Lagi-lagi saya teringat kata-kata William Shakespeare, "What's in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet." Apalah artinya sebuah nama? Kalaupun sekarang kita menyebutnya Mawar, dengan nama lain tetaplah dia bunga yang indah. Begitulah kira-kira maksudnya.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan Shakespeare. Sebagian besar orang juga pasti lebih sependapat dengan saya bahwa nama sebaiknya memiliki arti. Walaupun kenyataannya memang tidak semua nama memiliki arti yang jelas, melainkan tersamar. Kadang-kadang justru memiliki misteri.

Mungkin karena Sang Maestro itu berbicara didalam sebuah karya sastra yang mengutamakan keindahan, mengutamakan yang sweet-sweet, jadi kurang begitu bermasalah. Tapi coba kalau bidangnya ilmiah, wah bisa kacau dunia keilmuan tanpa nomenklatur yang jelas. Penamaan spesies tertentu, misalnya, juga dimaksudkan menjadi pembeda dengan lainnya dan pastinya memiliki arti untuk memudahkan dalam mengenali objek spesies yang dikasih nama. Demikian juga dengan penamaan bintang-bintang dan benda-benda langit, nama lokasi, nama lautan, nama gunung dan sebagainya.

Terlebih dalam dunia digital sekarang ini, hampir tiap hari kita membuat nama-nama file untuk pekerjaan kita sehari-hari. Coba kita sembarangan menamakan file, dipastikan kita bingung di kemudian hari, terutama sewaktu mencari file yang dimaksud. Apalagi kalau file-file itu terkait suatu program atau aplikasi. Nggak jalan tuh program!

Andaikan saja Shakespeare hidup di jaman sekarang, saya akan menyangkal pernyataannya itu. "What do ya think about those file names? They ain't sweet without their unique names, Dude!"

Nah, menyangkut nama orang demikian pula sebaiknya juga memiliki arti. Dulu saya sendiri tidak pernah mengerti apa arti nama yang diberikan kepada saya oleh orang tua saya. Barulah belakangan kemudian saya mencoba mencari-cari apa sebenarnya makna yang terkandung dari nama saya sendiri. Kebetulan waktu itu sedang sibuk mencari nama untuk anak perempuan saya yang pertama. Saya tidak ingin memberi nama asal-asalan yang tidak memiliki makna apapun. Setidaknya ada maksud dan tujuan dari pemberian nama untuk sang anak. Sebaiknya nama memiliki kandungan berupa harapan orang tua terhadap si anak tersebut. Bisa juga nama diberikan untuk memberi gambaran tentang apa yang sedang terjadi atau apa yang menjadi trend saat anak tersebut dilahirkan. Itulah karenanya saya jadi penasaran apa makna dibalik nama indah saya ini. Wohoho....

Nama “Hendro Kusumo” pemberian ibuku ini pernah saya tanyakan kepada beliau, namun beliau sendiri hanya tersenyum sambil mengatakan tidak tahu. Beliau mengaku bahwa nama itu didapatnya begitu saja karena menurut beliau nama itu sudah tepat diberikan kepada anak lelaki pertama beliau ini.

Tapi ternyata, Saudara-saudara, nama saya ini memiliki suatu arti yang sangat mendalam dan futuristik! Tadinya saya hanya tahu bahwa Kusumo itu artinya bunga, sedangkan Hendro waktu itu saya belum tahu. Sehingga pertanyaan pun berlanjut, "Apa hubunganku dengan bunga? Bunga itu 'kan mudah terasosiasi dengan kaum perempuan. Sedangkan diriku ini 'kan lelaki sejati! Kalau tidak percaya mari dibuktikan!" Hohoho....

Akhirnya arti kata Hendro pun terjawab. Seringkali kita mendapati, baik dalam ilmu sejarah, kisah pewayangan, maupun cerita-cerita kuno yang menyebut istilah-istilah seperti: Dinasti Syailendra, Mahendra, Batara Indra, Dewa Indra dan sebagainya. Semua kata dasarnya adalah Indra. Kelihatannya tidak ada hubungannya dengan panca indera.

Kutemukan dalam suatu buku Sejarah bahwa indra itu artinya Raja. Sumber lain mengartikan sebagai Dewa. Barangkali ya memang seputar kedua arti itu: bisa berarti Raja, ataupun Dewa. Atau manusia setengah dewa! Dinasti Syailendra adalah dinasti yang disebut-sebut sebagai pembangun candi Borobudur. Karenanya antara istilah “Syailendra” dan “Borobudur” memiliki arti yang sama, Syail = Gunung, dan Indra = Raja, sehingga diartikan sebagai “Raja Gunung”. Demikian pula Borobudur: Bhara = Gunung; Budha = Raja.

Kemudian “Hendra” merupakan kependekan dari “Mahendra”; “Maha-Indra”, artinya ya Maharaja. Raja dari para raja! King of the Kings ! Berhubung orang Jawa selalu menyebut “Jawa” sebagai “Jowo”, akhirnya Hendra pun menjadi Hendro!

Nah, lalu apa artinya jika dirangkaikan dengan kata kedua menjadi “Hendro Kusumo”? Hendro: MahaRaja; Kusumo: Bunga. Jadi, Raja dari Bunga? Apa raja dari bunga? Mawar? Melati? Atau bunga besar yang di Indonesia hanya ditemukan tumbuh di Kebun Raya Bogor: Rafflessia arnoldi ? Hmmm… mungkin saja aku bisa memakai nama itu sebagai nama aliasku. Namanya sih keren, tapi artinya kok … Bunga Bangkai? Memang sih bunganya berbau bangkai, karena termasuk bunga pemangsa serangga. Jadi baunya itu menjadi pemikat serangga-serangga yang akan dimangsanya.

Ternyata makna Hendro Kusumo jauh lebih futuristik! Karena setelah aku menikah dan punya dua orang anak, ternyata kedua anakku perempuan. Di rumah aku jadi yang paling ganteng! Raja dari cewek-cewek di rumah!

Setelah terpecahkannya misteri itu, sayapun memperoleh ide dalam menamai anak-anak saya. Agar setidaknya memiliki semacam "misteri" yang serupa. Anakku yang pertama kuberi nama Firsta Hannni Enggaring Galih. Nama yang panjang memang! Kuambil dari bahasa Inggris dan Bahasa Jawa. First Honey: buah hatiku yang pertama, begitulah kira-kira. Enggaring Galih artinya “pemikiran yang terbuka”. Maksudnya ya, orang tuanya ini memiliki harapan bahwa anaknya kelak memiliki wawasan yang luas, tidak berpikiran sempit, picik, seperti katak dalam tempurung dan sebagainya! Lalu pada kata kedua ada huruf “n” yang triple; “hannni”. Ini bukan salah cetak, tapi kesengajaan.

N yang pertama maksudnya: Nuhoni dhawuhing Gusti Allah (menunaikan perintah Allah). Lebih jauh lagi harapan orang tuanya agar anaknya menjadi orang yang senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. N kedua: Ngabekti mring tiyang sepuh (berbakti kepada orang tua), baik kedua orang tua kandungnya, nenek dan kakeknya, paman dan bibinya, guru-gurunya dan semua orang yang pantas dihormati. N terakhir: Ngasihi mring sesamining ngagesang (mengasihi sesama hidup); baik yang hidup di alam nyata maupun di alam gaib! Wah … kejauhan! Maksudnya ya, kepada sesama manusia saling mengasihi, dengan binatang juga tidak berlaku kejam, dengan tumbuhan juga demikian, serasi dan selaras dengan alam.

Setelah lahir anak kedua bingung mau kasih nama apa. Sudah kehabisan ide lantaran idenya sudah tertuang habis di nama anak yang pertama. Masih dalam pola yang sama, kuberi dia nama Nexta Wandira Abraning Cahya. Pola sama maksudnya sama-sama empat kata, dari bahasa Inggris dan Jawa. Kalau anak pertama Firsta, anak berikutnya ya Nexta. Wandira (wander = pengembaraan, perjalanan, petualangan) sebagai gambaran bahwa dia lahir di perantauan. Abra berarti bersinar atau berkilau. Abraning Cahya artinya kemilaunya cahaya. Kebetulan karena lahir pagi hari, pada saat cahaya matahari mulai bersinar.

Lalu apa harapannya terhadap anak kedua ini? Pada dasarnya sama. Tidak ada orang tua yang mengharapkan hal buruk untuk anaknya. Harapannya agar dia menjadi anak yang taqwa dalam agamanya, berbakti pada orang tua, serta berguna bagi Nusa dan Bangsanya. Masa depannya pun cerah ceria! Karenanya nama anak yang kedua ini: Nexta Wandira Abraning Cahya, secara keseluruhan dapat diartikan: The next adventure in the brighter future lights!



 Babe, I'll be better rest my head,
rest my weary bones for a while.
'Cause it's not as precious as gold
when I'm holding it inside too long.

Sometimes we look like the stars
shining on the black sky of the night.
The wicked atmosphere of the dark
still the golden stars we are there.

Time is not like the light in the darkness
it's just a kind of trash that comes
from another space, so far away
why must we long for the promises

Babe, let us share all these last years
we spent our last lifetime
for something we called a great
expectation that didn’t come yet!

We don't deserve anything, My Darling
We'll build our world that out of pain
between the dream and the reality
we know just the way we are.

We walk that way proudly
the ordinary things just we believe
break all the rules and pass the limits
we need to breath more than the air!

Babe, let's take a rest for our head, first
rest our weary bones for a minute or two.
'Cause silence isn't really golden
when we're holding it inside too long.