Rupanya berita soal tuduhan yang ditujukan kepada Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari atas dua video mesum yang disebut-sebut pemerannya mirip mereka, kini menjadi topik heboh ditengah masyarakat, terutama para penggosip dan sejenisnya. Bareskim Mabes Polri pun sampai turun tangan untuk mengusut siapa yang menjadi otak dan pelaku penyebaran pertama kali video ini, begitupun pembuatnya.

Di era tekhnologi sekarang ini, dimana pertukaran dokumen elektronik begitu mudah dilakukan, video yang bocor itu juga bisa dengan mudah disebarkan ke mana-mana. Tak susah-susah amat orang menemukannya di situs-situs pertukaran dokumen di dunia maya. Begitu sebuah video porno diunggah, tak butuh keajaiban untuk menyebarkan dalam tempo singkat. Jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter merupakan sarana yang sangat ampuh untuk mempopulerkannya.

Lebih celaka lagi, konsumen terbesar materi pornografi adalah anak SD, SMP, dan SMA. Merekalah sebenarnya konsumen utama dunia maya. Dokumen-dokumen yang paling tersembunyi pun bisa mereka temukan. Bahkan hanya dengan sekali klik, mereka bisa bertukar-menukar dokumen berupa gambar atau video antar teman.

Nah, giliran para orang tua yang memiliki anak remaja jadi pusing! Anak-anak yang sebenarnya belum matang secara psikologis dan sosial ini bukan tak mungkin akan mencontoh adegan porno yang beredar melalui Internet, handphone, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu saya menerima surel dari seorang teman. Dia minta saya menanggapi artikelnya sebelum diterbitkan, yaitu tentang Atheisme yang dianggapnya sebagai pemikiran tidak rasional.

Sebelumnya saya mohon maaf kalau saya berpendapat: apa tidak kesiangan nih, bicara tentang Atheisme? Di tengah kehidupan masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, kita sudah sama-sama tahu semua orang menganut agama dan berusaha menghormati kebebasan menjalankan Agama masing-masing. Kita saling bertoleransi antar agama, walaupun kadang terjadi adu argumen tentang kebenaran agamanya masing-masing. Tapi saya tidak pernah berjumpa orang yang jelas-jelas tidak percaya adanya Tuhan. Jadi, buat apa bicara tentang Atheisme?

Tapi membaca tulisan itu saya jadi ragu dengan pendapat saya tadi. Jangan-jangan memang ada atheisme laten? Jangan-jangan ada orang yang diam-diam tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi mereka takut eksis lantaran mereka bisa dianggap berbahaya dan takut diperlakukan sebagaimana para penganut komunisme dulu? Lalu mereka hanya menganggap agama hanya sebagai trend yang harus diikuti.

Kalau di luar negeri, apalagi Amerika, saya tidak heran. Di negara yang benar-benar bebas seperti itu apapun bisa terjadi. Diantara mereka memang menganut Freedom to be Free. Kalau di Indonesia, misalnya ada, bisa jadi orang ini memang orang bodoh, atau justru orang yang sangat pintar.

Dulu aku pernah terobsesi untuk memiliki empat istri dalam hidupku. Sepintas hal ini seperti sebuah obsesi yang berlebihan. Tapi tidak kusangka obsesiku itu ternyata sudah lama terwujud. Sekarang empat istriku dapat hidup berdampingan dengan harmonis dalam sebuah kehidupan yang benar-benar aku idamkan.


Istri keempatku adalah istri yang paling aku cintai. Dialah istri yang paling cantik. Hidup bersamanya menjadikan rejeki terus mengalir. Harta benda dan kesenangan seolah berlimpah ruah dan tidak pernah menderita kekurangan sedikitpun. Tidak perlu lagi berpikir besok akan makan apa, melainkan besok makan dimana.

Istri ketigaku sangat pintar. Ia tidak hanya pandai mengatur rumah tangga, tapi juga banyak memberi inspirasi dalam pekerjaanku di kantor. Aku selalu bangga padanya. Karena dia jugalah kehidupanku di tengah-tengah masyarakat senantiasa dihormati oleh banyak orang. Mereka tidak hanya sekedar mengakui eksistensiku, melainkan sudah menganggapku lebih. Tak heran aku sering dianggap pemimpin bagi mereka. Tapi jujur, aku sering merasa khawatir kalau istriku ini akan lari ke orang lain.