Semua orang percaya akan Surga. Tempat di akhirat yang sarat kenikmatan kekal abadi yang dijanjikan untuk para manusia setelah berakhir kehidupan dunia. Tentu saja yang bisa masuk ke sana yang timbangan amalnya memenuhi syarat. Yang tidak lolos kualifikasi terpaksa harus dijebloskan ke tempat lain yang katanya enggak enak banget!

Sejatinya manusia belum pernah ada yang sudah melihat Surga, sehingga mereka menggambarkannya dengan keindahan-keindahan yang biasanya ada di dunia. Walaupun disadari bahwa surga dunia tidak seberapa kalau dibanding surga yang sesungguhnya, tapi orang banyak yang terbuai dengan keindahan dan kenikmatan duniawi. Maka banyak yang terbuai oleh surga dunia itu dan malah justru melupakan surga yang di sana. Jangan lah....

Salah satu cerita yang sempat kita dengar tentang Surga adalah bahwa ketika kita memikirkan sesuatu, menginginkan makanan misalnya, maka makanan itu akan datang sendiri kepada kita. Sampai seperti itu kenikmatan yang ada di surga sana, katanya lagi nih.


Pagi masih berpalut kabut ketika renda-renda awan bergelombang seperti rindu di hati.
Kemudian seperti genderang tertabuh detik-detik waktu terus menghunjam tanpa ampun.
Seperti sepasang burung terbang rendah menggapai harapan kecil yang sederhana.
Di permukaan bening itu terpantul cahaya keheningan yang tidak lagi sempurna.

Semburat jingga di angkasa mengingatkanku kepada rona merah di pipimu.
Gerimis yang kemarin tak lagi hadir seandainya angin bertiup seperti sedia kala.
Jangan kauhiraukan lambaian luka di dalam mimpi, keruhkanlah dengan kelabu.
Hanya sedikit pedih menanti gerhana hati berlalu sambil bersenandung rindu.


Kita tahu dan percaya bahwa semua jenis profesi di dunia ini adalah mulia, kecuali penjahat. Kita boleh jadi apa saja asalkan jangan sampai menjadi penjahat. Anak kecil yang selalu ditimang-timang orang tuanya, selalu diharapkan besarnya menjadi orang yang berguna, bukan jadi penjahat.

Penjahat itu ada tingkatannya, mulai dari penjahat kelas teri, kelas coro, sampai kelas kakap. Mungkin masih ada kelas-kelas yang lebih tinggi lagi, karena biasanya berlaku juga prinsip di atas langit ada langit. Konkritnya, ada orang yang berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi, biasa disebut maling, ada pula yang terang-terangan merampas hak milik orang lain, biasanya disebut perampok. Dari maling sampai perampok ada serangkaian gradasi yang bervariasi, bisa terselubung juga, seperti yang disebut calo, rentenir, koruptor, penipu, pemalak, penodong, tukang gendam dan sebagainya.

Setiap orang juga memiliki potensi menjadi penjahat. Ada yang bisa menekan kejahatan dalam dirinya sehingga hampir tidak pernah manifes dalam hidupnya, tapi ada juga yang justru hobi melakukan kejahatan. Celakanya, dalam kondisi terbiasa melakukan kejahatan, orang sering tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan jahat. Itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun, jadi tidak masalah, toh yang dijahati juga rela menjadi korban dan tidak pernah mempermasalahkannya. Apalagi kalau orang-orang sekitarnya juga melakukan hal serupa. Pasti anggapannya,"Gak masalah kok, banyak yang melakukan itu. Kalau dianggap salah, berarti semua orang itu juga harus dihukum, itu tidak mungkin. Jadi pasti dibolehin." Padahal yang namanya kesalahan itu juga bisa bersifat massal.