Makan → foto dulu.
Jalan-jalan → bikin story.
Olahraga → upload Strava.
Nonton konser → rekam.
Beli kopi → foto.
Sedih → bikin quote.
Bahkan sedang bahagia pun kadang belum sah sebelum ada yang tahu.
Hahaha.
Saya tentu tidak sedang menyindir siapa-siapa. Lha wong saya juga pelakunya. Pernah datang makanan bagus, bukannya berdoa dulu malah cari HP. Geser piring sedikit. Sendok dipindah. Gelas jangan menutupi lauk. Cari angle. Jepret. Kurang bagus. Jepret lagi.
Makanannya menunggu dengan sabar....
Kalau dia bisa ngomong mungkin dia akan bilang, “Om, saya ini mau dimakan atau ikut casting?”
Yang lebih lucu lagi kalau jalan-jalan. Dulu orang pergi ke pantai untuk melihat laut. Sekarang kita pergi ke pantai, lihat laut sebentar, lalu membelakanginya.
...
Karena mau selfie.
Matahari yang sudah menempuh perjalanan 150 juta kilometer menjadi Sunset akhirnya cuma dijadikan background foto kita yang pakai kacamata hitam.
Kasihan juga matahari. Hahaha.
Sebenarnya, saya paling malas membahas kegoblokan manusia. Bukan karena topiknya langka, justru sebaliknya: terlalu melimpah. Ia ada di mana-mana, seperti debu halus yang tak terlihat tapi selalu berhasil masuk ke mata. Membahasnya benar-benar menguras energi. Kegoblokan itu punya gaya gravitasi sendiri: menarik, menyeret, dan menantang kita untuk ikut terjun ke lumpur yang sama. Dan celakanya, lumpur itu sering terasa hangat dan nyaman, karena di sana semua orang sepakat untuk tidak sepakat dengan fakta.
Saya harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak ikut goblok bersama mereka. Bukan karena saya lebih pintar, bukan. Sama sekali bukan. Saya juga manusia, dan seperti manusia lainnya, saya pun pernah (dan kadang masih) goblok. Bedanya, saya berusaha sadar bahwa kegoblokan adalah hak, bukan kewajiban. Hak itu boleh dipakai, tapi idealnya secukupnya. Seperti garam: terlalu sedikit hambar, terlalu banyak bikin tekanan darah orang lain naik.
Kebijaksanaan, bagi saya, adalah kemampuan mengatur kadar goblok dalam diri sendiri agar tidak menumpah ke ruang publik. Agar tidak mengganggu orang lain yang sedang berusaha hidup normal. Agar tidak memaksa orang lain menelan kebodohan kita mentah-mentah hanya karena kita terlalu malas belajar, membaca, atau sekadar berpikir lima menit lebih lama.
Yagene internet kok mesthi lemot
Kamangka pajeke ora tau pedhot
Ora ngerti yen kangen iki samsaya abot
Tak ampet neng ati nganti wis ora amot
Ndilalah aturan mudhik yo tambah kolot
Dalan dicegati, wis ora bisa ngepot
Kajaba ana sing wani mberot
Padudon karo para aparat nganti alot
Dhuh piye iki internet kok isih lemot
Diajak mlayu kok malah ngesot
Rasane seret kaya mangan gathot
Ayo ta, Pak... gek ndang digenjot
Opo ndadak dijugil dhisik nganggo pangot?
Kangenku iki lho, tambah sumedhot
Suwe-suwe sirahku melu cekot-cekot
Dadi tambah panas atiku kaya keslomot
____________________
*guritan wengi,
nalika Internet lemot
Optimis itu kan kalau segala sesuatu berada di bawah kendali kita sepenuhnya? Kalau masalah Covid-19 ini kan masalah kompleks? Peran majemuk dari para pemegang kepentingan sangat menentukan. Jadi kamu nggak bisa sendirian. Seorang Presiden pun tidak bisa mengatasi masalah ini di negaranya sendirian walaupun optimismenya setinggi langit.
Mau dibahas satu persatu? Ayook!
Trend kasus
Bagaimana nggak ngeri, ketika pada akhir Januari 2021 ini kasus Covid-19 yang dilaporkan https://covid19.go.id/ sudah tembus angka satu juta. Pada saat itu tambahan kasus per hari mengalami tren di atas 10.000 kasus dalam dua pekan terakhir, sementara fasilitas kesehatan "nyaris kolaps" dengan sejumlah orang yang dinyatakan positif Covid-19 mengaku kesulitan mendapat perawatan. Sejak awal 2020 trend kasus yang diprediksi akan melandai di Juli 2020, ternyata tidak ada kecenderungan menurun sama sekali. Bahkan kasus ini terus merangkak naik di Januari 2021. Kasus kematian sudah mencapai 28.855 per 27 Januari 2021. Setiap bulan dilaporkan “pecah rekor” baru dalam jumlah kasus, mau bikin prediksi turun lagi di tahun 2021?
Prokes! Prokes! Prokes! Dikon nglakoni protokol kesehatan wae kok uangel men? Goblok, pekok, opo picek? Lha yo jelas samsoyo nyebar viruse, samsoyo ngembyah kasuse, wong dho bebas-bebasan tular-tularan sak karepe dhewe. Dupeh ora ngrasakne, dupeh OTG, dupeh isih nom, isih kuwat, isih seneng leda-lede, ....
Protokol kesehatan iku sing penting jaga jarak, amargo virus iku nulare liwat abab. Ababmu sing kecing kuwi ngandhut virus yen kowe guneman, ambegan, opomaneh ngakak-ngakak tanpo masker. Biso nular marang wong sing jarak kurang saka semeter. Mulane jaga jarak, ora gawe krumunan, ora thongkrongan udad-udud bukak-bukakan masker.
Yen ora mungkin jaga jarak amargo nglakoni kewajiban, amargo golek nafkah, amargo nyukupi butuh, alasan ekonomi, okee.... maskere diagem nggih, Dhe, Pak, Bu, Lik, Ngger! Le, Ndhuk! Su! Masker kuwi kanggo nutupi dhapurmu ben ora los-dhol ababe mobat-mabit tekan ngendi-ngendi. Maskere sing standar, yo? Ojo sing digawe soko saringan wedhi! Ndladhuk tenan, wis dikandhani ahline jik ra gagasan.
Astane kuwi yo kudu ajeg diwisuhi gunane opo to? Yo ben virus sing tememplek neng astane kuwi biso katut banyu wisuh. Opomaneh kebiasaan tangan reged njur ditemplekne rai, useg-useg kukul, uthik-uthik upil, thithil-thithil slilit, yen kerep diwisuhi kan kuman-kuman kuwi biso sudo. Ora biso ngilangi 100% nanging biso nyudo kan lumayan? Kareben ora kemproh-kemproh banget uripmu, Dhus!
Jane yen dho manut nglakoni prokes ngono kuwi ora perlu ono pembatasan-pembatasan sing kudu diatur dening pamerintah kaya saiki iki. Batasan wae mbok langgar, dhasar kowe ki asu pranakan menungso tenan kok! Pamarentah wis menehi wewates kareben nglakoni PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ora keno lelungan sik, ora kumpul-kumpul sik, ora mudhik sik, transportasi diwatesi nganggo aturan-aturan ketat, nganggo tes-tes Rapid Antigen, swab PCR, kareben podho lerem anggone arep mrono-mrene nular-nularake virus.
Leren sik, neng ngomah wae, rasah kudu mbedhal metu. Sekolah-sekolah wis digawe “prei” kareben sinau neng omah, kantor-kantor wis diberlakukan WFH (Work From Home), nanging kok yo nekad. Malah dho gawe acara, pesto-pesto sing ora nggagas marang protokol kesehatan. Viruse melu pesto, Su!
Udara sudah sedemikian pengap oleh asap kebakaran hutan; sampah plastik membuat cemaran air semakin parah; ibukota negeri juga akan dipindah karena sudah tidak tahan dengan iklim yang semakin pengap; aksi demonstrasi mahasiswa menolak perubahan regulasi peninggalan jaman Belanda memakan korban jiwa; wacana kenaikan iuran jaminan kesehatan juga diprotes; isu rasisme yang menggejolak menyinggung hati sebagian dari penghuni negeri ini juga menimbulkan prahara yang panjang buntutnya; masih banyak lagi hal yang tak dapat disebutkan disini.
Biarlah, mungkin sebagian orang akan menuduh saya pengecut, pecundang, atau jenis binatang tertentu yang mungkin lebih hina dari makhluk paling hina. Tapi saya tetap akan menyusup ke pedalaman untuk sebuah alasan. Sebuah egiosme yang sudah lama tidak saya gunakan, ya sesekali lah egois, karena kepedulian saya kali ini saya pastikan tidak akan ada manfaatnya juga.
Entahlah, apakah hanya saya, yang saat ini tidak lagi bisa membedakan mana kawan, mana lawan? Ketika kawan-kawan baik saya berseteru sedemikian hebat, sementara untuk mendamaikan mereka justru berpotensi menjerumuskan saya dalam situasi yang serba salah. Atau saya yang sedemikian bodohnya memahami situasi saat ini, ketika cibir-mencibir, nyinyir-nyinyiran, serta olok-olok dengan bahasa-bahasa yang mengandung binatang itu sudah menjadi hal biasa saat ini? Sungguh, saya tidak sanggup mendengarnya.
Seperti sudah menjadi kodrat, siapapun pimpinannya, entah itu suatu negara, suatu lembaga, institusi, organisasi, bersiaplah disalahkan. Bersiaplah digunjing, dihina-hina, didiskreditkan, dikambinghitamkan, dianggap mendzolimi, dibully, dan sebagainya.
Menjadi Presiden adalah menjadi orang paling “berdosa” saat ini. Siapapun orangnya. Karena budaya menyalahkan sudah terlanjur mudah menular. Sekaranglah jamannya menyalahkan orang lain. Koreksi diri tidaklah populer. Orang yang mengajak koreksi diri pun dianggap belum tentu bisa melakukan koreksi diri.
Pemimpinlah yang salah. Ada yang salah juga dalam pendidikan dan pelatihan kepemimpinan saat ini. Orang jadi lupa bahwa dia juga harus memimpin dirinya sendiri pada saat yang sama dia memimpin orang lain. Bahkan dia harus bisa memimpin dirinya sendiri lebih dahulu sebelum dianggap bisa memimpin orang lain. Entahlah, bagaimana caranya memimpin diri sendiri itu. Sulit mungkin untuk dibayangkan. Terlalu abstrak!
Apalagi menyalahkan diri sendiri. Itu hampir mustahil. Ego itu di atas segalanya. Sangat anti untuk disalahkan. Yang salah adalah orang lain. Pasti ada pembenaran untuk memperjelas kesalahan orang. Pembenaran pun dicari. Hanya orang-orang yang memiliki kesamaan saja yang bisa berteman. Lainnya musuh! Perbedaan adalah hal yang biasa. Tetapi pemahaman akan perbedaan sudah tidak ada ruang lagi.
Tindakan pencegahan memang tidak pernah populer untuk dilakukan, tidak menarik. Tetapi tindakan pemadaman kebakaran bisa jadi malah disanjung-sanjung.
Orang lebih tertarik mengembangkan tekhnologi pemindaian otak daripada mengembangkan pencegahan penyakit stroke atau kanker. Orang lebih suka berdebat masalah banjir daripada memperbaiki perilaku membuang sampah sembarangan. Orang lebih menghargai upaya menangani kemacetan lalu lintas daripada perencanaan dan pembangunan infrastruktur jalan. Orang lebih memilih peran yang lebih populer dengan fokus pada sebuah akibat langsung daripada mencegah dampak buruk yang belum tampak di muka mereka.
Kita seringkali tidak pernah peduli pada penyebab suatu masalah. Nanti kalau masalah sudah berulang dan terakumulasi, barulah analisis-analisis dilakukan untuk menemukan penyebabnya. Setelah penyebab diketahui, orang pun hanya sekedar tahu saja tanpa bersedia dengan sukarela mengubah perilakunya. Lebih nyaman tanpa perubahan. Perubahan dianggap terlalu menyakitkan. Tetapi ketika melihat fenomena yang terjadi selanjutnya, seolah tanpa dosa, tanpa tahu kalau sebab-akibat itu terus berantai membentuk efek domino yang tidak pernah berakhir.
Menyikapi prediksi semacam ini, saya teringat saat tahun 2011 dulu pernah ada prediksi bahwa dalam waktu 21 tahun ke depan yang namanya “minyak bumi” akan musnah. Dengan jumlah produksi yang semakin menurun, sumber minyak yang semakin terkikis, serta penggunaan yang seperti sekarang (di saat itu), maka mulai 21 tahun ke depan anak cucu kita tidak lagi mengenal apa yang disebut “minyak bumi”.
Minyak bumi sebagian besar digunakan untuk memproduksi bensin dan minyak bakar, keduanya merupakan sumber "energi primer" utama. Namun sekarang belum sampai 21 tahun sejak tahun 2011, kita sudah mulai kehilangan minyak bakar atau yang disebut minyak tanah. Kompor minyak sudah ditinggalkan orang, lalu beralih ke gas sesuai kebijakan pemerintah yang diluncukan pada awal tahun 2007 berupa kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG (Liquid Petroleum Gasses). Menurut Pertamina.com waktu itu, cadangan bahan bakar minyak dunia yang semakin menipis menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk melakukan konversi terhadap bahan bakar gas yang masih tersedia dalam jumlah besar.
Kenyataan tersebut menjadikan pelajaran bahwa prediksi menyangkut isu-isu menakutkan sekalipun, terutama yang menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat banyak, perlu disikapi dengan pikiran positif dan kesiapan mental untuk berubah. Jadi bukan masalah sikap optimis atau pesimis, tetapi lebih skeptis dan obyektif melihat situasi dengan data-data yang ada saat ini. Kita justru harus bersyukur sudah ada yang melontarkan isu seperti itu, menurut saya bukan untuk dilawan dengan opini sendiri lalu menyulut polemik dan nyinyir-nyinyiran di dunia maya. Menurut saya justru bagaimana supaya isu itu tidak menjadi kenyataan di masa datang.
![]() |
| M for Martha Buck |
Tetapi itu adalah cerita lama di Gorontalo, tempat saya membeli martabak untuk terakhir kali sekitar lebih dari tiga tahun yang lalu. Semenjak pindah tugas ke Papua, saya tidak pernah lagi membeli martabak. Saya terlalu asik dengan segala bentuk “kuliner baru” yang khas di tempat itu. “Terlalu asik” bukan karena menikmati, tapi sibuk cari yang cocok. Tiga tahun berlalu, tanpa sadar yang namanya martabak sudah lenyap begitu saja dari ingatan. Sampai suatu saat, di malam tujuh belas Agustus, di Maumere….
Saya tidak tahu lagi dimana bisa mendapatkan martabak di Maumere ini. Apalagi malam telah larut dan sudah dipastikan tidak ada lagi penjual makanan buka pada jam segitu. Jam 21.00 WITA praktis semua penjual sudah tutup, orang-orang segera akan memulai ritual selanjutnya yaitu berkumpul bersama keluarga di depan televisi sebelum akhirnya lelap ditelan sunyinya malam. Walaupun masih ada beberapa kios yang buka, sekedar menjual bahan kebutuhan sehari-hari, tetapi bukan penjual martabak seperti yang saya rindukan.
“Opo to kuwik?”
“Aku sing ngendhangi, kowe sing nyanyi!”
“Weh … wegah! Aku raisoh nyanyi!”
“Yowis, neknu kowe sing ngendhangi…. Ndang!”
“Kedelep…! Kedelep…! Kedelep…!”
“Wakakakakakak……!”
“Lho, malah ngakak?”
“Lucu!”
“Kendhang kok kedelep-kedelep, apane sing kedelep? Aku kok dadi mbayangke sesuatu sing ora-ora.”
“Yen ngono ganti … icikiwirrr… icikiwirrr…”
“Kaya-kayane penak yen dadi pelawak yo? Uripe mung ngakak thok, bayare akeh!”
“Ah, yo ora mesthi! Urip iku katone wang sinawang. Nyawang leliyan katone enak-kepenak, nanging sing nglakoni yo babak bundhas, wong liya ora ngrasakake. Rumput tetangga nampak lebih hijau dari rumput sendiri. Istri tetangga tampak lebih cantik dari pembantu kita di rumah. Rak yo ngono to, Dul?”
“Halah, omongmu ki lho! Nggedhabrus! Wang-sinawang kok malah nyawangi istri tetangga!”
Dengan kondisi seperti itu seluruh pesan WhatsApp (WA) baru masuk pada pukul 02.00 WIT. Ucapan “Selamat pagi!” di hampir semua grup WA sampai dengan “Selamat malam, selamat istirahat semuanya!” masuk secara serentak berurutan pada pukul 02.00 dini hari itu. Itupun hanya sebentar, karena pukul 03.00 ke atas aplikasi chatting itu “sudah tidak bisa dipakai lagi”.
Yang masih bisa menolong adalah aplikasi bernama Telegram. Entah mengapa hanya Telegram saja yang masih tang, ting, tung, sepanjang hari sepanjang malam. Hal ini karena seluruh aktivitas komunikasi kantor menggunakan Telegram. Sedangkan WA, BBM, Facebook, Instagram dan kawan-kawan sama sekali tidak berkutik. Apalagi yang namanya browser itu sama sekali mampet... pet... pet... pet...!
Penjahat itu ada tingkatannya, mulai dari penjahat kelas teri, kelas coro, sampai kelas kakap. Mungkin masih ada kelas-kelas yang lebih tinggi lagi, karena biasanya berlaku juga prinsip di atas langit ada langit. Konkritnya, ada orang yang berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi, biasa disebut maling, ada pula yang terang-terangan merampas hak milik orang lain, biasanya disebut perampok. Dari maling sampai perampok ada serangkaian gradasi yang bervariasi, bisa terselubung juga, seperti yang disebut calo, rentenir, koruptor, penipu, pemalak, penodong, tukang gendam dan sebagainya.
Setiap orang juga memiliki potensi menjadi penjahat. Ada yang bisa menekan kejahatan dalam dirinya sehingga hampir tidak pernah manifes dalam hidupnya, tapi ada juga yang justru hobi melakukan kejahatan. Celakanya, dalam kondisi terbiasa melakukan kejahatan, orang sering tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan jahat. Itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun, jadi tidak masalah, toh yang dijahati juga rela menjadi korban dan tidak pernah mempermasalahkannya. Apalagi kalau orang-orang sekitarnya juga melakukan hal serupa. Pasti anggapannya,"Gak masalah kok, banyak yang melakukan itu. Kalau dianggap salah, berarti semua orang itu juga harus dihukum, itu tidak mungkin. Jadi pasti dibolehin." Padahal yang namanya kesalahan itu juga bisa bersifat massal.
Engkau telah berguru kepada keledai dungu itu selama bertahun-tahun, maka kinipun kau tak lagi bisa membedakan kasih sayang dengan kekejaman. Bagaimana bisa, ketika kau sudah dihempaskan, diludahi, dihina, dan disiksa, lalu kaubalas dengan tempat teduh yang berisikan kasih sayang itu?
Dari dulupun aku hanyalah angin yang jauh. Yang berhembus tak tentu arah dan waktu. Hanya terkadang mampu terbang menghampiri di saat masih cukup tenaga dan waktu. Begitu juga dengan hujan, di saat musimnya tidak datang, akupun hanya bisa diam. Menunggu dan bersabar.
Masih embun pagi jugalah aku. Bening, kosong, tercerai-berai dari luapan rindu yang menggumpal. Tapi akan selalu membeku selama kehangatan itu tidak pernah terbit. Hanya hujan yang terus berbicara. Seperti tangismu. Terisak dalam kegetiran.
Akhir-akhir ini lemotnya jaringan semakin bikin putus asa. Aplikasi fesbuk yang biasanya menghadirkan berita-berita yang biasanya di-share oleh teman-teman, sekarang tidak terasa lagi. Yang ada hanyalah berita basi yang sudah banyak dikomenin dan sudah nggak dibahas lagi.
Dalam pekerjaanpun, koneksi internet semakin membikin tambah stress. Download lampiran dari e-mail seringkali terputus dan tidak bisa terbuka alias corrupt. Walaupun kadang koneksi terasa begitu lancar, tapi seringkali juga putusnya sedemikian lama. Kalau misalnya saya harus mengirimkan laporan yang sudah mendekati deadline-nya, ini merupakan hal paling memusingkan dan bikin frustasi.
Pada saat yang sama datanglah php (pemberi harapan palsu) berupa hadirnya tekhnologi baru sinyal 4G LTE yang katanya super-cepat. "Sinyal Internet seluler" generasi ke empat "Long Term Evolution" itu pastinya akan diklaim sebagai sarana koneksi internet paling cepat saat ini. Kehadiran koneksi 4G LTE (Long Term Evolution) diyakini mampu meningkatkan produktivitas rakyat disegala bidang.
Luwih cethane, kabeh tokoh politik uga mata dhuwiten saengga saben-saben obah tangane mesti kudu nampa dhuwit sing diarani komisi resmi utawa komisi ora resmi. Dene komisi resmi bisa wae dianggep wis sarujuk karo paugeran saengga ora dianggep korupsi. Dene komisi ora resmi kaya sogok-sogokan wis cetha yen kuwi nerak paugeran. Nanging yen kabeh padha nerak paugeran mangka dianggep lumrah-lumrah wae.
Wis ora bisa dibantah maneh yen kabeh anggaran proyek dadi bancaan dening kabeh tokoh politik sing ana ing legislatif lan eksekutif. Pokoke kabeh mesti padha-padha nampa jatah saben-saben ana proyek.
Ah, sayang mengapa harus hilang. Mungkin masih era floppy disk dan saya juga belum memiliki flashdrive, hard disk, bahkan komputer, apalagi laptop. Saya juga belum mengenal shared-drive yang dikenal dalam cloud computing sekarang ini. Jadi sayapun merelakan catatan itu hilang begitu saja.
Saya pernah mencetaknya, membuatnya dalam format buku kecil, mirip novel. Waktu itu tahun 2001. Tapi entah di mana saya juga sudah tidak tahu lagi juntrungannya. Semuanya tidak berbekas. Hanya beberapa kata dan frase yang sempat kuingat. (Buat TJ, kalau masih punya catatanku, pinjam donk!)
Dalam kata-kata itu saya sepertinya sudah mulai merasakan bahwa kesetiaan kedepan menjadi sesuatu yang langka. Akan ada jamannya dimana kesetiaan itu musnah, seperti dinosaurus yang punah ditelan jaman. Mungkin saja jaman itu adalah jaman sekarang ini!
Sepertinya sekarang sudah bukan lagi jamannya untuk setia. Kesetiaan pada idealisme politik saja tidak kelihatan, tidak ada bedanya dengan setia pada pasangan. Pindah-pindah partai sudah biasa, seperti ganti baju saja. Tentunya banyak juga yang memiliki “cadangan” di mana-mana.
Kalau sudah begini baru tau rasanya, kalau waktu itu cepet banget muternya. Perasaan baru kemarin saya bikin resolusi, sekarang sudah harus dievaluasi. Sungguh malu kalau tahu kesenjangan antara resolusi dan realitanya. Untung aku nggak ungkapkan apa resolusi itu. Hari ini saya benar-benar malu sama diri sendiri. Achievement saya nol besar.
Yaah... gagal itu sih biasa (ini mau ngeles apa ekskyus yach?). Tentu segala sesuatu ada sebabnya. Kenapa sampai gagal? Ada sih. Sesuatu yang sangat nyata sekali. Sebuah kesalahan paling besar yang pernah saya ambil dalam hidup saya. Entah berapa lama waktu yang akan dibutuhkan buat membenahinya kembali. Tentu saja harus pelan-pelan.
Dalam hidup ini kita kan mengenal yang namanya cobaan, ujian, hambatan, rintangan, gangguan, godaan, tantangan, ... apa lagi ya? Semua itu bisa terjadi bergantian maupun bersama-sama. Hehe... nih critanya ngeles beneran deh!
Tapi bener loh, seseorang mungkin tangguh dalam menghadapi cobaan, ujian, hambatan, rintangan, gangguan bahkan godaan sekalipun. Tapi dia tidak suka tantangan. Maka suatu ketika dia akan merasa kalah ketika melewatkan tantangan yang ditawarkan kepadanya. Penyesalanpun timbulnya belakangan.
Kegelisahan melanda, seperti sunyi yang selalu mengajak perasaan untuk senantiasa resah. Cinta yang diharapkan selalu menjadi penghibur, pengisi hati, pikiran dan jiwa, seakan sudah tidak ada lagi. Mimpi itupun perlahan sirna. Harapan semakin jauh, tak tergapai. Hingga suatu ketika sampailah pada masa dimana keberanian untuk mengutarakan keinginan bersama mencapai tujuan itu sudah tidak ada lagi.
Kebersaman kian terasa semakin abstrak. Sepi selalu menyelimuti. Segala problema dihadapi sendiri-sendiri tanpa adanya sinkronisasi. Hanya tuntutan kewajiban yang terus menerus diminta. Walau kecukupan masih memadai namun jelas terjadi kesenjangan prioritas masing-masing pribadi. Tidak terlihat kejelasan masa depan yang menyatu. Kebersamaanpun makin pudar, luntur, antara ada dan tiada.
Maunya semua dibiarkan mengalir begitu saja. Tetapi ganjalan-ganjalan itu membuat friksi yang semakin mengiris hati. Menjaga dan mengatur perasaan serta pikiran agar senantiasa positif merupakan hal yang tidak selalu mudah dilakukan. Ibarat menaklukkan diri sendiri dan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, tidak semua orang mampu melakukannya dengan sempurna.





















