Sebenarnya, saya paling malas membahas kegoblokan manusia. Bukan karena topiknya langka, justru sebaliknya: terlalu melimpah. Ia ada di mana-mana, seperti debu halus yang tak terlihat tapi selalu berhasil masuk ke mata. Membahasnya benar-benar menguras energi. Kegoblokan itu punya gaya gravitasi sendiri: menarik, menyeret, dan menantang kita untuk ikut terjun ke lumpur yang sama. Dan celakanya, lumpur itu sering terasa hangat dan nyaman, karena di sana semua orang sepakat untuk tidak sepakat dengan fakta.
Saya harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak ikut goblok bersama mereka. Bukan karena saya lebih pintar, bukan. Sama sekali bukan. Saya juga manusia, dan seperti manusia lainnya, saya pun pernah (dan kadang masih) goblok. Bedanya, saya berusaha sadar bahwa kegoblokan adalah hak, bukan kewajiban. Hak itu boleh dipakai, tapi idealnya secukupnya. Seperti garam: terlalu sedikit hambar, terlalu banyak bikin tekanan darah orang lain naik.
Kebijaksanaan, bagi saya, adalah kemampuan mengatur kadar goblok dalam diri sendiri agar tidak menumpah ke ruang publik. Agar tidak mengganggu orang lain yang sedang berusaha hidup normal. Agar tidak memaksa orang lain menelan kebodohan kita mentah-mentah hanya karena kita terlalu malas belajar, membaca, atau sekadar berpikir lima menit lebih lama.



