Gorontalo banget


Apa ya wis dadi patrape, wong kok tansah ngajak ing pasulayan. Tembunge kaya becik-becika dhewe. Kamangka biyene jare dadi wong kang luhur ing ngelmu. Kok ora katon tilase barang sethithik.

Zamrud di katulistiwa yang kita kenal ini merupakan untaian kepulauan di sepanjang Nusantara yang selalu menjadi idaman bangsa-bangsa di dunia sejak zaman dahulu kala.
Sejarah juga menceritakan kejayaan zaman Kerajaan Sriwijaya (683-1293 M) dilanjutkan dengan Kerajaan Majapahit (1293-1500 M) yang menguasai hampir seluruh Kepulauan Nusantara tersebut. Selanjutnya kegemilangan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit berakhir setelah terpecah menjadi beberapa kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara.

Terpecah-pecahnya bangsa ini kemudian dimanfaatkan oleh bangsa lain dengan datangnya kompeni, seperti Belanda, Portugis, Inggris, dan terakhir Jepang. Akhirnya nusantara secara silih berganti menjadi jajahan atau kolonialisasi bangsa-bangsa tersebut di atas. Kekayaan alam yang berlimpah menjadi motivasinya, dengan kondisi yang terpecah-pecah begitu dengan mudah bangsa kita ditaklukkan.

Semangat dan kesadaran untuk bersatu kembali sebagai suatu bangsa yang berdaulat, bangsa yang besar, dan mempunyai harga diri kemudian timbul. Dengan seluruh daya upaya dan perjuangan sampai tetes darah penghabisan, dari segenap tumpah darah Indonesia akhirnya bangsa ini lepas dari belenggu penjajahan tahun 1945.

Bangsa ini telah memproklamasikan kemerdekaannya sebagai Bangsa Indonesia. Sekarang bangsa ini telah merdeka lebih dari 63 tahun atau lebih setengah abad. Bahkan telah melewati tiga fase kritis: fase perjuangan fisik untuk keluar dari belenggu penjajah 1945, fase revolusi tahun 1966, dan fase reformasi tahun 1998. Tetapi, tanda-tanda kemakmuran seluruh tumpa darah Indonesia masih jauh dari harapan.

Dengan realitas seperti ini berarti ada yang salah dalam manajemen kenegaraan kita. Kesalahan tersebut yang berakibat kepada keterpurukan Indonesia hingga jatuh ke lembah krisis multi dimensional, seperti: krisis keuangan, krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan, krisis keamaan, krisis sistem pendidikan, bahkan pernah terjadi krisis pangan.

Walaupun telah dibentuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) namun sampai dengan sekarang masih merajalela korupsi, kolusi, dan nepotisme di tengah masyarakat. Tentunya merupakan ironi karena ketiga isu ini menjadi faktor utama jatuhnya Orde Baru dan menjadi pilar bangkitnya fase Reformasi.

Untuk keluar dari berbagai masalah di atas tentunya aspek kepemimpinan nasional menjadi faktor yang sangat penting. Bahkan boleh dikatakan sebagai faktor dominan. Salah satu buah dari reformasi adalah berubahnya sistem pemilihan umum.

Pemilihan umum yang merupakan pesta demokrasi yang seharusnya disukseskan oleh seluruh komponen bangsa. Kesuksesan pemilihan umum ini, baik berupa pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia; tentunya merupakan momentum yang sangat tepat untuk mengubah wajah bangsa Indonesia untuk periode 5 tahun mendatang. Kesalahan memilih pemimpin tidak mustahil akan mengembalikan bangsa ini ke urang keterpurukan yang lebih parah dari sebelumnya.

Oleh sebab itu sudah saatnya berbagai kompenen bangsa berpartisipasi dalam pemilihan umum tersebut, dan menentukan pilihannya sesuai hati nurani, yaitu memilih pemimpin yang bisa memperbaiki bangsa indonesia menjadi bangsa yang maju, beradab, makmur, adil, dan sejahtera, serta sentosa.

Pemimpin yang bisa mengemban amanah tersebut di atas adalah pemimpin idaman seluruh bangsa yang setidaknya memenuhi kriteria ideal yaitu:

1. Mempunyai visi; yang memiliki pandangan yang jauh ke depan dan mampu memberikan landasan yang tepat untuk melanjutkan estafet pembangunan nasional untuk sampai kepada cita-cita bersama bangsa Indonesia.

2. Mempunyai program yang konkrit dan dapat mengimplementasikan nya secara nyata untuk mengatasi Krisis multi dimensional (Ekonomi, Politik, Kesehatan, Pendidikan, Moral, Pertahanan Keamanan).

3. Memperlihatkan secara nyata pemihakan terhadap Kemajuan dan keunggulan Komparatif Bangsa.

4. Dalam Prinsip Moral, tidak pernah melakukan tindakan tindakan yang melanggar moral seperti (Korupsi, Pelanggaran HAM, dan lain-lain).

5. Secara Politik Mempunyai kekuatan yang signifikan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai penyambung suara rakyat, dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

6. Dapat bertindak dan mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang telah muncul dan kemungkinan akan mencul di masa depan.

7. Dalam setiap tindakannya selalu mengutamakan kepentingan seluruh bangsa Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya.

Jika kriteria di atas terpenenuhi tidak mustahil 5 tahun ke depan Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang makmur sejahtera. Disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia dalam percaturan Internasional. Bahkan akan menjadi Bangsa "Baldathun Tayibathun Warrabbur Ghafur".

Mari kita memilih pemimpin ideal dan terbaik bagi bangsa tercinta.

Hari Senin, 30 Maret 2009 - Akhirnya semua berjalan sesuai rencana. Plan B! Wow! Seru nih!

Emang sih niatnya nggak mau nolongin sendiri. Rasa sakit sudah dimulai sejak jam 10 malam. Karena rasa sakitnya masih jarang-jarang, jadi baru jam 12 malam dibawa ke klinik bersalin. Sesampainya disana saya percayakan sepenuhnya kepada bidan-bidan yang bertugas, karena saya pikir mereka sudah profesional dan jauh lebih tinggi jam terbangnya dalam hal menolong persalinan. Sehingga ketika mereka katakan bahwa belum ada pembukaan dan persalinan masih lama, ditambah rekomendasi untuk tidak masuk rawat inap (pulang dulu saja) ya pulanglah kami. Bahkan sebelum pulang masih sempat makan malam di warung Ikan Bakar dekat klinik situ.

Sesampainya di rumah, seperti dugaanku, nyeri yang dirasakan istriku datang semakin sering. Jeritannya pun semakin keras. Karena petugas di klinik mengatakan bahwa persalinan mungkin masih lama, perkiraanku siang hari baru akan bersalin.

Namun setelah bertahan sampai kira-kira 5 jam, tepat pukul 5 pagi menurutku saat yang tepat untuk kembali ke klinik. Aku bergegas ke kantor untuk mengambil mobil kantor. Membangunkan penjaga malam yang sedang tertidur di kantor merupakan tantangan pertama. Setelah terbangun, pintupun dibuka. Tantangan selanjutnya mencari kunci mobil itu. Biasanya sih di ruang Kepala Seksi Administrasi/Keuangan. Takutnya ruangannya terkunci juga, takutnya lagi laci tempat menyimpan kunci itu juga terkunci lagi. Wah... makin banyak lagi tantangannya nih.

Mobil pun akhirnya sempat kubawa ke rumah. Persiapan selanjutnya memasang perlak plastik di kursinya, agar bercak darah yang muengkin keluar tidak mengotori kursi dan interior mobil yang berfungsi untuk Customer Service itu.

Semua keperluan sudah terpaking rapi di travel bag. Tinggal naik!

Saat kuhampiri kamar istriku, jeritan terdengar paling keras dari yang tadi kudengar. saat kuajak berjalan ke mobil, istriku kelihatannya sudah tak sanggup lagi. Putar otak karena aku tak kuasa mengangkat istriku seorang diri, sementara orang-orang masih tertidur lelap di jam sepagi itu. Tangankupun langsung meraih handphone di saku celana dan memanggil seorang petugas kesehatan di Puskesmas yang kukenal sebagai istri seorang rekan kerja di perusahaanku. Harapanku beliau bisa memanggil bidan untuk istriku. Bakalan lahir di rumah nih!

Air panas! Ya, itulah yang sekarang juga harus disiapkan. Seorang mahasiswi yang memang disiapkan oleh istriku untuk tinggal di rumah dalam rangka persiapan persalinannya kusuruh memanaskan air. Sementara aku mempersiapkan alat-alat yang kuperlukan sesuai plan B. Karena jika sang bidan tak kunjung datang, aku harus menolong sendiri persalinan ini.

Betul juga perkiraanku. Bidan itu belum datang juga dan istriku sudah tidak mengerang lagi. Katanya sudah tidak sakit lagi, tetapi ia tak kuasa menahan "sesuatu" yang hendak keluar dari perutnya itu. Tak lama kepala sang bayi pun tampak di "pintu keluar". Kusuruh istriku sedikit mengejan untuk segera mengeluarkan bayi secara keseluruhan agar tidak terlalu lama terjepit di jalan lahir.

Pukul 5 lewat 55 menit. Hampir jam 6 lah! Sang bayipun meluncur keluar dan segera kubalik dari posisinya yang tengkurap. Seorang bayi mungil yang masih dilumuri bercak darah dan serpihan vornix caseosa itu membuka mulutnya dan terpejam. Tak lama kemudian tangisan keras meledak dalam kamar... Alhamdulillaah... Perempuan lagi!

Semoga guntingku ini sudah cukup steril hanya dengan lumuran Betadin. Sebuah klem menjepit tali pusat di sebelah sang ibu, dan ikatan kassa steril terlumur Betadin di sebelah sang bayi. Ditengah-tengah, guntingku siap memenggalnya. Bismillaahirrahmaanirrahiim... Putus!

Segera kubalut sang bayi dengan kain yang sudah siap kemudian kudekatkan di sebelah kanan ibunya.

Rupanya tangis sang bayi membangunkan tetanggaku. Mereka datang tepat bersamaan dengan sang bidan. Masih kusisihkan pekerjaan buat bu bidan: melahirkan plasenta.

Air panasnya sudah siap, taruh di ember lalu ditambah air dingin sampai cukup hangat.

Rupanya ibu petugas kesehatan yang datang bersama bu bidan sudah lebih lihai memandikan bayi. Kupasrahkan pada beliau untuk memandikannya. Akupun cukup melihat-lihat apa yang perlu dibereskan.

Hmm... Well!