Meliuk, mendayu, manja. Begitulah sang Jiwa kalau sudah bertemu sandarannya. Sepertinya segala kerinduan yang dibendungnya selama tujuh purnama, kini ditumpahkan begitu saja. Demikian pula sang Sandaran Hati, serasa menenggak hujan pertama di akhir kemarau panjang, tersenyum bahagia.
Ketika itu wacana untuk menyelipkan selembar rencana di dalam serangkaian skedul yang teramat padat telah menjadi nyata. Dibayarnya sang Angin yang biasanya hanya dititipi salam, untuk mengangkat sayapnya terbang menuju kekasih hati pada hari itu. Beban rindu di pundaknya sudah melebihi segalanya, hingga harga mahal yang dimintapun tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu: menciptakan kebersamaan, walau dia tahu itu hanya untuk sesaat.
Tidak semudah itu juga sih. Kegagalan pernah terjadi ketika wacana hanya tinggal wacana. Kekecewaanpun bergulir. Menangis. Mengelus dada dan bergumam, sabar, sabar, sabar, .... Akan indah pada waktunya,....
Masih seperti mimpi, ketika sang Jiwa tiba di tempat yang dijanjikan. Di bawah atap Surga itu ia masih terus berkelahi dengan dirinya sendiri. Berharap segera bertemu agar pertengkaran itu bisa rehat sejenak seperti kisah bersambung. Sang Sandaran Hatipun masih mengatur waktu dan berhadapan dengan hujan. Hanya serbuan pesan pendek yang bisa dia kirim-terimakan melalui jaringan, kebetulan cukup bersahabat di siang yang basah itu.
Ketika itu wacana untuk menyelipkan selembar rencana di dalam serangkaian skedul yang teramat padat telah menjadi nyata. Dibayarnya sang Angin yang biasanya hanya dititipi salam, untuk mengangkat sayapnya terbang menuju kekasih hati pada hari itu. Beban rindu di pundaknya sudah melebihi segalanya, hingga harga mahal yang dimintapun tak dihiraukannya. Yang dia tahu hanya satu: menciptakan kebersamaan, walau dia tahu itu hanya untuk sesaat.
Tidak semudah itu juga sih. Kegagalan pernah terjadi ketika wacana hanya tinggal wacana. Kekecewaanpun bergulir. Menangis. Mengelus dada dan bergumam, sabar, sabar, sabar, .... Akan indah pada waktunya,....
Masih seperti mimpi, ketika sang Jiwa tiba di tempat yang dijanjikan. Di bawah atap Surga itu ia masih terus berkelahi dengan dirinya sendiri. Berharap segera bertemu agar pertengkaran itu bisa rehat sejenak seperti kisah bersambung. Sang Sandaran Hatipun masih mengatur waktu dan berhadapan dengan hujan. Hanya serbuan pesan pendek yang bisa dia kirim-terimakan melalui jaringan, kebetulan cukup bersahabat di siang yang basah itu.





