Yaelah, ternyata ... Sudah tiga tahun lebih saya tidak meng-update blog ini. Terakhir Desember 2022, ya? Sekarang Januari 2026. Met taon baru yaa? Kalau blog ini sebuah kamar, mungkin sudah berdebu, sarang laba-laba, dan lupa kuncinya yang mana. Ironisnya, tulisan terakhir saya justru tentang AI. Seolah-olah waktu berhenti tepat di sana, lalu dunia melaju tanpa saya.

Sejak AI makin canggih, dan jujur saja: makin pinter, saya malah makin bego jarang nulis. Bukan karena kehabisan ide, tapi karena kebanyakan ide. Dan juga karena rasa minder yang aneh. AI bisa nulis cepat, rapi, runut, enak dibaca. Tinggal ketik prompt, jadi. Sementara tulisan saya? Acak-acakan. Lompat sana-sini. Hari ini bahas kesehatan, besok pendidikan, lusa bisa sok religius, besoknya lagi puisi setengah sadar yang bahkan saya sendiri harus baca dua kali buat ngerti maksudnya.

Blog ini memang bukan blog. Lebih mirip keranjang sampah pikiran. Apa pun yang numpuk di kepala, saya buang ke sini. Tanpa mikir SEO, tanpa mikir engagement, tanpa mikir “ini relevan nggak ya?”. Kadang cuma pengen lega. Kadang cuma pengen ada tempat buat ngomel yang nggak dinilai KPI-nya.

Lalu AI datang. Dan anehnya, justru sejak ada alat bantu super canggih, saya malah berhenti. Karena muncul suara kecil di kepala: “Ngapain nulis? AI bisa lebih bagus.” Dan suara itu bukan cuma ada di kepala saya. Banyak penulis: blogger, copywriter, jurnalis, penulis iseng di Notes HP, mengalami hal yang sama. Kita bukan kehabisan kata. Kita kehabisan keberanian untuk merasa tulisan kita masih layak ada.

Akhirnya saya pindah ke media sosial. Yang lebih visual. Lebih cepat. Lebih instan. Foto diunggah tanpa caption. Video diposting tanpa konteks. Bukan karena estetik, tapi karena malas menjelaskan. Karena lelah merangkai kalimat. Karena takut tulisan kita terlihat “kurang pinter” dibanding mesin.

Lucunya, di era semua orang berlomba bikin konten, banyak dari kita justru makin diam. Bukan silent karena damai, tapi karena jenuh. Karena kepala penuh, tapi tangan nggak mau kerja sama. Karena setiap mau nulis, yang muncul bukan ide, tapi perbandingan.

Padahal mungkin masalahnya bukan AI. Mungkin masalahnya ekspektasi kita sendiri. Kita pengen tulisan kita langsung bagus, langsung bernas, langsung pantas dibaca publik. Padahal dulu kita nulis ya cuma buat hidup. Buat napas. Buat bertahan waras.

Makanya saya pengen mulai lagi. Bukan dengan janji akan konsisten. Bukan dengan niche yang sok jelas. Tapi dengan kejujuran yang sama seperti dulu. Bedanya sekarang saya sadar: tulisan nggak harus menang cepat, yang penting masih manusia.

Kalau AI bisa bantu saya menyusun kata, silakan. Tapi alasan saya menulis tetap satu: supaya pikiran saya nggak cuma muter di kepala, lalu basi.

Dan kalau tulisan ini terasa berantakan, ya memang begitu awalnya. Karena ini bukan konten. Ini tanda saya masih hidup. 

Selamat tahun baru 2026.

0 komentar: