Di era AI ini, ketika mesin diajari berpikir, menimbang, bahkan berempati secara sintetis, justru manusia tampak semakin rajin merayakan kegoblokannya sendiri. Seolah-olah kemajuan teknologi bukan untuk membantu berpikir, melainkan untuk menggantikan kebutuhan berpikir sama sekali. Otak disimpan rapi, nurani dilipat, lalu akal sehat dititipkan entah di mana. Yang tersisa hanyalah keberanian luar biasa untuk bicara tanpa tahu, berpendapat tanpa paham, dan bersikeras tanpa dasar.

Sebenarnya, saya paling malas membahas kegoblokan manusia. Bukan karena topiknya langka, justru sebaliknya: terlalu melimpah. Ia ada di mana-mana, seperti debu halus yang tak terlihat tapi selalu berhasil masuk ke mata. Membahasnya benar-benar menguras energi. Kegoblokan itu punya gaya gravitasi sendiri: menarik, menyeret, dan menantang kita untuk ikut terjun ke lumpur yang sama. Dan celakanya, lumpur itu sering terasa hangat dan nyaman, karena di sana semua orang sepakat untuk tidak sepakat dengan fakta.

Saya harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak ikut goblok bersama mereka. Bukan karena saya lebih pintar, bukan. Sama sekali bukan. Saya juga manusia, dan seperti manusia lainnya, saya pun pernah (dan kadang masih) goblok. Bedanya, saya berusaha sadar bahwa kegoblokan adalah hak, bukan kewajiban. Hak itu boleh dipakai, tapi idealnya secukupnya. Seperti garam: terlalu sedikit hambar, terlalu banyak bikin tekanan darah orang lain naik.

Kebijaksanaan, bagi saya, adalah kemampuan mengatur kadar goblok dalam diri sendiri agar tidak menumpah ke ruang publik. Agar tidak mengganggu orang lain yang sedang berusaha hidup normal. Agar tidak memaksa orang lain menelan kebodohan kita mentah-mentah hanya karena kita terlalu malas belajar, membaca, atau sekadar berpikir lima menit lebih lama.

Salah satu contoh kegoblokan paling parah dan paling melelahkan yang sering dilakukan orang adalah bertanya tanpa mau mendengar jawaban. Mereka bertanya bukan untuk memahami, melainkan untuk membenarkan apa yang sudah mereka yakini sejak awal. Fakta dianggap opini. Data dianggap serangan pribadi. Penjelasan dianggap debat. Dan ketika semua argumen habis, kartu terakhir pun dikeluarkan: “Itu kan cuma pendapat kamu.” Di titik itu, bukan hanya diskusi yang mati, akal sehat pun dikuburkan tanpa nisan.

Ironisnya, di zaman ketika informasi tersedia dalam hitungan detik, ketidaktahuan justru dipertahankan dengan penuh kebanggaan. Ada semacam heroisme palsu dalam menolak belajar. Seakan-akan mengakui ketidaktahuan adalah aib, sementara memamerkan kebodohan adalah identitas.

Maka mungkin masalahnya bukan pada AI yang makin pintar, melainkan pada manusia yang enggan ikut naik kelas. Mesin berkembang karena ia mau belajar dari kesalahan. Manusia? Terlalu sering jatuh cinta pada kesalahannya sendiri.

Dan di tengah semua itu, saya hanya berharap satu hal: semoga saya cukup sadar untuk tetap mengatur kegoblokan saya sendiri. Karena dunia ini sudah terlalu ramai oleh orang-orang yang tidak pernah merasa perlu melakukannya.


0 komentar: