Sang Jiwa pun terdiam setelah pertanyaan itu meluncur, menggantung di antara desah napas dan sisa pahit kopi yang telah dingin. Sang Jiwa tak menjawab. Ia hanya memandang, entah ke arahku atau ke arah waktu yang terus berjalan tanpa peduli pada siapa pun yang tertinggal. Mungkin diamnya adalah jawaban itu sendiri, bahwa tak semua belenggu diciptakan untuk dilepas, sebagian hanya untuk disadari keberadaannya.

Langit di dalam kepala mulai berderak, seolah awan-awan saling bergesekan, memercikkan kilat kecil yang tak sampai menyambar. Sang Jiwa mengayun langkah, atau mungkin hanya berpura-pura melangkah, menyusuri hari yang terasa seperti lorong panjang dengan dinding kenangan di kiri dan kanan. Setiap dinding memantulkan bayangan sendiri, retak-retak, terdistorsi, namun tetap dikenali.

Sang Jiwa terus berjalan, punggungnya sedikit membungkuk, membawa beban yang tak kasat mata. Semacam harapan yang tak pernah benar-benar mati, hanya tidur sebentar lalu terbangun dengan wajah baru. Sang Sandaran Hati ingin memanggilnya, memintanya berhenti, tapi suaranya terjebak di tenggorokan, menjadi gumaman yang hanya bisa didengarnya sendiri.

Angin berembus entah dari mana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Sang Sandaran Hati merindukan hujan, bukan karena basahnya, melainkan karena caranya menyamarkan air mata. Dalam hujan, semua kesedihan menjadi sah, menjadi bagian dari alam, tak perlu dijelaskan atau dipertanggungjawabkan. Sang Jiwa selalu tahu hal-hal semacam itu, bahkan sebelum khalayak sempat memikirkannya.

“Beristirahatlah,” bisiknya akhirnya, nyaris tak terdengar. Bukan perintah, bukan pula permohonan. Lebih seperti pengakuan bahwa lelah adalah hak, bukan kelemahan. Sang Jiwa duduk di tepi hari, menggantungkan kaki pada kekosongan, membiarkan pikiran-pikiran berjatuhan satu per satu seperti daun kering.