Entah ini gejala umur atau memang internet yang berubah, belakangan saya sering kangen internet yang dulu. Internet ketika orang masih betah membaca tulisan panjang. Ketika blog masih ramai, forum diskusi benar-benar dipakai untuk berdiskusi, dan Yahoo Messenger masih berbunyi tiap kali seseorang muncul online. Sekarang? Baru lihat tulisan tiga paragraf saja kadang sudah terasa, “Buset, panjang amat.” Hahaha.
Bayangin, saya tulis panjang-panjang di WA Grup. Ngetiknya pakai mikir, pakai capek, pakai energi, yang komentar cuma satu, itupun berupa stiker nyebelin bertuliskan, "Boleh dibaca separo gak?"
Hahahaa....
Dulu masuk internet rasanya seperti membuka pintu ke dunia lain. Saya bahkan pernah punya teman sampai ke luar negeri. Modalnya nekat. Berkirim pesan pakai bahasa Inggris yang entah grammar-nya benar atau tidak. Yang penting kirim dulu. Kalau dibalas, senang bukan main. Kalau tidak mengerti jawabannya, baca tiga kali sambil buka kamus. Google Translate belum sepintar sekarang. Jadi kalau salah ngomong ya salah sungguhan. Malu ya ditahan. Hahaha.
Lalu datanglah Facebook. Orang menulis status panjang. Kadang panjang sekali. Curhat percintaan, politik, agama, pekerjaan, sampai sindiran kepada seseorang yang namanya tidak disebut tapi satu kantor tahu siapa yang dimaksud. Kita membaca komentar satu per satu. Kadang ikut nimbrung. Kadang berantem. Tetapi setidaknya kita membaca. Ada semacam kesabaran yang sekarang rasanya semakin mahal.
Instagram juga punya cerita sendiri buat saya. Akun saya itu mungkin termasuk “artefak sejarah Instagram”. Hahaha. Coba saja lihat postingan pertamanya tahun berapa. Waktu itu saya buat akun saat Instagram masih relatif baru dan belum banyak orang di sekitar saya yang menggunakannya. Saran pertemanan malah banyak memunculkan orang-orang dari luar negeri. Jadilah saya follow sana-sini, berinteraksi dengan bahasa Inggris seadanya. Mungkin karena itulah sampai sekarang setiap caption Instagram saya tetap saya pertahankan dalam bahasa Inggris. Bukan karena sok English. Ini peninggalan sejarah. Jangan diganggu gugat. Wkwkwkwk....


