetulan cukup bersahabat di siang yang basah itu.

Segaris cahaya menerobos celah pintu kamarku di tengah malam buta. Melintas tepat di mataku yang masih sayu, belum kuat untuk membelalak sempurna. Siapa yang datang?

Seperti biasa, perempuan itu lagi. Perempuan yang selalu hadir dalam mimpiku akhir-akhir ini. Perempuan yang mengaku datang dari masa lalu, beberapa generasi sebelum aku. Dia mengaku nenek dari buyutku. Entah sudah berapa generasi itu? Dia selalu datang dengan pakaian yang sama, model rambut yang sama, serta senyuman yang selalu menyejukkan hati itu. Tubuhnya yang indah seperti terbuat dari cahaya, penuh kehangatan.

Kali ini dia datang untuk mengatakan, "Selamat hari jadi, Nak!"

Kupeluk kebekuan cinta, ketika Nirwana menyapa untuk bahagia. Entah mengapa aku tiba-tiba tersentak di tengah lengahnya keheningan hidup. Aku lantas menghitung, sudah berapa lama aku ada di sini. Akhirnya akupun tersenyum sendiri. Bergumam senandung cinta di malam purnama. Alangkah indahnya hidup....

Letih, lelah, lesu, lemah.... Begitu yang kurasakan. Sepertinya aku sedang menderita anemia atau gejala kurang darah. Hasil pemeriksaan laboratorium darah ternyata normal. Bahkan semua hasil pemeriksaan yang ada, menunjukkan hasil yang sangat mengagumkan. Tapi kenapa gejala-gejala aneh itu selalu mengusik hari-hariku?

Lebih cermat lagi aku lihat di hasil-hasil pemeriksaan gula darah, kholesterol, fungsi hati, fungsi ginjal, semua hasilnya membuat aku mengucap puji syukur alhamdulillah, karena sampai detik itu masih dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Tapi semoga aku sedang tidak tertipu, semoga hasil pemeriksaan darahku tidak sedang tertukar sama punya orang. Satu lagi, semoga aku tidak sedang bermimpi!

Oke, anggap saja hasil itu bisa dipercaya. Berarti nggak ada masalah di sana. Tapi tetap ada sesuatu yang nggak beres disini. Dimana? Ya di dalam tubuh ini. Kenapa? Hmm... itu yang sedang diselidiki. Karena kenyataannya, aku sedang merasakan kehadiran sesuatu yang tidak seimbang, sesuatu yang tengah melanda. Membuatku terus menerus gelisah dan resah sepanjang hari, sepanjang malam. Lebay but true.

Kalau penyakit fisik sudah tersingkirkan, masih mungkin adanya gangguan non fisik yang bisa saja melanda setiap orang. Penyakit jiwa! Ya. Tapi jangan negatif dulu, karena penyakit jiwa tak selamanya gila. Stress, galau, trauma, fobia, depresi, itu semua bisa saja diderita setiap orang normal. Nggak ada orang yang sepanjang hidupnya bisa benar-benar terhindar dari penyakit-penyakit jiwa itu.

Semakin berumur seseorang, tentu sudah sedemikian kenyang dengan apa yang disebut kegagalan. Kegagalan adalah hal biasa dalam hidup. Kegagalan inilah yang biasanya dekat dengan gejala-gejala gangguan jiwa itu.

Hadehhh... kok aku jadi takut, yah? Tapi yang ini gejala apa sebenarnya?

Sanajan aku durung nate ngurupake lilin kanggo mengeti taun-taun kapungkur ing dina kelairanmu,....
Sanajan aku uga durung nate tuku roti taart kanggo ngramekake pengetan dina bahagya ulang taunmu, ....
Sanajan uga aku ora nate weweh kembang mawar abang pratandha rasa sayangku mring sliramu, ...
Nanging sliramu ngerti, manawa katresnan iku cukup lair saka ati lan kawetu ing wujud watak lan tumindak. Apa pedahe geni lilin, roti ulang taun lan kembang mawar, sanajan kabeh mau pancen simbuling katresnan, nanging yen datan dibarengi tumindak kang mujudake rasa tresna, malah kepara kosok baline.

Tumraping aku, kawit biyen, pengetan ulang taun iku ora pati wigati. Malah amung gawe runtiking ati jalaran umur satemene ora tambah, malah kepara suda. Mesthine malah sedhih, nanging yagene kudu diramekake? Manawa kang dadi bobot wigatine kanggo bisa ngandelake rasa sukur, ya sumangga wae.

Mula aku arang kadang ngeling-eling dina ulang taun, sanajan iku dinaku dhewe. Jaman saiki pepeling ulang taun kanthi gamblang lan otomatis wus kecathet ing kalender hape. Sing ulang taun sesuk iku sapa bae, bakal metu jenenge ing layar hape dina iki pas tabuh jam rolas awan. Kalender hape jaman saiki wis bisa sinkronisasi marang akun Fesbuk, dene Fesbuk mau kang darbe cathetan bab dina2 laire para kadang.

Sejene ngono, ing Fesbuk dhewe uga sinebut kadang sapa bae kang ulang taun saben dinane. Dadi gampang nuwuhake rasa kepengin gawe ucapan selamat. Sayange sliramu nate ora sarujuk manawa aku seneng weweh ucapan ultah kadang ing Fesbuk, kamangka ing ulang taunmu dhewe aku ora nate weweh apa-apa.

Mula ing kesempatan dina iki aku kepengin nulis. Tulisanku iki minangka hadiah kanggo ulang taunmu dina iki. Mung dedonga kang bisa dak aturake. Mugiya Gusti Allah tansah paring berkah marang sisaning uripmu. Muga-muga kasembadan apa kang dadi sedyamu. Tansah bagas waras lan bagya salawase.

-Saka sisihanmu kang tansah kebak rasa tresna.


Sepining ratri nuwuhake kangening ati. Udan kan sing nembe riwis-riwis nambahi miris. Sajroning ati kang tansah ngreronce tembung-tembung katresnan, sanajan datan nate bisa kawetu. Wus pirang-pirang sasi nggonku luru tamba kanggo sepining ati, nanging amung bisa nyawangi lintang-lintang sing sorote katon abra ing antarane mendhung-mendhung kang mentiyung.

Kok ndilalah, kidung-kidung katresnan iku uga tansah nambahi kandeling rasa iki. Kala-kala katut ing rengenging kidung mau, sanadyan durung bisa mareni ati sing kekuncen ing kangen. Sanityasa kasiksa dening rasa sujana lan cubriya, embuh geneya.

Prasasat ngronce kembang melathi, nggonku tansah ngreronce ratri kang kebak rasa iki. Ing mangka saben dina wus tansah ngreronce seseratan lumantar angin kang midid sumilir. Ronce rinonce, dadiya reroncen wangi wernaning ati.

Mangsa bodhoa aku ora preduli manawa ing tembe dadi kaya ngapa. Aku mung ngerti rasaning tyas iki tansah sumedhot adheming hawa udan riwis ing wanci bengi.

Haus masih melanda, terus menerus. Hanya embun pagi dan air mata yang dijadikan tumpuan untuk dapat diteguk. Walau jelas-jelas tidak ada harapan dapat melegakan dahaga dengan cara seperti itu. Tapi karena terbiasa, akhirnya menjadi kebutuhan untuk melepas dahaga walau kenikmatannya tidak seberapa. Akhirnya lupa bagaimana seharusnya menghilangkan rasa haus yang sesungguhnya. Tidak dikenali lagi air jernih, melainkan kenikmatan sesaat yang terus dinikmati, walau penuh kepalsuan.

Kegelisahan melanda, seperti sunyi yang selalu mengajak perasaan untuk senantiasa resah. Cinta yang diharapkan selalu menjadi penghibur, pengisi hati, pikiran dan jiwa, seakan sudah tidak ada lagi. Mimpi itupun perlahan sirna. Harapan semakin jauh, tak tergapai. Hingga suatu ketika sampailah pada masa dimana keberanian untuk mengutarakan keinginan bersama mencapai tujuan itu sudah tidak ada lagi.

Kebersaman kian terasa semakin abstrak. Sepi selalu menyelimuti. Segala problema dihadapi sendiri-sendiri tanpa adanya sinkronisasi. Hanya tuntutan kewajiban yang terus menerus diminta. Walau kecukupan masih memadai namun jelas terjadi kesenjangan prioritas masing-masing pribadi. Tidak terlihat kejelasan masa depan yang menyatu. Kebersamaanpun makin pudar, luntur, antara ada dan tiada.

Maunya semua dibiarkan mengalir begitu saja. Tetapi ganjalan-ganjalan itu membuat friksi yang semakin mengiris hati. Menjaga dan mengatur perasaan serta pikiran agar senantiasa positif merupakan hal yang tidak selalu mudah dilakukan. Ibarat menaklukkan diri sendiri dan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, tidak semua orang mampu melakukannya dengan sempurna.

Dua orang cewek cantik di Rusia telah membuat heboh para pengguna jalan. Keduanya berjalan hanya menggunakan celana dalam. Sedangkan bagian dadanya terbuka, mengenakan sepatu hak tinggi dan topi polisi di pinggir jalan M7 highway, Nizhny Novgorod, Rusia. Keduanya memegang papan rambu-rambu dengan bentuk lingkaran yang bertuliskan 60 dan 40 (batas kecepatan maksimal yang dianjurkan 60 km/jam atau sekitar 40 mil/jam).

Saya menemukan berita ini di VIVAnews. Ada ilustrasi gambarnya yang disensor. Sumber berita ini merupakan lansiran dari Carscoop, Senin 19 Agustus 2013. Setelah berupaya sedikit usil, akhirnya saya nemu juga sumber berita aslinya, bahkan sempet nemu videonya! Pingin liat? Ntar saya tunjukin... Semoga aja link-nya masih berlaku, karena saya belum berhasil mendownloadnya untuk saya pasang langsung disini.

Aksi yang dilakukan dua cewek ini lumayan ngefek. Pasalnya, setiap pengemudi yang lewat "terpaksa" memperlambat kecepatan mobilnya. Tentu saja ini khusus para pengemudi pria, mereka mendapatkan "tontonan gratis". Aksi itu diakui oleh pelakunya bukan semata-mata iseng atau membuat sensasi saja. Mereka mengaku sedang berkampanye tentang keselamatan berlalulintas.

Mengemudikan kendaraan terlalu kencang sering dianggap sebagai penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Rupanya aksi ini menjadi salah satu cara unik yang dilakukan di negeri Tirai Besi itu untuk membuat para pengguna jalan sadar akan keselamatan berlalu lintas.

Walaupun dipandang dari sudut lain, kampanye dengan cara tidak biasa seperti ini itu justru memicu kecelakaan tabrakan beruntun. Karena ada mobil yang kemungkinan berhenti tiba-tiba dan lengah karena asyik menonton kedua makhluk seksi tersebut.

Tapi itu di Rusia, loh! Kalau di Indonesia? Pasti sudah ditangkap tuh cewek-cewek. Lalu mereka "dibina" di panti sosial.

Karena harus menjalani upacara bendera memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan di kantor, saya harus bangun pagi-pagi untuk bergegas mandi dan bersiap diri. Padahal biasanya sehabis sholat shubuh saya melengkungkan badan lagi di tempat tidur sampai jam 07.00 baru beraktivitas kembali. Kali ini jam 06.30 sudah meluncur di jalanan yang tampak masih sunyi.

Hari ini memang hari libur, tanggal merah, jadi aktivitas manusia tidak seramai hari-hari biasanya. Anak-anak sekolahpun diliburkan. Entah mengapa mereka tidak lagi dilibatkan dalam memperingati Hari Kemerdekaan bangsa ini dengan menjalani upacara di sekolahnya masing-masing.

Tidak seperti waktu saya sekolah dulu, mengikuti upacara bendera hukumnya wajib. Bahkan beberapa perwakilan murid diharuskan mengikuti upacara di balaikota atau di stadion kota dimana pemerintah daerah setempat melaksanakan upacara bendera.

Sebelum jam 07.00 saya sudah tiba di kantor. Beberapa teman tampak melakukan gladi kecil-kecilan, terutama yang bertugas mengibarkan bendera. Sound system juga telah disiapkan sebagai pelengkap jalannya upacara tujuhbelasan itu.

Karena kepala kantor mendadak tidak bisa hadir oleh karena satu dan lain hal, maka serta-merta sayapun ditunjuk menjadi inspektur upacara. Tugas saya hanya membacakan sambutan dari Direktur Perusahaan di Pusat.

Maka hari inipun saya menjadi inspektur upacara. Hari ini pula, dalam sejarah hidup saya, untuk pertama kalinya menjadi inspektur upacara di Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Walaupun cuman jadi inspektur kelas teri dalam sebuah upacara kecil-kecilan yang diselenggarakan di kantor, yang penting pernah jadi Inspektur upacara!

Sepasukan bersenjata pedang dan tombak sudah hadir di depan mataku, siap merangsek masuk ke dalam gerbang kota Caruban yang saat ini aku jaga. Ada sekitar 1500 orang anggota pasukan yang sengaja hendak menyerbu kota, sedangkan aku sendirian. Sungguh ini tidak masuk akal.

Sudah lama rakyat Caruban tidak bayar pajak dan upeti kepada sang Raja. Paceklik yang melanda beberapa kali sempat membuat perekonomian kami hancur. Pajak dan upeti itu hanya menambah masalah saja. Maunya penguasa hanya mengeruk harta, tanpa memandang kondisi kami yang merana. Masih bagus kalau membantu, perhatianpun tidak. Tidak peduli kondisi sedang mencekik, para penguasa malahan menambah beban derita rakyat. Jangankan buat bayar pajak, menghidupi keluargapun rakyat kami terseok-seok.

Mungkin karena alasan itulah mereka mendatangkan pasukan untuk menghancurkan kota kami, yang menurut pandangan mereka mungkin sudah dianggap memberontak.

Entah setan mana yang merasukiku, hingga aku mau-mau saja menjalani peranan ini. Seorang kesatria tua yang mendapat kepercayaan menjaga gerbang kota seorang diri hanya dengan bersenjatakan sebilah pedang tua yang tumpul.

Walau berada di bawah matahari yang terik, aku mencoba untuk tetap berdiri tenang. Segala kemungkinan yang terjadipun siap aku hadapi. Aku hanya perlu tahu, apakah aku benar-benar harus bertarung, ataukah sebatas negosiasi dengan pimpinan pasukan yang siap tempur itu.

Seorang diantara mereka akhirnya datang mendekatiku, seorang pemuda tampan berbadan tegap mengendarai kuda hitam legam. Dengan pakaiannya yang mentereng itu, sepertinya dia seorang pejabat kerajaan yang tidak main-main. Dengan menunggang kuda hitamnya ia mendekatiku lalu turun dan memberi hormat kepadaku.

Libur panjang lebaran sudah mau habis nih. Yang mudik juga sudah mulai ada yang balik. Tahun ini aku nggak mudik lagi. Jadi sudah 2 kali lebaran tidak pulang. Pesan senior: kalau bisa jangan sampai 3 kali, deh. Ntar nyaingi bang Toyib, lagi.

....♪♬...tiga kali puasa, ♪...♬...
....♪..♪...tiga kali lebaran....♪♬...
....♪♬...Abang gak pulang-pulang....♬...♪..
...♬...♪...sepucuk surat tak datang ♪♪..♬..

Setidaknya kerinduanku udah nggak menderu seperti dulu. Entahlah, mungkin karena ada beberapa teman yang ternyata juga tidak pulang mudik tahun ini. Lagian aku juga sudah telpon buat mengendorkan muatan impuls di saraf kerinduan. Emang ada ya, saraf kerinduan? Secara ilmiah sih nggak ada. Ini istilahku sendiri.

Yang jelas tempatnya di otak, yang mengatur perasaan dan emosi. Disitu ada semacam lokus yang mengeluarkan persepsi berupa kerinduan.

Aku juga nggak tahu apakah kerinduan itu sembuhnya hanya dengan bertemu atau bisa luntur seiring berjalannya waktu? Tapi setidaknya aku bahagia hidup di era komunikasi digital sekarang ini, manfaatnya sudah banyak dirasakan orang, terutama untuk mengurangi simptom kerinduan yang banyak diderita orang.

Kali ini aku nggak akan ngobrolin soal tekhnologinya, tapi soal kerinduannya. Nggak tau kenapa ini jadi menarik bagiku untuk diulas. Direnungkan.

Duduk sendiri di pojokan
Memeluk rembulan

Gue nggak ngerti alur cerita ini
Tahu-tahu aja gue disini
Tersesat di ujung sunyi

Gue nyoba aja memetik gitar
Nurutin hati gue yang ingin nyanyi
Gue tahu suara gue jelek
Tapi bukan suara gue yang ingin gue perdengarkan
Hati gue ini, lho. Menjerit terus...

Lagunya ya, yang kemarin sore itu
Lagu lama, sih. Sekalian aja mau flash back
Lagu baru gue banyak yang gak ngerti (kuncinya)

Gue mulai meraung
Senar gitar gue aja nyaris putus
Tetangga gue terganggu
Gue mau dilempar batu
Tapi mereka masih baik hati
Tahu kalik, kalau gue lagi kumat?

Gue tau mestinya gue harus begitu-begitu
Bukan malah begini-begini
Ya sori saja, sebenarnya gue sadar sih
Kalau gue itu salah
Mestinya gue introspeksi. Gitu, kan?
Tapi nyatanya gue belum bisa insaf sekarang


Ngapuranen aku, ya, Nimas?
Amarga mangajab ing pepisahan iki
Mungguh aku mangerteni rasa tresna ing atimu
Nanging kabeh wis mokal bisane kelakon

Nimas, lali-lalinen aku saka sajroning atimu
Lalenana uga reronce critaning katresnan kang wingi
Aku ora ngira uga kabeh bakal kaya mangkene
Nimas, coba mangertenana wae

Ngapuranen aku sepisan maneh,
Nadyan sliramu isih ing atiku
Nadyan tresnamu isih rumaket
Sing gedhe ngapuramu, Nimas!

Aku ngerti laraning atimu
Nanging percayaa marang aku, Nimas!
Sliramu bakal ketemu katresnan
kang luwih becik tinimbang aku

Waktu masih ABG dulu, saya punya banyak energi untuk melakukan berbagai hal. Saya juga punya banyak waktu untuk itu. Yang tidak saya punya adalah uang. Keuangan masih bergantung sama orang tua.

Setelah sekarang saya bisa mendapatkan uang sendiri, saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal selain pekerjaan saya yang menghasilkan uang itu. Tentu saja saat ini energi saya masih sangat cukup untuk melakukan banyak hal.

Nanti kalau sudah pensiun, menginjak lansia, giliran energi yang lemah. Uang mungkin masih ada. Waktu yang tersedia sangat berlimpah.

Nah, kalau digambarkan dalam bentuk tabel, kira-kira seperti yang berikut akan kita lihat.

Hampir semua orang memiliki pola yang sama. Rata-rata begitu. Kalau kita menyadari hal ini lebih awal, kita bisa menentukan sikap agar di setiap rentang masa itu kita bisa menikmatinya dengan sempurna.

Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi masa berikutnya. Kita perlu mempersiapkan diri menyongsong masa berikutnya dengan tujuan agar masa selanjutnya itu tidak menemui kegagalan.

Jadi ketika masih abege, dimana energi dan waktu kita masih banyak, kita harus mengantisipasi suatu periode dimana waktu kita akan banyak tersita. Bagaimana caranya agar waktu yang ada dapat digunakan secara efektif, juga efisien.

Siapapun orangnya kalau sakit itu pasti bilangnya tidak enak, ya? Mana ada sakit yang enak? Ya kalau dicari-cari mungkin akan ada juga sakit yang enak. Tapi saya yakin pasti kebanyakan orang setuju kalau sakit itu nggak enak.

Jangankan sakit, gangguan kesehatan sedikit saja mungkin sudah terasa begitu menyiksa. Lho apa bedanya? Ya beda. Hampir sama sih, tapi mungkin lebih ke gradasi yang lebih ringan. Kalau sakit itu identik dengan nyeri, gangguan kesehatan bisa saja cuman gatal-gatal, perih, panas dan sebagainya.

Khusus gatal, ini agak unik sedikit karena tidak semua bentuk gatal adalah gangguan kesehatan. Mungkin karena sensasinya memerlukan garukan atau gosokan, maka sensasi rasa itu disebut gatal, atau gatel. Dengan kata lain, gatal itu merupakan sensasi yang perlu digaruk. Maka, ya tergantung tempatnya, kalau gatalnya di tempat yang mudah dijangkau kita bisa garuk sendiri. Kalau tidak, terpaksa butuh pertolongan orang lain.

Paling susah kalau gatalnya itu terjadi pada area yang dalem-dalem. Mungkin kita butuh semacam tongkat atau bahkan galah untuk menggaruknya. Walaupun kadang tidak semua bentuk gatal itu harus digaruk secara kasar seperti itu. Apalagi gatal yang terjadi di wilayah yang dalem-dalem itu sebaiknya cukup dielus-elus atau dibelai-belai dengan sesuatu yang hangat dan basah.

Capek, jemu, dan bete melanda. Tak ada lagi gairah untuk melakukan sesuatupun. Semuanya begitu flat dan tidak ada yang berbeda maupun baru. Ingin rasanya menyandarkan diri untuk sekedar berlabuh melepaskan semua rasa. Tapi ke mana?!

Malam begitu panjang, detik jam dinding menghitung, membawaku berangan-angan betapa malam ini dipenuhi desah penuh cinta. Banyak pasangan yang tengah asyik masyuk dan larut tenggelam melepaskan segala kerinduan. Ooohhh!!!

Asyiknya bila bisa saling bersandar sambil membisikkan kata cinta. Menyatukan hati dan bercinta tiada henti. Hmmmhhh!!!

Aku masih suka cemburu kepada pantai. Ketika ombak datang membelai bebatuan di tepian. Riak yang basah itu terpercik menjadi tempias-tempias yang hangat. Seperti para bidadari yang turun ke bumi.

Bahkan alampun tak memberiku waktu untuk berguru, berbagi inti untuk sekedar pelarut kesedihan. Kalaupun ada kepedihan, hanyalah aku tahan saja semampuku sambil menyalakan api unggun. Semoga hujan tidak mengacaukan acaraku dengan kebekuan dingin yang selalu merenggut keleluasaan.

Aku masih lelaki yang dulu. Lelaki biasa yang juga harus bersandar sambil membisikkan kata cinta. Aku tidak sanggup berdoa untuk hal-hal seperti ini. Karenanya aku juga tidak pernah meminta. Aku malu. Aku tidak menjiwai peminta-minta yang selalu mengharap dibelaskasihani. Bukannya harus saling mengerti?

Baru-baru ini saya sering mendengar istilah ini. Terkait dengan pemberitaan di jagat maya bahwa pak Presiden SBY sedang menerima penghargaan kenegarawanan dari sebuah yayasan antaragama AS, yang dinilai oleh sebagian kalangan hanyalah sebuah pencitraan.

Begitu pula pak Gubernur DKI Jokowi yang banyak dinilai melakukan pencitraan diri dengan kegiatan-kegiatan pemerintahannya yang kontroversial.

Pencitraan adalah suatu upaya pembentukan opini publik sesuai dengan harapan pihak yang melakukan pencitraan tersebut. Pencitraan, tentunya berupa upaya-upaya yang ditujukan untuk mencari nama baik, mengharumkan nama, mengambil hati masyarakat umum dengan tujuan tertentu. Ya dalam hal ini untuk mempertahankan kekuasaannya.

Pencitraan tidak selamanya harus dinilai negatif. Karena sebenarnya pencitraan itu sendiri menurut saya justru merupakan sebuah upaya positif. Akan dinilai negatif jika memang ada kesenjangan yang mencolok antara kenyataan sebelumnya dengan upaya pencitraan itu sendiri. Misalnya saja, contoh mudah yang sering terjadi di kampung saya dulu adalah: seorang bekas pencuri yang mendadak berubah jadi ustad. Kelihatan banget jadi ustadnya setengah hati, habis itu nggak lama, balik lagi jadi pencuri.

Saya tidak jarang melakukan pencitraan. Kepada siapapun. Termasuk kepada anak saya yang baru belajar bicara. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya itu cantik, seperti kakaknya dan juga ibunya. Sedangkan bapak itu ganteng. Kadang dia juga sering bercerita kepada orang-orang, baik tetangga maupun teman-teman saya, bahwa bapaknya ganteng. Memang keluguannya bisa membikin saya tersipu malu. Tapi tentu jauh lebih memalukan kalau sampai dia bilang bapaknya jelek.

Kemarin itu ceritanya kelaparan. Tumben-tumbennya gue bisa merasa lapar. Padahal biasanya tidak pernah. Kalau telat makan, tanda lapar itu biasanya pening di kepala, bukan ndangdutan di perut.

Udah hampir larut malam cari makan memang susah. Hampir tutup semua tempat orang yang berjualan makanan. Disini gak ada yang buka sampai pagi. Lagian kalau ada yang masih buka, menunya sudah tidak lengkap lagi.

"Nasi goreng satu, Mbak!"
"Maaf pak, nasi gorengnya habis."

"Kalau gitu ayam bakar. Satu. Lengkap dengan nasinya."
"Ayamnya juga habis, Pak!"

Daripada perut gue makin merdu kroncongnya, gue gak akan nanya makanan lagi.

"Trus yang ada apa donk?"
"Tinggal mie goreng sama mi kuah, Pak!"
"Bilang dari tadi kek! Ya udah. Mi goreng satu."

Pesan makanan satu saja harus nunggu lama sekali.

Setelah makanan siap, tak ada waktu lagi buat ngiler, langsung sikat! Baru masuk sesuap, sudah terasa pedasnya. Pedasnya nggak main-main pula. 


Sudah tau bakalan suram nih, hari esok....

Seperti biasa harga pisang naik turun, harga telur masih tergantung-gantung, sedangkan harga kacang masih terjepit dan yang masih menonjol adalah harga susu.

Pada saat pisang naik, harus diadakan penekanan-penekanan, dimana kenaikan harga pisang ini tidak mempengaruhi telur yang masih tergantung-gantung.

Penekanan-penekanan tersebut mengakibatkan longgarnya harga kacang. Dengan longgarnya harga kacang secara otomatis akan menaikkan harga susu, dan ada kecenderungan susu akan semakin keras dipasaran.

Sementara itu penekanan-penekanan itu harus sering dilakukan sampai suatu saat harga pisang pun melemah disertai dengan membanjirnya kacang dan turunnya harga susu, kondisi seperti inilah yang selalu didambakan oleh semua pihak.

Akan tetapi biasanya akan gangguan-gangguan, yang paling sering terjadi hanya 2 (dua):

1. Kadang-kadang pada waktu terjadi penekanan harga pisang, harga kacang tetap menyempit, sehingga sulit menembus pasaran, akhirnya harga pisang tidak bisa bertahan lalu membanjir diluar pasar dan biasanya pemilik kacang akan kecewa karena harga kacang sangat mempengaruhi oleh naik turunnya pisang.

2. Sering juga terjadi pada waktu harga kacang sudah lesu, harga pisang juga lesu. Dalam hal ini perlu diadakan dengan intervensi pihak ketiga. Kalau perlu diadakan dopping/injeksi agar bisa menembus pasar.

Untuk menjaga stabilitas harga pisang, harga kacang, serta harga susu, setiap interaksi ketiga pasar tersebut harus dilakukan koordinasi, sehingga mencapai suatu titik kepuasan maksimum secara bersamaan.


Ini mengingatkan saya pada kisah Roro Jonggrang dulu. Pembuatan seribu candi yang menjadi sarat bagi sang Pangeran untuk melamar sang Putri. Pada akhirnya sang Pangeran yang bernama Bandung Bondowoso itu tidak mampu mewujudkan keinginan Roro Jonggrang sepenuhnya. Seribu candi yang harus diselesaikannya dalam waktu semalam itu hanya mampu dibuat sebanyak 999 buah. Yang satu belum sempat dibuat keburu waktunya sudah habis, karena sesuai kesepakatan seribu candi itu harus sudah kelar setelah terdengarnya kokok ayam jantan yang pertama di pagi hari.

Sebenarnya dengan sarat seperti itu Jonggrang hendak menolak lamaran Bandung Bondowoso. Tapi dia lupa kalau Bondowoso ini adalah seorang pangeran sakti. Dia sendiri juga sombong, sih. Takut seribu candinya selesai, maka Jonggrangpun membuat tipu muslihat dengan menyuruh warga menyalakan lampu di kandang-kandang ayam agar ayam jantan berkokok saat itu juga. Padahal masih tengah malam buta.

"Maaf ya, mas Bandung! Setelah saya hitung, candinya kok cuman sembilan ratus sembilan puluh sembilan biji, yah? Kurang satu, nih!" katanya.

"Masa, sih? Dik Jonggrang?" sahut Bondowoso. "Tapi meskipun begitu, kamu mau 'kan jadi pacar aku?"

"Nggak bisa, Mas! Perjanjian tetap perjanjian!" tandas Jonggrang.

"Yaah, kamu kok gitu sih? Kamu 'kan udah liat sendiri, aku dah berusaha, nih." Bandung berusaha buat negosiasi lagi. "Lagian kalau tinggal satu itu mah gampang! Kasih waktu sedikit lagi juga udah kelar, kok!"

Rintik hujan masih enggan berhenti. Walau tidak terlalu deras, namun cucuran air yang mengalir di kaca depan masih berlimpah, yang sesekali tersibak ke samping oleh wiper yang sengaja kuputar pelan. Waktu menunjukkan pukul 23.15. Mata sudah hampir mengantuk, tapi jarak menuju rumah masih sekitar lima kilometer lagi. Jalanan sudah agak lengang namun dinginnya malam seakan membekukan laju yang kupaksakan.

Sebilah cahaya petir membelah langit. Vertikal. Begitu terang hingga menyilaukan mata. Walau hanya sekejap, sebagian awan yang terpapar cahaya itu tampak terlihat jelas sekali. Seperti sayap-sayap malaikat yang hendak turun ke bumi. Andaikan saja bidadari memang sedang diutus untukku... Ah, pikiranku selalu mengacau.

Rupanya aku sudah mulai berhalusinasi. Walaupun mungkin saja itu hanya sebuah fatamorgana, tapi aku tak mau ambil risiko. Kuputuskan untuk menepi, barangkali ada yang bisa mengurangi beratnya rasa kantuk yang kian membebani pelupuk. Kulihat sehampar sawah terbentang di sisi kiri, gelap tanpa kunang-kunang.

Kumatikan mesin, juga semua lampu dan wiper. Meluruskan sandaran, lalu terlentang. Menatap runtuhan air hujan yang terus konsisten dengan iramanya mengguyur bumi. Mata mencoba terkatup, hingga gelap tampak menyerupai warna langit di sebalik hujan. Alunan saxophone dari Kenny G pun mengiringi.

Di sebuah negeri kerajaan nan elok permai, terdapatlah sebuah desa dimana tinggal seorang gadis yang cantik jelita. Sang Gadis hanyalah seorang anak petani yang bersahaja hidupnya. Tentunya kecantikan sang Gadis ini begitu alami, sehingga sebagai seorang bunga desa, dia sangat didambakan para pemuda di desa itu.  Terlebih sang pemuda miskin yang bernama Jack Ndableque.

Nina Damaihati, begitulah nama si gadis. Seperti namanya, pesona wajah yang cantik itu seolah senantiasa memancarkan cahaya penuh kedamaian. Bagi yang menatapnya, serasa dibuat teduh hatinya.

Hari-hari Jack selalu diliputi perasaan tak menentu. Dia sangat mencintai gadis itu, tapi ia tak pernah berani menyatakannya, lantaran dia menyadari bahwa dia tak memiliki apapun untuk dipersembahkan buat sang pujaan hatinya itu. Walaupun sama-sama hidup bersahaja, hati Jack selalu merasa bahwa gadisnya itu lebih layak hidup bersama pemuda yang lain. Tentu saja dia berharap Nina akan mendapatkan jodoh seorang pemuda yang lebih baik darinya, bukan pemuda-pemuda yang suka keluyuran malam dan suka mabuk-mabukan.

Namun sang Gadis sendiri sangat mendambakan dirinya bisa hidup bersama sang Pangeran di kerajaan itu. Yang pasti menurutnya hidup bersama sang Pangeran tidak akan kekurangan apapun. Tapi sebagai gadis miskin, iapun menyadari bahwa tak mungkin dia meraih harapan setinggi itu. Diapun memendam harapan itu dalam-dalam,  tak perlu seorangpun tahu.

Dimanakah pangeran pembawa sekuntum cinta itu? Tidak kelihatan batang hidungnya. Mungkin kini dia tengah berdansa bersama bidadari-bidadari yang lain.

Batu hitam, dingin dan diam. Walau bayang-bayang hendak menyeruak sekalipun, tak ada tanda-tanda bergeming. Bukankah aku telah menasihatimu lebih dari seribu satu kali? Oke, sekarang aku menyerah. Aku mengaku tak lagi punya kompetensi untuk memberimu khotbah agama ataupun dongeng malam menjelang tidur. Barangkali lebih mirip raungan serigala atau lolongan anjing yang hanya bisa menyayat telingamu hingga bercucuran darah.

Sampai saat ini aku masih juga tidak habis mengerti, mengapa masih juga kausimpan ketololan itu sedemikian lama. Aku sudah sangat bosan mendengar kegalauan yang kaunyanyikan, juga melalui puisi, tarian, dan bisikan-bisikan yang terus menggerogoti hati. Menusuk kalbu. Bahkan anginpun tak mampu menghalau awan yang menggelapi langit biru.

Tidakkah terpikir untuk berhenti menggerutu, menggenggam tangan dan menyematkan senyum. Berlinangan tangis telah menyudutkanmu dalam sebuah bilik, gelap, sepi, terisolir jauh dari kegaduhan dunia. Tidakkah terlihat olehmu bunga-bunga mawar yang bermekaran yang selalu bercerita tentang "duri" hari esok. 

Kalaupun sekarang kaupilih sendiri jalanmu dengan menapaki kegelapan, di bawah cucuran hujan lebat yang terus menghunjam punggungmu dengan cambukan demi cambukan, itu bukan skenario dalam pelajaran kita terdahulu. Aku juga tidak punya semacam jaminan untuk memberikanmu sekedar kesejahteraan, apalagi kebahagiaan.

Mungkin kamu sudah nggak asing lagi dengar cerita anak-anak yang satu ini. Bisa menebak, kan? Kura-kura pasti jadi pemenangnya, dengan segala cara dan trik yang ada.

Tapi kamu salah. Yang itu sih kisah ceritera kancil dan siput! Yang ini nih, kancil dan kura-kura, loh! Memang mirip sih, sifat lambat dari siput dan kura-kura. Jadi kita bingung, ini ceritera yang bagaimana, sih? Nah, makanya simak dulu ceritanya. Tapi saya coba membawa cerita ini dalam perspektif yang lain. Perspektif orang dewasa, tentunya. Yang pasti, tidak akan jauh dari kaidah "indah dan seksi".

OK! Begini dia ceritanya:
Suatu hari kura-kura dan kancil berdebat tentang siapa yang tercepat. Untuk membuktikannya mereka menyetujui untuk mengadakan lomba. Lombapun dimulai. Sang kancil melesat dengan cepatnya meninggalkan kura-kura. Setelah merasa jauh melampaui kura-kura, diapun berhenti sejenak di bawah pohon untuk istirahat. Karena gembiranya akhirnya sang Kancil tertidur.

Pelan tapi pasti kura-kura berhasil melewati sang Kancil. Sang Kancil terbangun dan melanjutkan larinya. Tetapi ditemunya kura-kura sudah berada di finish dan keluar sebagai sang Juara.

Baiklah, mari kita bicara cinta.

Bicara cinta sesungguhnya nggak akan ada habisnya. Apalagi di bulan Februari ini. Bulan penuh cinta. Sebagian orang memperingatinya sebagai hari Valentin. Saya sendiri nggak paham betul latar belakang pervalentinan. Tapi yang pasti akan jadi pas banget buat saya kalau bulan Februari ini menjadi bulan penuh cinta. Pasalnya di bulan Februari inilah saya bisa memperingati hari pernikahan. Cihuui! Ada cerita seru yang selalu terkenang di bulan Februari. Begitu indah! Begitu seksi!

Nah, cinta itu makanan apa? Belum ada yang bisa mendefinisikannya secara memuaskan. Tapi menurut saya, sebagai kata benda, cinta itu sesuatu untuk diberikan, bukan diminta. Pengucapan kata cinta harus sambil dibayangkan disitu ada unsur memberi, bukan meminta. Ada unsur persembahan, bukan perampasan. Lebih jauh lagi mestinya ada unsur keikhlasan, bukan mengharap sesuatu atau balasan langsung. Apalagi disertai unsur paksaan.

Hal ini sangat berlawanan makna dengan "nafsu", disitu ada unsur mengharap, meminta, bahkan memaksa/merampok! Boleh jadi lawan kata atau anonim dari cinta adalah nafsu.

Sinonimnya yang paling tepat adalah "kasih". Coba perhatikan makna "kasih" kalimat percakapan berikut:

"Nich, saya kasih duit. Jangan buat beli rokok, ya?"

Alkisah, ada beberapa orang buta sedang berdebat tentang seekor gajah. Mereka sama-sama buta dari lahir sehingga belum pernah melihat beberapa jenis binatang yang jarang ditemui di sekitar rumah. Pada hari itu mereka sedang diperkenalkan dengan yang namanya gajah. Merekapun diberi kesempatan untuk meraba seekor gajah yang sama. Ada yang meraba dari depan, dari belakang, kiri, kanan, ada juga yang dari bawah.

Yang meraba dari belakang kebetulan mendapatkan ekor gajah. Dia mengatakan bahwa gajah adalah binatang yang bulat, kecil dan panjang, serta ujungnya berbulu-bulu.

Yang meraba dari depan membantah. Menurutnya bulatan itu tidaklah kecil. Menurutnya gajah itu bulat panjang tapi besar.

Yang meraba dari samping dengan pedenya menolak bahwa gajah itu binatang yang bulat panjang. Menurutnya gajah itu sangat besar. Terlalu besar untuk dikatakan bulat.

Nah, ada lagi yang lucu, nih! Dia kebetulan pendek, jadi cuma bisa meraba dari bawah. Dia memegang-megang penis gajah! Akhirnya dia lebih setuju dengan mereka yang mengatakan bahwa gajah itu bulat panjang. Tapi ukurannya berubah-ubah. Kadang-kadang membesar, kadang mengkerut jadi kecil!

Mungkin saya termasuk golongannya orang-orang usil, (jangan bilang saya porno, karena itu sudah pasti, hehe...) sehingga itulah mengapa hari ini saya kecewa lagi. Begitu beruntunnya saya menemui ujian demi ujian, kaitannya dengan hobi ngeblog ini. Setelah menemukan bahwa pusaran batin saya tidak berfungsi dan kemudian saya berhasil memperbaikinya, ternyata masih ada ujian lagi yang tidak kalah beratnya.

O...lala baby... Would you believe this?

Mungkin beginilah tantangan yang harus dihadapi. Cuman blog mainan saja begini beratnya cobaan yang menerpa, apalagi kalau blognya milik professional blogger gitu ya?

Saya kecewa kenapa, coba? Ada yang tahu, nggak? Ada semacam disabilitas baru dalam dunia maya di Indonesia. Ada hal yang sebenarnya menurut saya terlalu indah untuk diblokir.

Ini berkenaan dengan fitur ini saya pasang di bagian bawah blog, fungsinya mencari file musik, khusus format .mp3. Kini fitur itu sudah selayaknya dinonaktifkan saja. Karena sudah tidak berfungsi lagi, lantaran server proxy yang berada di balik fitur ini telah diblokir oleh penyedia jasa Internet.

"Kalau Gue Miskin, Masalah Buat Lo?" Begitu rencananya judul tulisan ini. Tapi kesannya kok merendahkan diri banget? Padahal rendah diri tanda tak mampu! Jadi gimanaa... gitu! Seperti orang yang tidak bisa bersyukur. Daripada Tuhan marah, jadi judulnya dibikin yang sebaliknya saja. Suka-suka gue, kan? Tulisan, tulisan gue!

Itulah sekelumit tentang konflik batin selama penulisan judul yang sebenarnya nggak penting banget. Nggak penting kok masih dimuat juga?  Ya sebenarnya diantara yang nggak penting itu terdapat hal-hal penting. Sesuatu bisa dianggap penting karena ada hal yang tidak penting, kan? Nah, biar tambah pusing deh!

Okay, to the point nih. Kaya dan miskin itu menurut saya kok relatif. Tidak ada nilai mutlak untuk keduanya. Barangkali orang miskin yang mendekati mutlak itu orang yang tidak punya apapun. Hidup sebatang kara, tak punya harta, bahkan telanjang bulat karena tak ada sehelai benangpun yang bisa dia kenakan sebagai pakaian. Jadi kalau dilihat, orang miskin yang mendekati mutlak itu tampak seksi! Mau lihat contohnya? Mari kita lihat "si Orang Miskin" yang satu ini:

Enam pertanyaan tersebut diurutkan sedemikian rupa, agar membentuk serangkaian pertanyaan analitik dalam mengerjakan sesuatu. Lantas apa hubungannya dengan gambar di sebelah? Nggak ada hubungan. Lho? Kok nggak ada? Ya suka-suka gue, tulisan ini 'kan tulisan gue. Hehehee.

Sejujurnya, makin hari makin ngaco saja deh tulisan di blog saya ini. Habisnya, saya nggak hobi nulis sih. Hobinya kan ngeblog! Jadi ya pengen punya blog saja, sudah. Memang betul, sih, tinggal diupdate! Lha, updatingnya ini yang susah. Nggak setiap saat ide bisa muncul. Padahal saya tuh slalu berharap yang namanya ide itu bisa langsung nongol didepan hidung saya, gitu. Jadi tinggal diketik, trus diunggah.

Tapi kenyataan kan nggak bisa seperti itu? Jadi kemampuan saya memunculkan ide itulah yang dari dulu hingga kini tidak berubah, alias blank terus. Padahal ide itu banyak, bertebaran di mana-mana. Tapi yang mau nempel di jidat ini ternyata nggak selalu ada. Akhirnya, daripada cuman kehampaan yang saya upload setiap hari, maka harus kurelakan blog saya ini menjadi semacam gado-gado dari negri antah berantah.

Jakarta banjir lagi!? Itu sih biasa! Nggak ada istimewanya. Baru bisa dikatakan istimewa kalau Jakarta tidak kebanjiran saat musim hujan melanda.

Namun rupanya banjir kali ini agak spesial, rupanya. Akhirnya ada istimewanya juga! Mungkin karena ada kaitannya dengan kepempinan Jokowi, Gubernur DKI. Dari dulu memang mantan Walikota Solo itu makin banyak diperhatikan orang. Saya pribadi juga tidak bisa melepaskan diri dari membanjirnya pemberitaan media, baik tentang Jokowi maupun tentang kondisi Jakarta saat ini.

Sebagai cah Solo yang bermukim di Gorontalo, sayapun dulunya jarang mengetahui sepak terjang Jokowi di Solo, termasuk Solonya sendiri. Orang tua dan saudara-saudara saya memang masih banyak yang tinggal di Solo dan sekitarnya, tapi kalau saya menghubungi mereka, hanya sebatas bercerita tentang hubungan kekerabatan kami, tanpa menyinggung soal kota Solo, apalagi Jokowi.

Tapi semenjak kabar pencalonan Jokowi menjadi Gubernur DKI sampai sekarang dia menjabat Gubernur, seolah berita tentangnya mengalir begitu saja ke ruang pribadi saya. Terutama melalui berbagai sumber pemberitaan elektronik di Internet, baik Facebook, Twitter, BBM, maupun rilis-rilis dari situs pemberitaan. Seakan tidak pernah berhenti media memberitakan Jokowi dengan Jakartanya.

Sekedar Kamu tahu, di dalam hatiKu ini selalu ada angin yang bertiup menujuMu. Walau kadang hanya berbisik, seperti yang Kulakukan tatkala mendekapMu di dalam khusyukKu.

Sekedar Kamu tahu bahwa di dalam hatiKu sering Kurindukan kemesraan ketika sujud-sujudKu meluruhkan gumpalan dosa dan kekejian. Namun lantaran Aku selalu  khawatir bahwa segala dosa dan kekejian itu hanya akan membebani pundakMu, maka Aku hanya diam menahan hasrat yang selalu membahana ini.

Seperti yang selalu Kulakukan dikala rindu menyengat sampai ke kedalaman jiwa, dikala hausKu menjadi puncak keinginan untuk menjilati lekuk tubuhMu.

ParasMu, seberapapun jauh, Aku selalu berharap ada disini menghiasi setiap malam tanpa tidurKu, mengisi kekosongan rongga dadaKu, serta mewarnai langit-langit cintaKu.

Kelak akan Kusibakkan pula layarMu dan mendapati geloraKu kembali mendidih, membumbung tinggi dengan buih-buih putih. Di saat itu Kuraih dengan jemariKu sendiri kedua lengan putih mulusMu, sehingga kecupan kemesraanpun tak hanya sekali melumatkan ranum bibirMu.