Desember tahun 2014 ini ada serangkaian musibah yang terjadi. Mulai dari banjir di Jakarta, tanah longsor di Banjarnegara, kebakaran pasar Klewer di Solo dan terakhir Kecelakaan pesawat Air Asia di selat Karimata. Kalau ditambah musibah yang bersifat pribadi, diantara serangkaian musibah itu juga bertepatan dengan meninggalnya bapak mertua kami di Solo (26/12/2014). Akhir tahun kok ending ceritanya nggak indah dan seksi gini yach?

Padahal kepulanganku ke Solo hanya untuk menjemput anak sulung untuk bisa berlibur di Jayapura, berkumpul sekeluarga menikmati malam pergantian tahun nanti. Eh, ada peristiwa dadakan yang sepertinya terjadi dengan sangat kebetulan sekali. Akhirnya kabar duka itupun harus aku kirimkan dengan berat hati kepada istri yang sedang bersama si anak bontot di Jayapura sana.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un...
Semoga mereka yang meninggal di akhir tahun ini diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan diberikan tempat layak di sisiNya sesuai amal ibadah masing-masing.

Desember yang mengharukan. Desember kelabu, penuh rasa duka menyelimuti kami maupun sebagian masyarakat yang ditimpa musibah. Desember penuh air mata dan isak tangis, hampir tak berbeda dengan Desember-Desember sebelumnya sejak bencana besar Tsunami Aceh 2004 lalu. Malah mungkin lebih lama lagi, sejak terdengarnya lagu berjudul "Desember Kelabu" sekitar tahun 80-an lalu!

Tetembungan iki wus suwe anggonku krungu. Nanging lagi wingi kelingan maneh. iku wae butuh wektu watara semenit-rong menit kanggo ngeling-eling. Jago Temloncong iku kanggo ngarani joko kang wus akil baligh. Bocah nom-noman kang wus ngancik dewasa, sanajan isih bocah nanging wis gedhe utawa remaja. Manawa diupamakane kaya pitik jago sing wus bisa kluruk, wiwit thukul jalune lan warna wulune wis malih dadi jago. Samono uga pawakane wis samsaya dhuwur angklung-angklung.

Dene Dhere Semlamber, iku arane prawan sing uga wis ngancik dewasa. Diumpamakake pitik babon sing wis bisa ngendhog.

Hari ini 12 November 2014 sebagian besar orang memperingati Hari Kesehatan Nasional. Ternyata hari ini juga sekaligus adalah Hari Ayah Nasional.

Perayaan Hari Ayah di Indonesia memang belum sepopuler Hari Ibu. Perayaan yang juga bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional ini ternyata berawal dari prakarsa sebuah komunitas lintas agama pada 2006 silam.

Hal ini dilandasi kesadaran bahwa sosok Ayah memiliki porsi yang tak kalah penting dari seorang ibu. Karena alasan itu pula, di samping Hari Ibu pada 22 Desember, rakyat Indonesia memperingati Hari Ayah setiap 12 November.

Uniknya, para pemrakarsa Hari Bapak Nasional ini bukanlah kaum ayah. Melainkan para wanita. Kaum ibu yang tergabung dalam Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP) menggelar deklarasi Hari Ayah pada 12 November 2006 di Pendapi Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah.

Seperti dikutip dari Sumenep.go.id, Rabu (12/11/2014), deklarasi juga digelar bersamaan oleh beberapa anggota PPIP lainnya di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ketua PPIP kala itu, Gress Raja mengatakan, Hari Bapak lahir karena figur ayah sebagai bagian dari keluarga juga memegang peran sangat penting dalam pembentukan karakter keluarga. Bapak dan ibu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Gemulai sang Waktu masih mengiringi di saat terbangun dan menghadapi kenyataan bahwa sebagian dari sunyi telah terbenam dalam noda hitam.
Seperti mimpiku yang entah berawal dari mana tiba-tiba mengusik lagi kenangan yang telah pudar, seribu tahun lalu.
Terbenamnya semua kecurigaan tak berarti bahwa angan-angan harus surut ke belakang, menghindari segala kemungkinan.
Meretas misteri masa depan dan berharap akan ratusan harapan yang indah-indah dengan tidak peduli keletihan melanda kini.

Merenda kasih, dalam kegelapan tangis dan kesedihan, mencoba terharu di setiap pemulihan dan terus berkibar laksana panji kemenangan.
Tidak pernah lekang dan surut ketika semangat kebersamaan selalu dicurahkan kepada kasih, entah seberapa besar dampaknya.
Hanya mengundi nasib dengan sedikit kecerobohan, tidak peduli serangga yang berdengung siang dan malam, menyanyikan kidung pesan sang Alam.
Sebagaimana sinar, menembus dimensi ruang dan waktu, menelusuri setiap jejak masa lalu, masa kini dan masa depan, terus bergulir.
Hanya kekekalanlah yang terus hidup, walaupun letih dan lesu mengiringi, keinginan, penderitaan, dera kepedihan, juga senyum.

Suatu hari, Ken Endok mengantarkan makanan untuk suaminya, Gajah Para, di ladang. Di tengah jalan, dia dihadang dewa Brahma dan disetubuhi. Suaminya tahu dan menceraikannya namun lima hari kemudian dia meninggal dunia. Karena malu, Ken Endok membuang bayinya, Ken Arok, yang mengeluarkan sinar di malam hari.

Ken Arok hidup mengembara sebagai pencuri, perampok, pembunuh, dan pemerkosa. Dia dikejar-kejar rakyat dan utusan Tumapel atas perintah raja Daha (Kediri). Berkat bantuan dewa-dewa, dia selalu lolos. Bahkan dia diaku anak dewa Siwa dan penjelmaan dewa Wisnu.

Ken Arok menghambakan pada penguasa (akuwu) Tumapel, Tunggul Ametung, melalui perantaraan pendeta Lohgawe. Dia membunuh Tunggul Ametung dan menikahi istri mudanya, Ken Dedes, yang sedang mengandung tiga bulan. Dia pun menjadi akuwu di Tumapel. Semua itu dibiarkan saja oleh keluarga Tunggul Ametung dan rakyat Tumapel.

Setelah 40 tahun memimpin Tumapel, dia dinobatkan sebagai raja di Tumapel oleh para brahmana dari Daha. Sebagai raja, Ken Arok bergeral Sri Rajasa san Amurwabhumi.

Raja Daha, Dandan Gendis, pernah mengatakan hanya kalau Bhatara Guru sendiri turun ke bumi, kerajaannya dapat dikalahkan. Maka, atas izin para pendeta, Ken Arok memakai nama Bhatara Guru untuk menyerang dan mengalahkan Daha. Dia menjadi maharaja di Tumapel (kemudian terkenal dengan nama Singhasari) pada tahun 1222.

Kisah Ken Arok tersebut termuat dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya).

Kisah Ken Arok juga termuat dalam kitab Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca yang ditulis tahun 1365 dan Kidung Harsawijaya. Nagarakrtagama menyebut Ken Arok sebagai keturunan dewa yang lahir tanpa melalui kandungan atau tidak beribu. Sedangkan Kidung Harsawijaya menyebut Ky Anrok keturunan orang Pankur, anak Ni Ndok, yang menjadi raja dengan gelar Sri Rajasa.

‎Pagi hari yang bening. Aku baru saja bangun tidur di sebuah hotel yang berada di pinggiran Teluk Jayapura. Membuka jendela, suasana cerah dengan pemandangan air laut yang berkilauan di sinar matahari.

Menggeliat sejenak sambil melakukan gerak badan ringan. Terasa penatnya badan setelah semalam mengakhiri sebuah acara akbar, Jambore Pelayanan Primer yang dihadiri para dokter dan petugas Puskesmas serta Klinik Pratama serta Klinik TNI/Polri. Acara berlangsung tiga hari dari Rabu sampai Jumat (27-29/08/2014), aku bertindak sebagai pimpro, alias ketua panitia kegiatan kantor itu.

Pagi ini aku bersyukur sekali, semua berjalan lancar. Tak ada permasalahan yang berarti, walaupun kekurangan selalu saja ada. Tak mungkin sebuah event benar-benar berlangsung perfect dalam pandangan setiap orang. Tapi secara umum, semua berjalan lancar.

Baru awal puasa lalu aku bergabung disini. Sekitar dua bulan lalu aku menjadi bagian dari teamwork baru di Divisi Regional Papua ini. Memiliki teamwork yang hebat seperti ini memang sebuah keberuntungan bagiku. Tidak terbayang puluhan tahun silam aku akan bisa seperti ini. Masih terasa begitu beratnya memimpin sebuah organisasi remaja, muda-mudi karang taruna RT di kampungku, untuk pertama kalinya dipercaya memimpin waktu aku masih berusia belasan tahun. Yang memimpin dan yang dipimpin masih sama-sama belajar berorganisasi. Kini, ibaratnya hanya dengan tersenyum saja mereka tahu, hal terbaik apa yang harus dilakukan.

Dumadakan udan kayadene disokake ing wayah sore kang rada sumelet
Ngredhemake hawa panas sing sedina ngebaki dhamparing bumi
Dumadakan uga ati iki ketaman sawijining rasa kang ora bisa dak arani ing tembung

Dak waca maneh inboxmu sing wingi
Sawise rada enggar ing pikir lan lodhang ing ati iki
Surasane kang dak rasakake samsaya mundhak gedhe
Kairing swarane udan ing payon kang keprungu samsaya deres
Kaya-kaya ngesok ing jero ngomah, ngelepi jogan, nganti megungi ati kang nggelondhang
Sumemendhe tembok ing kamar iki, aku muter tembang lawas
Kidung tresna kang ndadekake mongkog, ngandelake rasa mau

O, yagene aku bisa nganti siniksa rasa kang kaya mangkene
Kabeh mung jalaran kawitan saka dlancang seta duk nalika semana
Dlancang seta kang winungkus dlancang wilis, ngemu surasa-surasa tresna kang tinulis mawa mangsi biru
Surasa-surasa mau saiki wus ginanti ing wewujud elektronik, saengga bisa bablas mili tumekeng ati, tanpa lumantaran srana-srana


Dene sliramu rak wis ngerti isine ati iki?
Yagene isih tansah wedi yen aku bakal ninggalake sliramu?
Apa ora cukup anggonku nuduhake sepira gedhene tresna iki?
Yen mangkono, apa sing kudu dak lakoni amrih dadi leganing atimu?

69

69 adalah angka yang menarik. Pasangan angka 6 dan 9 ini sangat unik, karena terbentuk dari dua angka yang memiliki bentuk yang mirip, hanya dibolak-balik saja, serupa tapi tak sama. Sehingga pasangan angka 69 bisa menjadi lambang keseimbangan. Dalam ajaran Cina sering disebut Yin dan Yang. Lebih jauh lagi pasangan angka ini bisa menjadi simbol cinta dan nafsu, simbol kemesraan dalam percintaan, memberi dan menerima.

Kalau anda mencari 69 di google image, anda akan melihat gambar-gambar yang banyak kaitannya dengan hubungan percintaan. Posisi bercinta dengan nama “posisi 69” sangat dikenal, yaitu oral seks yang dilakukan untuk mendapatkan rangsangan seksual secara bersamaan.

Oke deh, kita nggak akan membahas posisi bercinta disini. Kita sedang membahas Hari Ulang tahun Republik tercinta ini.

Dalam rangka Pelaksanaan Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2014, Tema peringatan HUT ke-69 Republik Indonesia adalah:
“Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Makin Maju dan Sejahtera”


Nasib bisa diubah. Takdir tidak bisa diubah. Kaya atau miskin itu takdir atau nasib? Mungkin takdir kalau terkait dengan sifat-sifat Anda yang tidak bisa diubah. Mungkin nasib kalau terkait kebiasaan yang masih bisa Anda ubah. Seorang penulis bernama Steve Siebold mengatakan bahwa orang kaya mempunyai sifat dan kebiasaan yang berbeda dengan kita. Apa Saja?

Siebold mengaku menghabiskan hampir 3 dekade hidupnya mewawancarai banyak orang kaya di seluruh dunia. Kemudian ia menulis sebuah buku “How Rich People Think” yang berisi tentang pola pikir yang membedakan antara orang kaya dengan orang rata-rata. Di buku ini, ia menunjuk sejumlah opini yang menarik untuk jadi bahan evaluasi kita semua. Berikut di antaranya:

Orang kaya percaya bahwa kemiskinan adalah akar dari segala kejahatan, sementara rata-rata berpikir UANG adalah akar dari segala kejahatan.
Menurut Siebold, di komunitas berpenghasilan rendah memiliki rasa malu tertentu yang datang bersama dengan “keinginan menjadi kaya”. Rata-rata mereka memiliki pemikiran bahwa orang yang bisa menjadi kaya hanya mereka yang beruntung atau tidak jujur. Sementara orang yang benar-benar kaya tahu bahwa meski memiliki uang tidak menjamin kebahagiaan, hal ini membuat hidup Anda lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Orang kaya merasa harus bertindak, sementara rata-rata menunggu lotere.
Masyarakat rata-rata hanya pasrah dan menunggu keputusan Tuhan, pemerintah, bos, atau pasangan mereka. Saat mereka sedang memilih nomor atau menunggu sesuatu yang akan mengubah hidup, merekapun berdoa untuk kemakmuran, orang-orang kaya mengubah nasib mereka dengan bertindak.


Membaca judul di atas, apa yang ada di benak kalian? Sinetron? Kisah cinta remaja yang bingung menentukan siapa pilihan hatinya untuk dipacarin/dinikahin? Atau jangan-jangan kamu mengira saya mau curcol soal masalah pribadi? Masalah cinta? Elo kira gue udah mulai mendua? Elo aja kalik, gue enggak! Wkwkwkwk....


Tapi ada benarnya kok. Benarnya di bagian curcolnya itu. Masalah pribadi juga sih. Tapi bukan masalah cinta. Loh... loh... Tapi kan judulnya cinta? Iya, tapi bukan cinta-cintaan ala sinetron seri yang sering ditonton ibu-ibu dan remaja putri di televisi. Ini tentang "sebentuk cinta yang lain". Waw...! Penasaran kan? Makanya, simak nih!

Tak terasa pada hari ini kita sudah memasuki hari ke-21 di bulan puasa tahun ini. Bulan puasa adalah tempatnya umat muslim menjalankan ibadah secara "padat karya" (Istilah tepatnya apa ya? Ntar saya revisi deh kalau udah ketemu). Bukan saja menahan nafsu untuk sekedar makan dan minum, tapi juga nafsu-nafsu yang lain. Termasuk menahan diri dari nafsu amarah dan godaan emosional terhadap lawan jenis, entah itu orang lain maupun pasangan hidup, entah itu pacar atau istri sendiri.

Di bulan puasa umat muslim bukan saja harus menghindari larangan-larangan, melainkan juga memperbanyak ibadah yang sunah. Tentu saja yang wajib tetep jalan terus. Disinilah saya menyebutnya "padat karya" karena segala bentuk ibadah akan dilakukan oleh umat muslim sebanyak-banyaknya. Demikian juga larangan-larangan akan dihindarinya sejauh-jauhnya.

Alhamdulilaah...

Akhirnya masuk hari tenang juga. Setelah masa-masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) terasa paling seru dan sengit di sepanjang sejarah negeri ini. Ini semua begitu terasa karena tak luput dari gencarnya media massa yang ikut andil dalam memeriahkan pesta demokrasi ini. Mulai dari pemberitaan resmi sampai dengan blog pribadi sama-sama saling serang, saling mendukung jagoannya masing-masing.

Bahkan dalam media sosial seperti Facebook pun ikut rame menulis tentang ini. Baik yang mendukung pasangan calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) tertentu, maupun yang mengolok-olok pasangan lain yang tidak didukungnya. Selain status yang dipasang, juga komentar-komentar yang tak kalah rame. Bahkan ada yang panjang komentarnya melebihi 500 karakter, baik yang mendukung maupun yang sebaliknya. Ada juga yang sengaja memasang link-link yang bertaut ke pemberitaan tertentu, kemudian rame-rame dikomentari.

Apalagi kalau malamnya ada debat capres-cawapres di televisi. Paginya pasti rame tuh. Saling mengutuk perkataan semalam. Nggak capres yang nomor satu maupun nomor dua, pokoknya dimana ada kata-kata yang dianggap bisa dikritik, dikritiklah. Panjang kali lebar! Seru sekali.

Saya justru terkesan sama yang namanya 'kampanye hitam' atau 'kampanye negatif'. Memang kecenderungan yang saya lihat justru lebih banyak unsur yang demikian. Begitu tercengangnya saya ketika melihat seorang yang kelihatannya baik-baik,mendadak berkata-kata sepedas itu di media sosial . Kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas diucapkanpun terlontar dalam mencemooh calon presiden yang tidak disukainya. Bahkan lebih hebat lagi, mereka malah berantem sendiri sesama pendukung yang berlainan calon presidennya.

Pernah ngliat UFO nggak?
Kalau alien?
Belum pernah ya? Kalau di film pernah donk?
Belum pernah juga? Parah banget sih lu?
Wkwkwkwk.....

Kalau kamu misalnya suatu ketika ketemu alien, bagaimana perasaanmu? Takut? Kaget?
Atau jangan-jangan kamu malah bernafsu? Jiaah.... tergantung aliennya ya? Cantik apa enggak. Mana ada alien cantik? Alien ya pasti aneh, beda sama kita-kita ini. Tapi ya terserah kamu lah. Cantik itu kan relatif.

Terus kalau kamu tiba-tiba yang menjadi alien gimana? Misalnya kamu tersesat di sebuah planet dengan penghuni yang serba aneh. Kamu paling beda. Aliennya kamu apa mereka? Kamu donk?

Begitulah yang saya rasakan sewaktu hendak mendarat di Papua, Sabtu (07/06/2014) lalu. Bayangkan, saya akan menjadi alien, siap dilihat orang banyak, diperhatikan gerak-gerikku dan diwaspadai. Salah sedikit bisa kesrempet tombak atau anak panah, wah!

Tapi nggak begitu serem juga sih. Setelah beberapa kali browsing alias ngintip-ngintip dikit, ternyata nggak sengeri itu suasananya. Mungkin lebih horor kisah tetangga di areal perumahan saya yang lagi berantem masalah buang sampah beberapa waktu lalu. Santai Bro!

Waktu mengudara terasa begitu lama. Biasanya terbang dari Makassar ke Jakarta dalam waktu 2 jam 10 menit itu sudah terasa lama sekali. Ini sedikit lebih lama, 2 jam 40 menit dari Makassar ke Timika, lanjut 1 jam dari Timika ke Jayapura. Terbang dalam waktu selama itu biasanya membuat badan terasa tidak nyaman. Kesemutan, pegal-pegal, capek, nyeri pinggang, kaku leher, sakit kepala, pokoknya sindrom akibat peredaran darah tidak lancar lantaran kurang bergerak.

Halo?
Apa kabar para sahabat yang seksi dan seksi sekali?
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu dilimpahkan buat kita semua, di awal bulan Mei yang indah dan seksi ini. Seiring rasa syukur yang selalu kita panjatkan dimanapun kita berada. Karena hanya dariNya lah, segala cinta dan kasih sayang bersumber dan berlimpah berupa anugerah yang tak terhitung jua. Fiuuh....

Kali ini saya nggak akan ngomong pakai bahasa metafora dulu deh. Beberapa postingan terakhir memang sarat metafora, sampai kalian kira ini blognya manusia planet mana, gitu. Tapi saya juga nggak akan pakai bahasa tinggi, bahasa dewa, bahasa politik dan hukum yang biasa menggunakan kata "dan/atau", bahasa hewan yang sama sekali saya sendiri nggak ngerti, pokoknya bahasa yang bikin kalian nggak bingung aja lah! Yang jelas bukan bahasa galau ya? Apalagi namanya kalau bukan: bahasa cinta. Ciee... preeetz!

Jujur kalau lagi ngomongin bahasa, nih, jadi inget bahwa kita dulu kan dididik buat bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, yach? Tapi nggak ngerti kenapa kita cenderung males pakai bahasa resmi itu. Mungkin kalau kita lagi bikin makalah ilmiah atau artikel formal, bolehlah kita makek bahasa itu. Bahkan wajib! Tapi kalau buat dipakai di dunia pergaulan ala social media macam blog gini ya sebaiknya pakai bahasa slang aja kan lebih nyantai, nggak terlalu serius, tapi bukan berarti bahasannya nggak penting. Ya kan? Kayak gini penting? Penting apanya? Ya penting bagi yang berkepentingan lah. Masa' penting dari Hongkong? Kok nggak nyambung ya?

Oke, kembali ke laptop deh. Eh, ngomong-ngomong saya udah lama nggak nonton Tukul Arwana tampil di Bukan Empat Mata. Apa programnya sudah nggak ada ya? Maklumlah, saya kan nggak punya televisi? Hehehe... bukan berarti nggak punya pesawat televisi, hanya saja channelnya nggak ada. Udah diputus! Gara-gara saya nggak bayar langganannya. Hehe... jujur banget ya, saya? Tapi don't try this at home, ya? Ini contoh yang buruk! Jangan ditiru!

Akhirnya sang Jiwa itu terdampar semalaman di sebongkah  benua yang pernah memberinya riwayat indah. Tertidur lelap, tanpa mimpi, melewatkan malam yang sepi tanpa cinta. Masih ada segumpal rindu yang tersisa, walau sebagian telah dia lelehkan bersama sang Sandaran Hati di dalam setangkup tirai biru dan sebatang pohon.

Pagi menjelang, membuka jendela kamar dan menatap surga hijau bagaikan dadahanan di hutan. Cengkerama burung-burung pagi beradu dengan nyanyian merdu televisi dan deru mesin jalanan. Langkah kakipun mengajak untuk memijaki jejak semalam dan mengendus-endus dan memilah sejuta aroma. Embun pagipun terheran-heran seakan bertanya, sedang mencari apa disini. Lalu memalingkan pandang pada bunga-bunga trotoar yang berwarna ungu, menari-nari dalam tiupan angin pagi.

Waktu terus merangkak, berderak, melata bagai moluska. Sang Jiwapun menjelajahi ritual pagi, dari kamar mandi hingga ruang makan sebelum akhirnya kembali ke surga: segumpal awan dan ranjang penantian. 

Menunggu itu laksana membeku dalam dingin. Tapi sang Jiwa kembali menyematkan keyakinan bahwa merpati yang dinanti tak akan ingkari janji dan sang Sandaran Hati akan indah tepat pada waktunya. Namun keresahan akhirnya memaksanya untuk menunggu di dasar samudra, dimana cintanya pernah disatukan dalam pelukan dan kecupan untuk pertama kalinya.

Kucium jejak aroma itu di udara sore yang hangat, ketika aku sedang melayang di atas awan. Diantara hembusan angin yang bertebarkan kerinduan, kutemukan sebuah harapan untuk sekedar menggapainya, dari mana jejak itu berasal. Aku terus mengendus-endus, sepertinya bidadari itu biasa beterbangan disini. Rupanya aku sedang memasuki jalur lalu lintas penerbangan hari-harinya, sehingga aroma itu tak pernah lepas dari atmosfer yang menyelubungi bumi, dimana dia tinggal.

Gemuruh rindu tidak pernah berhenti mengajakku untuk mencumbu senja yang jingga, sebelum tiba-tiba berubah menjadi hitam kelam malam. Aku tahu dia masih berada di sekitaran sini untuk menuai beberapa senandung cinta. Maka akupun mencoba menebar sinyal-sinyal, agar dia tau aku ada disini. Kalau saja ada rindu di hatinya, dia tak akan lari menghindariku. Tapi bila ternyata sebaliknya yang terjadi, ya nggak apa-apa. Aku masih punya waktu bersabar menunggu besok untuk menemukan aroma itu lagi. Karena setiap malam menjelang, jejak itu pasti tiba-tiba hilang, tak terlacak lagi.

Akhirnya kutemukan dia di semacam pintu lorong, yang terbentuk dari sela-sela gumpalan mega yang berwarna senja. Sedang terbang menyambutku. Ternyata dia tidak saja sekedar membaca sinyalku, tapi masih menyala juga kerinduan di hatinya. Rona wajah itu masih sama saja seperti biasanya, dengan tatapan malu-malu, membuang pandang ke arah mega-mega berwarna gradasi biru-jingga dan tak pernah melawan tatapanku terlalu lama.

Barangkali memang sudah dari sononya kita ditakdirkan untuk bisa merayu. Sejak dari zaman Nabi Adam juga sudah ada kemampuan merayu, kan? Masih ingat, nggak, bagaimana Hawa merayu Adam untuk memakan “buah terlarang” itu? Jadi, wajar saja kalau kemudian semua keturunannya juga jadi jago merayu.

Apalagi dengan adanya evolusi peradaban dan manusia, kemampuan merayu pun menjadi semakin canggih. Hehehe… Jadi jagoan merayu semua, deh! Lihat saja, anak-anak kecil sekarang, sudah pandai sekali mereka merayu. Ya, apa nggak?!

Anak saya yang kecil itu baru berumur lima tahun juga sudah pintar merayu. Terutama kalau sedang dimarahin. Dia selalu bilang, "Bapak, jangan marah-marah donk.... Kalau marah nanti gantengnya ilang!"

Lagian, siapa sih yang tidak senang dirayu? Bohong deh, kalau ada yang bilang, “Saya paling tidak suka dirayu!” Maksudnya tidak senang dirayu, barangkali! Mestinya, ya tergantung dari model rayuannya seperti apa. Ada yang senang dirayu dengan puisi-puisi cinta, ada yang senang dirayu dengan diberi hadiah, tapi ada juga yang senangnya dirayu dengan perbuatan-perbuatan tak terduga. Tiba-tiba dibikinin telor dadar, misalnya. Wah, ini pengalaman siapa, ya?

Yen ana sing takon, geneya rakyat padha mata dhuwiten nalika suwarane dadi rebutan dening tokoh-tokoh politik nalika arep pemilu? Wangsulane wis cetha, jalaran kabeh sing bisa nglungguhi kursi DPRD lan DPR Pusat bakal lali marang rakyat lan malah padha gelis-gelisan sugih. Dene kabeh bisa gelis sugih jalaran pancen bisa sewenang-wenang ngreka-ngreka lan nggolor-olor anggaran proyek-proyek.

Luwih cethane, kabeh tokoh politik uga mata dhuwiten saengga saben-saben obah tangane mesti kudu nampa dhuwit sing diarani komisi resmi utawa komisi ora resmi. Dene komisi resmi bisa wae dianggep wis sarujuk karo paugeran saengga ora dianggep korupsi. Dene komisi ora resmi kaya sogok-sogokan wis cetha yen kuwi nerak paugeran. Nanging yen kabeh padha nerak paugeran mangka dianggep lumrah-lumrah wae.

Wis ora bisa dibantah maneh yen kabeh anggaran proyek dadi bancaan dening kabeh tokoh politik sing ana ing legislatif lan eksekutif. Pokoke kabeh mesti padha-padha nampa jatah saben-saben ana proyek.

Senja masih bercengkrama dengan suara-suara angin dan deru ombak. Udara terasa hangat menghembus ke wajah yang letih. Sejenak mengheningkan diri dengan segumpal harapan yang tak pernah hilang. Sesekali melemparkan kerikil ke arah laut sambil membuang angan-angan yang tersabur antara kenyataan dan kepalsuan.

Tidak banyak yang bisa mengubah angan-angan itu selagi angin hanya sekedar berhembus, tak membawa perubahan apapun selain hujan kata-kata yang ditebarkan ke langit. Tidak semua orang sama dalam memahami cerita dan pesan di baliknya. Cenderungnya akan selalu saja menilai buku dari sampulnya.

Maka cemburulah hanya kepada ombak yang memesrai pantai, kepada ciuman yang membelai setiap saat. Jangan kepada badai yang hanya datang semusim sekali. Harusnya kaupahami letihnya penantian dalam kesendirian menunggu musim baru yang kadang tidak muncul tepat waktu. Tidak juga banyak yang bisa dilakukan buat mengubah sejarah ini sekarang.

Namun yang selalu jelas tersirat disetiap berkas sinar bintang-bintangmu hanyalah kebencian. Tak pernah kausadari bahwa perasaan itu hanya membuang energi yang dari pelepasan cahayanya yang redup-terang. Kamu selalu membuat nafasku berhenti hanya untuk bayang-bayangmu yang kelam. Kamu selalu membakar belantara cinta ini hanya dengan sepercik api yang tak pernah terduga datangnya.

Setengah malam telah bersemayam. Menyanyikan lagu begitu indah. Walau tidak tau sejauh mana angan-angan telah mengembara. Kemelut sudah sedemikian kejam membakar cinta yang beku. Rindupun menggunung bagai sampah yang tertimbun dan mengotori hati dengan prasangka negatif akan harapan-harapan palsu. Bahkan janjipun melahirkan keraguan, akankan cinta sudah sedemikian pantas untuk ditinggalkan.

Tidak tahu seberapa dalamnya hati. Tapi tidak juga bisa dijelaskan, karena ketidakberdayaan selalu membelenggu. Terkesan rapuh, lemah, tak berguna. Tidak pernah berhenti keyakinan disiramkan bagai hujan, membanjiri setiap media dengan kata-kata. Yang namanya keterbatasan walaupun bisa dimaklumi namun begitu sering malahan menjadi makan hati. Tinggal sejauh mana kita akan memaknai cinta, walaupun seringkali kita mendapati segalanya berada di atas penyesalan masa silam.

Maka sang Jiwa kembali terbang melesat membumbung tinggi, menuju lapis langit tiga ratus sekian. Disitulah sang Jiwa kembali berharap bertemu sang Sandaran Hati. Tidak tahu lagi dimana bidadari itu kini berada, karena dia selalu mengepakkan sayapnya ke sana, ke mari, demi sebuah pengharapan yang bisa mencukupi diri akan semua kebutuhan kesehariannya. Hanya satu tempat yang pasti dia kunjungi, tempat yang selalu meneduhkan hati dikala segala beban terasa sedemikian berat untuk terus dijinjing.

Aminah, mungkin begitulah nama aslinya. Dia sering dipanggil Minah saja atau sebagian orang memanggilnya Mimin. Perempuan muda berhati emas itu selalu menyusuri jalan hampir di setiap pagi menuju pasar. Langkahnya anggun, selalu mengenakan baju rapi dengan bawahan warna-warni yang menutupi hingga ke bawah lututnya. Sesekali tertiup angin, roknya itu selalu berkibar-kibar memperlihatkan betisnya yang indah bagai pualam. Mengingatkan semua orang pada betis Ken Dedes yang memikat hati Ken Arok. Siapa yang tidak tahu kisah betis yang melegenda dari negeri Singasari itu?

Wajahnya yang sejuk, menentramkan hati setiap orang yang memandangnya. Apalagi senyumnya yang selalu membuat hati tergoda. Sekali tersenyum, barangkali berjuta bintang langsung berguguran di pangkuannya. Penampilannya sederhana. Tak nampak seperti perempuan kebanyakan yang gemar merias wajah berlebihan. Rambutnya diikat di belakang kepala, ujungnya terurai dan melambai-lambai di belakang punggungnya. Menambah keanggunan perempuan itu.

Seperti biasanya, pagi itu dia pergi ke pasar berjalan kaki. Walaupun mungkin dia bisa naik ojek atau membawa motor sendiri, tapi jalan kaki dia rasa lebih menyehatkan. Ia juga tidak pernah khawatir bahwa matahari akan membakar kulitnya yang kuning bagai langsat. Sinar matahari pagi bisa menjaga kesehatan kulit dan tulang belulangnya. Barang belanjaannya ditenteng di tangan. Tidak banyak, hanya kebutuhan sehari-hari yang selalu habis dikonsumsi. Dia tahu, makanan yang selalu baru bisa lebih menyehatkan.