Kebahagiaan itu tidak untuk dicari, melainkan diciptakan. Bahagia itu sederhana, tidak perlu hal-hal rumit dan mewah untuk bahagia. Tinggal melakukan aktivasi dari dalam hati. Hanya perlu tahu caranya.

Itulah sebenarnya awal dari adanya fenomena yang belakangan ini mendadak booming. Terlepas dari memboomingnya fenomena ini, asal-usul dari aktivitas ini adalah semata-mata suatu proses menciptakan kebahagiaan.

Sejauh ini saya juga nggak ngerti kenapa berbagai fenomena di era informasi ini datang dan pergi begitu sporadis dan dramatis. Mulai dari fenomena Keong Racun, Briptu Norman, dan mungkin sudah banyak yang kita lewatkan, giliran yang barusan merebak dalam 3 hari ini adalah fenomena “Om Telolet Om”.

Sebenarnya sudah agak lama fenomena ini muncul. Pada bulan November lalu mulai merebak di Facebook tentang video yang berisi anak-anak dan para muda-mudi ramai berdiri di pinggir jalan Ngabul, Jepara, Jawa Tengah. Mereka berteriak, “Om, telolet, Om!” pada setiap bus AKAP (antar kota-antar provinsi) yang lewat. Maksudnya adalah meminta si Supir bus untuk membunyikan klaksonnya. Bus AKAP memang memiliki bunyi klakson yang khas, berupa suara “telolet” yang sangat keras. Maka saat klakson dibunyikan oleh bus sambil berlalu, anak-anak itu berteriak kegirangan.

Bulan ke-7 dan bulan ke-10 tahun ini merupakan bulan paling muram bagi masyarakat Jayapura dan sekitarnya dalam hal koneksi Internet. Pada bulan Juli 2016 sempat terjadi putus koneksi sampai sekitar seminggu, baik internet seluler maupun yang melalui saluran telepon. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2016 hal itu terulang lagi sampai dengan 11 November 2016. Hampir sebulan warga Jayapura mengalami kesunyian maya. Bahkan rencananya perbaikan kabel bawah laut itu direncanakan sebulan penuh, sehingga baru bisa nyambung lagi tanggal 18 November 2016. Kalaupun ada koneksi dikit-dikit itu cuma back-up koneksi via satelit yang tidak begitu membantu.

Dengan kondisi seperti itu seluruh pesan WhatsApp (WA) baru masuk pada pukul 02.00 WIT. Ucapan “Selamat pagi!” di hampir semua grup WA sampai dengan “Selamat malam, selamat istirahat semuanya!” masuk secara serentak berurutan pada pukul 02.00 dini hari itu. Itupun hanya sebentar, karena pukul 03.00 ke atas aplikasi chatting itu “sudah tidak bisa dipakai lagi”.

Yang masih bisa menolong adalah aplikasi bernama Telegram. Entah mengapa hanya Telegram saja yang masih tang, ting, tung, sepanjang hari sepanjang malam. Hal ini karena seluruh aktivitas komunikasi kantor menggunakan Telegram. Sedangkan WA, BBM, Facebook, Instagram dan kawan-kawan sama sekali tidak berkutik. Apalagi yang namanya browser itu sama sekali mampet... pet... pet... pet...!

Mendengarkan nyanyian John Legend yang berjudul All of Me pada awalnya saya tidak tertarik. Kemudian sesuatu terjadi....

Lagu itu sering terdengar di tempat orang jualan CD (compact disc, maupun celana dalam), di mall, di swalayan, hypermarket, di radio mobil, bahkan di dalam pesawat terbang. Saya tidak menyukai musik piano yang "duet" dengan vokal seperti itu. Apalagi lagunya slow begitu. Rasanya tidak sabar saja untuk mendengar lagu selanjutnya. Andaikan lagu itu mengalun di gadgetku, bisa kupastikan aku menyentuh tombol "next" dan membiarkannya berlalu.

Telinga saya lebih menikmati suara instrumen (sound) daripada suara penyanyinya (voice). Walaupun tidak semua permainan musik instrumentalia bisa saya nikmati, tetapi vokal yang tidak dominan dengan aneka suara instrumen musik yang mengiringinya lebih enak terdengar bagi saya. Kalau ada lagu yang tidak menggunakan intro musik, melainkan vokalnya yang mendahului, saya tidak begitu tertarik untuk mendengar keseluruhan lagu itu sampai selesai.

Kemarin iseng membeli DVD instrumentalia biola. Violistnya bernama Lindsey Stirling. Sudah lama tidak menikmati biola setelah dulu pernah memutar grup musik Bond dengan permainan kuartet biola rame-rame yang terkenal dengan lagunya yang berjudul Victory.

Sejujurnya saya takut menggunakan judul ini. Karena ketika kita menyebut kata "pulang", bisa berarti pulang yang sesungguhnya: pulang ke rumah; tapi bisa jadi pulang entah ke mana. Pasalnya saya jadi kehilangan makna "pulang" itu sendiri. Tidak tahu ke mana saya akan "pulang" dalam maksud yang sesungguhnya. Saya memiliki rumah, tetapi dalamnya kosong tanpa cinta, tanpa derai tawa, tanpa penghuni. Kalaupun saya "pulang" ke rumah ini, tentu bukanlah "pulang" yang saya maksudkan. Apa sejatinya "pulang" itu?

Beberapa waktu lalu saya bisa menyempatkan diri "pulang" ke Gorontalo dan tinggal sehari semalam di rumah penuh kenangan itu. Rumah kecil yang sederhana, tapi benar-benar terawat, bersih dan tidak berbau. Hanya saja instalasi listriknya jadi sedikit berantakan akibat beberapa saklar yang sudah aus dan mengalami malfungsi. Yang pernah menempati rumah ini menambahkan beberapa helai kabel yang melintang pukang di atas ruang tamu, sehingga pemandangan menjadi tidak sedap, tidak rapi. Saya datang ke sana sibuk membenahi kembali. Sayang tidak selesai, tidak cukup waktu, disamping peralatan yang serba terbatas.

71

Aku kembali bertemu dengan pagi yang bening ketika jam dinding menggeliat sambil bermalas-malasan. Kuraih ponsel untuk menyimak serangkaian notifikasi yang menyerbu di sisa sore kemarin. Tak ada yang istimewa. Karena seperti biasa, minggu ini akan padat sebagaimana minggu-minggu sebelumnya. Yang perlu dipersiapkan hanyalah fisik. Maka akupun segera mempersiapkan sebutir telur rebus dan secangkir teh hangat manis untuk bekal tubuh menghadapi aktivitas pagi sampai setengah hari nanti. Berharap cukup sampai siang nanti, saat waktunya mengisi perut tiba.

Aku berjalan diantara puing-puing yang tak kukenali kembali. Rasanya tantangan begitu besar untuk terus mengikis rasa sabar. Harus pandai mengukur diri terhadap ke mana arah angin bertiup. Harus tahu kapan mesti mengalir seperti arus, kapan harus bertahan seperti ikan yang berenang melawan derasnya aliran. Akhirnya akupun harus memaknai puisi karya Darwin itu, untuk bertahan dikala adaptasi harus terus dilakukan di tengah derasnya perubahan.

Lalu terdengar pula nyanyian Einstein, manakala berharap hasil yang berbeda dengan cara yang sama hanya dilakukan oleh orang gila. Lagu lama yang benar-benar populer kembali akhir-akhir ini. Ah, persetan sajalah. Ada banyak ragam kegilaan yang tidak harus demikian. Ada sisi kegilaan di setiap diri manusia, yang kadang keluar tanpa disadarinya, kadang juga disengaja. Bahkan untuk sebuah mahakarya sering dibutuhkan kegilaan yang disempurnakan. It’s a perfect insanity!

Ini ngomong apa sih? Sedang belajar bahasa Inggris apa gimana? Coba deh, baca sekali lagi terus coba artikan. Ooh… setelah dibaca beberapa kali barulah ngeh maksudnya. Yaitu ungkapan basa Jawa yang bunyinya “ Ngono yo ngono, ning aja ngono”. Indonesianya: Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Maksudnya: boleh seperti itu, tapi kalau bisa jangan melakukannya. Bingung kan? Nah, coba kita uraikan lagi deh. Bahasa Inggrisnya tentu tidak seperti itu. Tapi untuk memahaminya kita simak dengan teliti deh. Yuk…?

Dalam hidup ini kita punya hak-hak tertentu yang memang boleh kita nikmati. Orang lain juga punya hak. Kadang dalam menggunakan hak kita, kita sering berbenturan dengan hak orang lain. Maka dalam hal ini kita seyogyanya mengalah. Dalam arti, kita gunakan hak kita sebatas tidak mengganggu hak orang lain. Tahu sama tahu, lah. Tepa selira, toleransi, berempati kepada sesama, tidak egosentris, itu semua ada kaitannya dengan hal ini.

Kalaupun terpaksa harus menggunakan hak kita, supaya tidak menimbulkan masalah bagi yang haknya terganggu, tentu saja ada cara-cara musyawarah diantara pihak-pihak yang terlibat. Sama-sama sepakat untuk menemukan win-win solution sebagai hasil musyawarah, ciri khas dari budaya luhur kita yang berlandaskan Pancasila. Ngeeek…!

Sudah jelas kan? Kita boleh begitu (menggunakan hak), tapi ya jangan begitu juga (memaksakan kehendak atas nama hak yang jelas mengganggu hak orang lain). Kecuali dibicarakan terlebih dahulu. Itu makna sebenarnya.

Cemberut.... Di mana-mana orang menunjukkan wajah cemberut. Di trotoar orang-orang berjalan cemberut. Di pasar-pasar, orang-orang berjualan menunggu pelanggan dengan wajah cemberut. Di terminal bus antar kota, orang-orang pasang muka cemberut. Para pengendara motor berhenti di lampu merah, mukanya cemberut. Di dalam taksi, sopir dan penumpangnya sama-sama cemberut. Di ruang tunggu bandara, orang-orang duduk berderet dengan wajah cemberut. Di kantor, bos-bos cemberut, anak buah pun cemberut. Mulai dari top manager sampai cleaning service semua cemberut.

Mengapa hari ini tiba-tiba semua orang cemberut? Aku seperti melewatkan sesuatu. Adakah mungkin hari ini ditetapkan sebagai hari cemberut nasional? Hari ini mungkin telah terjadi inflasi? Hari ini ada bencana di belahan bumi tertentu? Ada wabah? KLB? Pageblug?

Sepertinya semua orang benar-benar telah terkena wabah cemberut. Hanya anjing saja yang tidak cemberut. Anjing putih belang hitam mengais sampah, lalu ngeloyor tanpa hasil. Wajahnya tetap berseri-seri, menjulurkan lidahnya sambil berlari-lari kecil, sesekali mengedus-endus di sana-sini.

Oh, entahlah. Lama-lama aku ketularan cemberut juga, sama dengan mereka. Tapi mengapa mereka harus mempengaruhi aku? Kok aku jadi ikut-ikutan? Urusan mereka kan bukan urusanku? Tidak ada alasan untuk cemberut bagiku, maka, aku tidak perlu cemberut. Akupun tersenyum. Meringis. Tertawa. Hahahaha. ….

Setiap akhir pekan, ada saja sesuatu yang unik di Chaoyang District, Beijing sana. Kali ini ada wanita cantik dan seksi tampak menyusuri jalanan sambil menuntun seekor sapi. Ini bukan sebuah atraksi, wanita itu sengaja membawa hewan tersebut untuk diperah susunya lalu dijual ke pengguna jalan yang kebetulan lewat. Wow....!

Aktifitas itu spontan langsung jadi pusat perhatian warga Beijing. Banyak yang sengaja datang membeli susu perahan itu. Begitu larisnya, wanita seksi penjaja susu itu kadang tak mampu mencukupi kebutuhan para konsumennya. Laris manis!

Ketika sedang berjualan, sang wanita memperbolehkan para pelanggannya untuk memerah susu sendiri. Jika ada yang tak bisa, barulah ia turun tangan untuk memandunya. Demikian dilansir Shanghaiist.

Beberapa pembeli kabarnya ada yang langsung menenggak susu tersebut di tempat, namun ada pula yang tampak ragu dengan alasan keamanan. Sehingga disediakan juga dalam kemasan kotak untuk dimasak terlebih dahulu. Untuk tiap kotaknya, susu berlogo Organic Milk itu dibandrol dengan harga 8 Yuan atau setara 16 ribu rupiah.

Semua orang percaya akan Surga. Tempat di akhirat yang sarat kenikmatan kekal abadi yang dijanjikan untuk para manusia setelah berakhir kehidupan dunia. Tentu saja yang bisa masuk ke sana yang timbangan amalnya memenuhi syarat. Yang tidak lolos kualifikasi terpaksa harus dijebloskan ke tempat lain yang katanya enggak enak banget!

Sejatinya manusia belum pernah ada yang sudah melihat Surga, sehingga mereka menggambarkannya dengan keindahan-keindahan yang biasanya ada di dunia. Walaupun disadari bahwa surga dunia tidak seberapa kalau dibanding surga yang sesungguhnya, tapi orang banyak yang terbuai dengan keindahan dan kenikmatan duniawi. Maka banyak yang terbuai oleh surga dunia itu dan malah justru melupakan surga yang di sana. Jangan lah....

Salah satu cerita yang sempat kita dengar tentang Surga adalah bahwa ketika kita memikirkan sesuatu, menginginkan makanan misalnya, maka makanan itu akan datang sendiri kepada kita. Sampai seperti itu kenikmatan yang ada di surga sana, katanya lagi nih.


Pagi masih berpalut kabut ketika renda-renda awan bergelombang seperti rindu di hati.
Kemudian seperti genderang tertabuh detik-detik waktu terus menghunjam tanpa ampun.
Seperti sepasang burung terbang rendah menggapai harapan kecil yang sederhana.
Di permukaan bening itu terpantul cahaya keheningan yang tidak lagi sempurna.

Semburat jingga di angkasa mengingatkanku kepada rona merah di pipimu.
Gerimis yang kemarin tak lagi hadir seandainya angin bertiup seperti sedia kala.
Jangan kauhiraukan lambaian luka di dalam mimpi, keruhkanlah dengan kelabu.
Hanya sedikit pedih menanti gerhana hati berlalu sambil bersenandung rindu.


Kita tahu dan percaya bahwa semua jenis profesi di dunia ini adalah mulia, kecuali penjahat. Kita boleh jadi apa saja asalkan jangan sampai menjadi penjahat. Anak kecil yang selalu ditimang-timang orang tuanya, selalu diharapkan besarnya menjadi orang yang berguna, bukan jadi penjahat.

Penjahat itu ada tingkatannya, mulai dari penjahat kelas teri, kelas coro, sampai kelas kakap. Mungkin masih ada kelas-kelas yang lebih tinggi lagi, karena biasanya berlaku juga prinsip di atas langit ada langit. Konkritnya, ada orang yang berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi, biasa disebut maling, ada pula yang terang-terangan merampas hak milik orang lain, biasanya disebut perampok. Dari maling sampai perampok ada serangkaian gradasi yang bervariasi, bisa terselubung juga, seperti yang disebut calo, rentenir, koruptor, penipu, pemalak, penodong, tukang gendam dan sebagainya.

Setiap orang juga memiliki potensi menjadi penjahat. Ada yang bisa menekan kejahatan dalam dirinya sehingga hampir tidak pernah manifes dalam hidupnya, tapi ada juga yang justru hobi melakukan kejahatan. Celakanya, dalam kondisi terbiasa melakukan kejahatan, orang sering tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan jahat. Itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun, jadi tidak masalah, toh yang dijahati juga rela menjadi korban dan tidak pernah mempermasalahkannya. Apalagi kalau orang-orang sekitarnya juga melakukan hal serupa. Pasti anggapannya,"Gak masalah kok, banyak yang melakukan itu. Kalau dianggap salah, berarti semua orang itu juga harus dihukum, itu tidak mungkin. Jadi pasti dibolehin." Padahal yang namanya kesalahan itu juga bisa bersifat massal.

Artinya: Ilmu titen. Ini istilah saya sendiri, tidak ada di kamus manapun untuk saat ini. Entah kalau besok-besok mulai ada. Saya agak kesulitan mentranslit kata “titen”, sebuah kata dari Bahasa Jawa, ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Titen itu bisa digambarkan dalam ilustrasi contoh sebagai berikut:
Kemarin pak guru masuk kelas dengan menyuruh anak-anak membuka buku pelajaran halaman sekian. Hari ini beliau melakukan hal yang sama, yaitu menyuruh anak-anak membuka buku halaman sekian yang berbeda dari kemarin. Besoknya, bisa dipastikan dia akan menyuruh anak-anak membuka buku halaman yang berbeda lagi. Intinya, beliau akan punya kebiasaan yang sama dalam memulai pelajaran, yaitu dengan menyuruh anak-anak membuka buku halaman tertentu.
Dalam kasus ini, kita bisa niteni, bahwa setiap pak guru yang itu memulai pelajaran, pasti menyuruh anak-anak membuka buku halaman tertentu.
Ini contoh lain:

Dulu waktu saya tinggal di Ternate, saya tinggal satu kos dengan orang yang sama-sama dari Jawa. Kebetulan dia sudah lebih lama berada di sana karena penempatan tugas juga dari kantornya. Saat itu dia banyak sharing tentang kondisi, kebiasaan, dan segala keanehan yang tidak biasa untuk kita temui selama di Jawa. Dengan maksud tentunya agar saya sebagai pendatang baru tidak terlalu kaget mengahadapi keanehan yang akan ditemui. Sehingga hal yang aneh menurut kita orang Jawa, akan menjadi tidak aneh lagi alias lumrah kalau kita hidup di Ternate. Sehingga ada hal-hal tertentu yang harus dipahami sebelum nantinya dibuktikan sendiri.

Ing jaman Media Sosial iki gunane lambe kanggo pangucap wis sinulih dening driji kanggo ngetik. Unen-unen "ajining dhiri ana ing lathi" wus ora trep maneh. Awit diriji tangan cacah sepuluh, malah utamane jempol cacah loro ing piranti mobile, wus adoh anggone darbe peran kang luwih wigati. Semono uga unen-unen "waton mangap" apadene "waton njeplak" wis kurang trep, amarga mangap lan njeplak iku luwih ditujokake marang piranti kang diarani lambe utawa cangkem. Pramila manungsa jaman saiki sing umume kurang pinunjul ing pacelathon, katon menengan, in tlatah media sosial bisa dadi wong kang "criwis" ing samubarang lelakon. Luwih trep manawa wong-wong iki dhasare pancen nggrathil, amarga olah pikire kasalurake ora lumantar ing lambe, nanging lumantar drijine.

Jumbuh karo jamane saiki wis sarwa bebas. Ngongasake isi atine, isi pikire lan -jare- "ekspresi diri" ing jaman saiki wus bebas, ora perlu ewuh pakewuh apadene kaweden kena ing paukuman. Sinaosa ana sing dadi perkara amarga dianggep mendzholimi pihak-pihak tertentu, nanging akeh sing tembunge sajak kendel anggone alok, utamane kang ditujokake marang para pejabat, para tokoh sing terkenal, malah saukuran Presiden uga ora luput saka komentar kang surasane pedhes.

Kayadene sing wingi nembe wae rame ing media, si Deddy Corbuzier nganti nesu-nesu amarga kancane sing jenenge Chika Jessica diunekane PSK marang sawijining hater. Nganti hater iku dicekel, dilarak saka Jambi menyang Jakarta kanggo diadhepake marang para awak media kareben ngakoni manawa tumindake iku bener-bener ora becik. Kang mangkono iku dudu kedadeyan sing pisan-pindho. Sadurunge uga nate ana bocah abege sing diseneni Deddy amarga komentare sing ora mranani ati.

Di jaman sekarang ini yang namanya hubungan itu sangat penting. Hubungan yang saya maksud berupa koneksi maupun interkoneksi antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dia bisa berupa hubungan interpersonal, antar disiplin ilmu, antara pikiran dan perasaan, dari hati ke hati, antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Bahkan di dalam individu sendiri, hubungan antara otak kiri dengan otak kanan juga menjadi kian penting karena dianggap menjadi bagian yang utama dalam meningkatkan kompetensi seseorang.

Pemikiran out of the box sudah menjadi basi, apalagi pemikiran yang masih terkotak-kotak. Pemikiran yang masih membagi segala sesuatu sebagai bagian dari sebuah hal yang tidak berkaitan dengan hal lain sudah tidak relevan lagi saat ini. Pemikiran terbaru yang akan dikembangkan ke depan sudah tidak seperti itu. Pemikiran sebaiknya bebas, tidak terpancang pada kotak tertentu. There should be no box!

Dengan adanya kotak-kotak atau box-box akan membatasi ruang gerak pikir sehingga kita cenderung mengabaikan hubungan antara satu hal dengan hal lain yang seharusnya penting untuk diperhatikan. Memang tidak selalu hubungan itu bersifat langsung. Adakalanya hubungan tidak terlihat jelas. Seperti tidak berhubungan tapi memiliki pengaruh, keselarasan, sinergi, maupun serangkaian sebab akibat. Output atau outcome satu bagian akan menjadi input bagian lain, dari sistem satu dengan yang lainnya. Begitu seterusnya.