Alhamdulilaah...

Akhirnya masuk hari tenang juga. Setelah masa-masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) terasa paling seru dan sengit di sepanjang sejarah negeri ini. Ini semua begitu terasa karena tak luput dari gencarnya media massa yang ikut andil dalam memeriahkan pesta demokrasi ini. Mulai dari pemberitaan resmi sampai dengan blog pribadi sama-sama saling serang, saling mendukung jagoannya masing-masing.

Bahkan dalam media sosial seperti Facebook pun ikut rame menulis tentang ini. Baik yang mendukung pasangan calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres) tertentu, maupun yang mengolok-olok pasangan lain yang tidak didukungnya. Selain status yang dipasang, juga komentar-komentar yang tak kalah rame. Bahkan ada yang panjang komentarnya melebihi 500 karakter, baik yang mendukung maupun yang sebaliknya. Ada juga yang sengaja memasang link-link yang bertaut ke pemberitaan tertentu, kemudian rame-rame dikomentari.

Apalagi kalau malamnya ada debat capres-cawapres di televisi. Paginya pasti rame tuh. Saling mengutuk perkataan semalam. Nggak capres yang nomor satu maupun nomor dua, pokoknya dimana ada kata-kata yang dianggap bisa dikritik, dikritiklah. Panjang kali lebar! Seru sekali.

Saya justru terkesan sama yang namanya 'kampanye hitam' atau 'kampanye negatif'. Memang kecenderungan yang saya lihat justru lebih banyak unsur yang demikian. Begitu tercengangnya saya ketika melihat seorang yang kelihatannya baik-baik,mendadak berkata-kata sepedas itu di media sosial . Kata-kata kasar yang sebenarnya tidak pantas diucapkanpun terlontar dalam mencemooh calon presiden yang tidak disukainya. Bahkan lebih hebat lagi, mereka malah berantem sendiri sesama pendukung yang berlainan calon presidennya.

Pernah ngliat UFO nggak?
Kalau alien?
Belum pernah ya? Kalau di film pernah donk?
Belum pernah juga? Parah banget sih lu?
Wkwkwkwk.....

Kalau kamu misalnya suatu ketika ketemu alien, bagaimana perasaanmu? Takut? Kaget?
Atau jangan-jangan kamu malah bernafsu? Jiaah.... tergantung aliennya ya? Cantik apa enggak. Mana ada alien cantik? Alien ya pasti aneh, beda sama kita-kita ini. Tapi ya terserah kamu lah. Cantik itu kan relatif.

Terus kalau kamu tiba-tiba yang menjadi alien gimana? Misalnya kamu tersesat di sebuah planet dengan penghuni yang serba aneh. Kamu paling beda. Aliennya kamu apa mereka? Kamu donk?

Begitulah yang saya rasakan sewaktu hendak mendarat di Papua, Sabtu (07/06/2014) lalu. Bayangkan, saya akan menjadi alien, siap dilihat orang banyak, diperhatikan gerak-gerikku dan diwaspadai. Salah sedikit bisa kesrempet tombak atau anak panah, wah!

Tapi nggak begitu serem juga sih. Setelah beberapa kali browsing alias ngintip-ngintip dikit, ternyata nggak sengeri itu suasananya. Mungkin lebih horor kisah tetangga di areal perumahan saya yang lagi berantem masalah buang sampah beberapa waktu lalu. Santai Bro!

Waktu mengudara terasa begitu lama. Biasanya terbang dari Makassar ke Jakarta dalam waktu 2 jam 10 menit itu sudah terasa lama sekali. Ini sedikit lebih lama, 2 jam 40 menit dari Makassar ke Timika, lanjut 1 jam dari Timika ke Jayapura. Terbang dalam waktu selama itu biasanya membuat badan terasa tidak nyaman. Kesemutan, pegal-pegal, capek, nyeri pinggang, kaku leher, sakit kepala, pokoknya sindrom akibat peredaran darah tidak lancar lantaran kurang bergerak.

Halo?
Apa kabar para sahabat yang seksi dan seksi sekali?
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu dilimpahkan buat kita semua, di awal bulan Mei yang indah dan seksi ini. Seiring rasa syukur yang selalu kita panjatkan dimanapun kita berada. Karena hanya dariNya lah, segala cinta dan kasih sayang bersumber dan berlimpah berupa anugerah yang tak terhitung jua. Fiuuh....

Kali ini saya nggak akan ngomong pakai bahasa metafora dulu deh. Beberapa postingan terakhir memang sarat metafora, sampai kalian kira ini blognya manusia planet mana, gitu. Tapi saya juga nggak akan pakai bahasa tinggi, bahasa dewa, bahasa politik dan hukum yang biasa menggunakan kata "dan/atau", bahasa hewan yang sama sekali saya sendiri nggak ngerti, pokoknya bahasa yang bikin kalian nggak bingung aja lah! Yang jelas bukan bahasa galau ya? Apalagi namanya kalau bukan: bahasa cinta. Ciee... preeetz!

Jujur kalau lagi ngomongin bahasa, nih, jadi inget bahwa kita dulu kan dididik buat bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar, yach? Tapi nggak ngerti kenapa kita cenderung males pakai bahasa resmi itu. Mungkin kalau kita lagi bikin makalah ilmiah atau artikel formal, bolehlah kita makek bahasa itu. Bahkan wajib! Tapi kalau buat dipakai di dunia pergaulan ala social media macam blog gini ya sebaiknya pakai bahasa slang aja kan lebih nyantai, nggak terlalu serius, tapi bukan berarti bahasannya nggak penting. Ya kan? Kayak gini penting? Penting apanya? Ya penting bagi yang berkepentingan lah. Masa' penting dari Hongkong? Kok nggak nyambung ya?

Oke, kembali ke laptop deh. Eh, ngomong-ngomong saya udah lama nggak nonton Tukul Arwana tampil di Bukan Empat Mata. Apa programnya sudah nggak ada ya? Maklumlah, saya kan nggak punya televisi? Hehehe... bukan berarti nggak punya pesawat televisi, hanya saja channelnya nggak ada. Udah diputus! Gara-gara saya nggak bayar langganannya. Hehe... jujur banget ya, saya? Tapi don't try this at home, ya? Ini contoh yang buruk! Jangan ditiru!

Akhirnya sang Jiwa itu terdampar semalaman di sebongkah  benua yang pernah memberinya riwayat indah. Tertidur lelap, tanpa mimpi, melewatkan malam yang sepi tanpa cinta. Masih ada segumpal rindu yang tersisa, walau sebagian telah dia lelehkan bersama sang Sandaran Hati di dalam setangkup tirai biru dan sebatang pohon.

Pagi menjelang, membuka jendela kamar dan menatap surga hijau bagaikan dadahanan di hutan. Cengkerama burung-burung pagi beradu dengan nyanyian merdu televisi dan deru mesin jalanan. Langkah kakipun mengajak untuk memijaki jejak semalam dan mengendus-endus dan memilah sejuta aroma. Embun pagipun terheran-heran seakan bertanya, sedang mencari apa disini. Lalu memalingkan pandang pada bunga-bunga trotoar yang berwarna ungu, menari-nari dalam tiupan angin pagi.

Waktu terus merangkak, berderak, melata bagai moluska. Sang Jiwapun menjelajahi ritual pagi, dari kamar mandi hingga ruang makan sebelum akhirnya kembali ke surga: segumpal awan dan ranjang penantian. 

Menunggu itu laksana membeku dalam dingin. Tapi sang Jiwa kembali menyematkan keyakinan bahwa merpati yang dinanti tak akan ingkari janji dan sang Sandaran Hati akan indah tepat pada waktunya. Namun keresahan akhirnya memaksanya untuk menunggu di dasar samudra, dimana cintanya pernah disatukan dalam pelukan dan kecupan untuk pertama kalinya.

Kucium jejak aroma itu di udara sore yang hangat, ketika aku sedang melayang di atas awan. Diantara hembusan angin yang bertebarkan kerinduan, kutemukan sebuah harapan untuk sekedar menggapainya, dari mana jejak itu berasal. Aku terus mengendus-endus, sepertinya bidadari itu biasa beterbangan disini. Rupanya aku sedang memasuki jalur lalu lintas penerbangan hari-harinya, sehingga aroma itu tak pernah lepas dari atmosfer yang menyelubungi bumi, dimana dia tinggal.

Gemuruh rindu tidak pernah berhenti mengajakku untuk mencumbu senja yang jingga, sebelum tiba-tiba berubah menjadi hitam kelam malam. Aku tahu dia masih berada di sekitaran sini untuk menuai beberapa senandung cinta. Maka akupun mencoba menebar sinyal-sinyal, agar dia tau aku ada disini. Kalau saja ada rindu di hatinya, dia tak akan lari menghindariku. Tapi bila ternyata sebaliknya yang terjadi, ya nggak apa-apa. Aku masih punya waktu bersabar menunggu besok untuk menemukan aroma itu lagi. Karena setiap malam menjelang, jejak itu pasti tiba-tiba hilang, tak terlacak lagi.

Akhirnya kutemukan dia di semacam pintu lorong, yang terbentuk dari sela-sela gumpalan mega yang berwarna senja. Sedang terbang menyambutku. Ternyata dia tidak saja sekedar membaca sinyalku, tapi masih menyala juga kerinduan di hatinya. Rona wajah itu masih sama saja seperti biasanya, dengan tatapan malu-malu, membuang pandang ke arah mega-mega berwarna gradasi biru-jingga dan tak pernah melawan tatapanku terlalu lama.