Hari ini sewindu yang lalu aku menghilangkan keperawanan seorang gadis. Dia adalah bekas pacarku yang beberapa hari sebelumnya telah aku putuskan. Gadis itu malah girang tiada kepalang waktu aku putuskan. Loh? Karena waktu itu aku benar-benar memutuskan untuk menikahinya.

Hari ini, Minggu 28 Februari 2010. Tepat delapan tahun yang lalu aku bersanding dengannya di sebuah pelaminan. Pada saat itu aku merasa sebagai manusia paling bahagia di dunia ini. Pada saat yang sama mungkin berjuta gadis telah patah hati dan berjuta jejaka juga sedang kecewa karena ditolak cintanya. Tetapi cintaku tumbuh subur bertaburkan "pupuk" yang komposisinya telah tepat sesuai dosis yang dianjurkan. Halah...!

Kebahagiaan itu juga muncul karena pada hari itu aku dapat melihat diri sendiri sebagai seorang laki-laki yang sempurna, memiliki cinta yang terbalaskan. Meskipun kesempurnaan itu baru dapat dibanggakan setelah "sudah terbukti" dapat memiliki anak dari pernikahan itu, tapi setidaknya waktu itu sudah ada seorang perempuan yang akhirnya mau mengakui aku sebagai suaminya, setelah pencarian panjang.


Mengarungi samudra bukanlah tanpa perjuangan. Tidak bisa diumpamakan hanya seperti air mengalir di hilir yang tenang, meluncur mengikuti arus dan tak dituntut apapun. Jangan hanya dibayangkan bahwa berlayar di samudra yang luas bebas, tanpa batas lantas kita bisa berkehendak sesuka hati. Ada badai, ada arus laut, ada gelombang, ada predator dan ada banyak hal yang menyiksa disana.
Jangan juga membayangkan hidup sebagai seekor burung yang terbang bebas, lepas, tak ada belenggu. Membentangkan sayapnya lalu mengepak-ngepakkannya di udara seakan-akan langit biru hanyalah miliknya. Tahukah kemana burung-burung itu ketika langit menjadi berawan dan hujan? Di saat petir-petir menggelegar dan cuca menjadi kian buruk. Ke mana mereka sembunyi?
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Di setiap tempat di dunia ini, bahkan di tempat-tempat tersembunyi di manapun tidak pernah ada tempat yang benar-benar nyaman untuk didiami. Tidak bisa sekehendak hati. Ada aturan-aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Aturan-aturan yang membatasi kebebasan kita untuk tidak melanggar hak orang lain. Sehingga ketika kita ingin bebas, kita masih terbentur apakah kebebasan yang kita miliki nantinya berdampak kerugian atau perampasan hak bagi orang lain atau tidak. Kenyamanan menjadi semakin relatif dan sering pengorbanan diperlukan untuk sekedar menyalakan api cinta di dalam hati kita.
Tapi ketika api cinta kemudian tidak bisa menyala, pengorbanan seakan menjadi sia-sia. Karena pengorbanan ternyata hanya menginginkan udang di balik batu, bukannya ridho dari Sang Penguasa Alam.



Hidup kita ini kan seharusnya penuh dengan pilihan? Semua sudah ada di depan mata tinggal kita pilih dan menjalaninya. Biasanya juga dalam hidup ada beberapa momen penting, kita harus membuat pilihan berat yang akan menentukan jalan hidup kita dikemudian hari.


Apapun pilihan kita, semua ada konsekuensinya. Makin berat pilihannya nampaknya konsekuensinya juga makin besar. 

Lalu pernahkah suatu ketika kita tidak punya pilihan? Kita hanya punya satu pilihan untuk melakukan sesuatu? Sebenarnya pilihannya tinggal ya atau tidak. Tetapi kalau memilih "tidak", konsekuensinya parah. Jadi terpaksa milih "ya".

Mungkin kita masih bisa terima kalau pilihan semacam ini hanya datang sesekali saja dalam hidup kita. Tapi kalau sudah menjadi menu harian? Apa nggak frustasi?


Harusnya judul diatas berbunyi, "Saatnya Upgrade Windows 7". Tapi apalah dayaku, menggunakan Operating System (OS) yang mahal bukanlah prioritas dalam hidupku. Menggunakan OS yang bagus sih, OK! Tapi kalau mahal? Hmmm... nanti dulu!

Tampilan Windows 7 terakhirku: kinclong!

Menggunakan Windows 7 sudah aku nikmati sejak hampir setahun yang lalu. Waktu itu aku hanya tidak sengaja "menemukan" di sebuah majalah komputer. Aku tertarik membacanya dan akhirnya menginstall sistem dalam DVD yang disertakan di majalah itu: Windows 7 Beta.


Lautku masih biru. Tak pernah kalah biru dengan langitmu. Meski badai menghadang di laut biruku, namun tetap akan teduh untuk biduk cintamu.


Tak terasa sudah dua tahun di Gorontalo, tiga kali pindah rumah. Pertama, waktu datang pertama kali di kota ini. Kedua waktu kontrakan pertama habis, dan ketiga waktu kontrakan rumah kedua habis.
Ternyata pindah rumah bukan sekedar pindah barang dan personilnya saja. Penyesuaian diri perlu dimulai lagi. Pembenahan di sana-sini untuk menunjang aktivitas sehari-hari juga harus dilakukan. Semua itu butuh waktu, tenaga dan tak jarang menimbulkan stress jiwa-raga.
Kali ini Alhamdulillaah sudah tidak ngontrak lagi. Rumah dengan tiga kamar ini kami beli dari seseorang yang kebetulan lagi butuh duit. Relatif lebih murah dibandingkan membeli di perumahan yang baru dibangun.