Tampak Qur'an dan Injil disediakan di laci Hotel Aston.

Sudah kesekian kali saya berkunjung ke kota ini. Kota yang dihuni oleh penganut Muslim dan Nasrani yang hampir sama dominannya, disamping beberapa penganut agama lain. Kerukunan antar umat beragama disini memang bikin salut. 
Memang sih, nuansa muslim di kota ini jadi agak berkurang, tak seperti kehidupan di masyarakat yang dominan Muslim seperti di kota-kota yang pernah saya tinggali: Gorontalo, Ternate (Maluku Utara), ataupun Solo (Jawa Tengah). Misalnya, saya jadi bingung soal waktu shalat. Adzan hampir tak pernah terdengar di kota ini, bahkan Shubuh sekalipun. Biasanya sepagi itu belum banyak aktifitas masyarakat, tapi adzan Shubuh nyaris tak terdengar. Bahkan lebih dominan suara anjing menggonggong di mana-mana. Hampir semua warga, terutama yang Nasrani memelihara anjing di rumahnya. Bahkan banyak juga anjing-anjing liar yang tidak memiliki tuan.

Pada suatu sore ada seorang petani sedang berjalan kaki bersama istrinya. Rupanya mereka baru pulang dari sawah. Waktu itu hujan gerimis tiba-tiba berubah menjadi deras. Karena tidak ada tempat berteduh, maka merekapun melanjutkan perjalanan pulang dengan setangkai daun pisang sebagai payungnya. Dari arah belakang melintas sebuah sepeda motor yang kebetulan dikendarai juga oleh sepasang suami-istri. Motorpun berlalu dengan cepat melintasi hujan yang kian deras.


Sambil terus melangkah, pak tani berkata kepada istrinya,”Enak ya, kalau punya motor? Hujan-hujan begini kita bisa cepat sampai di rumah. Tidak perlu berlama-lama kehujanan begini.”

"Sudahlah, Pak! Mereka kan lebih beruntung dari kita. Tidak perlu iri. Jatah rejeki kita kan sudah ditentukan." jawab istrinya, menirukan kata-kata orang yang dianggap bijaksana.


Pantai yang sepi




Beberapa spesies tumbuhan paku bersarang di taman.


Kereta cinta masih berderak jauh ke langit merah ketika hujan badai menghadang. Kutelusuri setiap hembusan nafas, denyut nadi dan desiran di ujung-ujung pembuluh darah untuk memastikan semuanya akan tetap apa adanya. Walaupun angin serentak berteriak, hujan terus menangis, dan lamunan berpendar ke masa yang jauh. Kepada musim yang hadir senantiasa menghias mimpi.


Pegang erat tanganku. Senyumlah. Kita tidak dapat mengelak. Maka sekali lagi senyumlah meskipun badai mengamuk di dalam hati kita. Kepasrahan yang kaugenggam dan kuteguhkan dengan hamparan sejarahku. Mungkin aku akan mati. Ya, lembaran hidupku hanya sampai disini. Tapi setidaknya arwahku tidak memandang sia-sia kepada jasadku yang masih menggenggam rindu.

Kereta cinta terus berderak sampai jauh menembus badai. Langit semakin merah. Kesunyian memaksaku untuk bernyanyi, meski hanya beriringan dengan debur ombak di pantaiku. Kesunyian ini bukan tidak berarti. Kesunyian yang selalu berbisik, mengungkapkan kerinduan.

Semilir angin menghembus pelan. Derai ombak berulang-ulang menyentuh bibir pantai yang hangat. Senandungpun terdengar pelan. Nuansanya memang biasa. Sudah teramat biasa untuk sebuah pantai yang dulu pernah hampir setiap hari terhampar di depan mata.

Tapi mataku tiba-tiba tertuju ke pemandangan yang lebih detil: pasir pantai ini. Bukan pasir, tapi butiran kerikil kecil berdiameter 3 s.d. 10 mm. Komunitasnya begitu heterogen, terlihat dari perbedaan warna, bentuk, tekstur dan beratnya.

Aku jadi teringat dulu pernah punya teman yang memiliki hobi mengoleksi pasir pantai. Di lemari kaca khusus dia taruh gelas bening berderet-deret. Gelas yang sengaja dipilih berbentuk polos dan seragam. Di dalam gelas-gelas itulah terdapat setengah penuh pasir pantai, dari yang lembut sampai yang paling kasar. Kemudian di bagian depan gelas tertempel label nama pantai dimana pasir itu berasal. Tampaknya menarik.

Hobinya memang jalan-jalan ke pantai. Seluruh pantai di Jawa dan Bali pernah ia susuri. Meskipun menurut pengakuannya, tidak semua pasir itu dia peroleh sendiri dengan mengambilnya di pantai, melainkan beberapa diantaranya hanya titip teman.


Saya benci sekali kata-kata itu, “Tidak masuk akal!” Seolah yang mengucapkan kata-kata itu akalnya sudah merupakan segalanya. Dia lupa bahwa akal manusia ini diciptakan terbatas.
Memang manusia dibedakan dengan makhluk lainnya karena dia memiliki akal. Pikiran manusia jauh lebih hebat dibandingkan pikiran dari makhluk apapun. Bahkan makhluk lain dianggap tidak memiliki pikiran, tidak memiliki akal.
Saya sendiri sudah belajar menggunakan akal sejak kecil. Sampai tumbuh dewasa akal terus digunakan dan dikembangkan. Akal pikiran ini banyak dilatih di masa usia sekolah. Kita dijejali ilmu-ilmu pengetahuan yang sarat dengan pemahaman yang memerlukan akal.