Fenomena kehidupan memang silih berganti. Hilang timbul seperti riak gelombang di lautan. Kalau pas timbul, dia bisa begitu hebat. Menjadi trending topic di mana-mana. Mulai dari pembicaraan di warung-warung gorengan sampai di media sosial. Kalau sudah saatnya hilang, diapun lenyap seperti hantu. Kadang hilang tak berbekas.

Nah, kali ini sepertinya kita kembali ke jaman batu. Orang begitu tertarik dengan bebatuan sebagai perhiasan dan koleksi. Kalau dilirik sekilas memang ada menariknya disana. Ada banyak jenis dan warnanya. Bahkan klasifikasinya pun jelas, ada yang termasuk kategori barang mahal, ada juga yang biasa-biasa saja. Harganya bisa berkisar ratusan ribu sampai ratusan juta. Bahkan ada yang mencapai miliaran.

Herannya lagi, batu perhiasan bukan hanya laku dijual sebagai barang jadi yang sudah berupa cincin atau liontin. Batu yang masih berupa bongkahan pun laku dijual dengan harga puluhan ribu sampai jutaan rupiah.

Penjual batupun menjamur di setiap sudut kota. Menjual aneka bongkahan batu mentah yang digelar di atas selembar karung bekas sampai dengan batu yang dipajang di lemari kaca dengan dudukan berputar disertai pencahayaan yang menarik.

Batu perhiasan ini dikenal dengan nama "akik". Kalau mau tau tentang batu akik yang paling populer dan mahal harganya, kamu bisa lihat di www.akiks.com.

Nah, pada kesempatan ini saya hanya mau unjuk gigi saja. Satu-satunya batu akik yang saya punya sampai dengan blog ini saya tulis, saya jadikan istimewa. Dia bisa "mengambang" di udara. Jelas ini trik, tapi bagaimana saya melakukan trik itu?

Mata terbuka di pagi hari itu, menatap ke langit-langit. Bengong dengan pikiran nyang nyaris kosong, lalu pikiran itu mulai merayap dan akhirnya mengembara. Mimpi semalam begitu indah hingga rasanya ingin melanjutkan lewat angan-angan. Namun ketika tahu bahwa mimpi tak bisa bersambung, hatipun kecewa. Hampa. Tak tahu lagi harus melakukan apa selain diam dan bengong.

Menggerutu di pagi hari hari ketika kenyataan begitu pedih. Ada amarah dan penolakan. Ada pengingkaran dan penyangkalan yang hanya membuat kegetiran semakin dalam. Tak ada lagi yang lebih baik selain terdiam, terpaku dan membisu seribu bahasa. Walau tak sadar air mata ingin saja meleleh membanjiri pipi.

Nafas seakan berhenti sejenak ketika air mata sudah mengering. Rasanya ingin kembali bermimpi dan mengejar impian, tak peduli seperti apa fakta dan kenyataan itu. Hanya sekedar melanjutkan perjalanan. Menerima kenyataan bukan semudah membalikkan telapak tangan. Terjaga dengan kenyataan pahit sungguh sangatlah sulit. Sangatlah berat membiarkan mimpi indah dalam genggaman terbang begitu saja, memupus segala keinginan. Jiwa yang besar harus bisa menerimanya, sadar diri tidak boleh egois. Bagaimanapun, perjalanan harus dilanjutkan dan waktu pasti akan menyembuhkan.

Hidup memang kosong dan hampa. Mimpi pun hanya akan membuat larut dalam kepalsuan. Masih ada banyak mimpi lain yang masih bisa direka untuk menjadi kenyataan. Begitu banyak kesempatan untuk membenahi dan menata diri. Pohon yang tinggi tidak akan mungkin tumbuh tanpa terpaan angin kesabaran dan ketekunan. Melakukan kesalahan itu sudah biasa, tak mengapa juga bila harus mengulangnya kembali dari semula.

Saya pernah dengar orang bilang, kalau kamu ngaku pernah ke Papua, belum ke Papua itu namanya kalau kamu belum ke Wamena. Dimana itu Wamena? Di Kabupaten Puncak Jaya, sebuah lembah di bawah gunung Jayawijaya bernama lembah Baliem. Di sana suku pedalaman berada. Tempat hidup para penduduk asli Papua.

Walaupun banyak ragam suku dan peradaban yang tersebar mulai dari Sorong, Manokwari, Biak, Timika, Jayapura dan Merauke, tapi yang namanya Wamena ini secara geografis berada di pusat (pertengahan) daratan besar Papua. Jadi boleh saya katakan, di sanalah inti dari keaslian Papua yang sebenarnya.

Nah, beberapa waktu lalu saya sempat mengunjungi tempat paling eksotis itu. Urusan pekerjaan, sih. Biasa, akhir tahun ternyata seru untuk menyelenggarakan petualangan. Apa lagi kalau bukan karena banyaknya target-target yang belum tercapai. Target-target ini biasanya menumpuk di akhir tahun dan mengharuskan untuk dikejar agar pencapaiannya maksimal.

Lho, mengapa harus ditumpuk di akhir tahun, sih? Kenapa nggak dilaksanakan di awal-awal tahun? Masih banyak waktu, kan? Lalu ngapain aja awal tahun? Nganggur? Ntar aja deh njelasinnya. Sekarang ngomongin petualangan dulu, biar tetap seru dulu!

Ceritanya saya harus mengantar klien saya untuk melakukan tugasnya di sana. Enggak mungkin dia jalan sendiri ke sana tanpa didampingi. Saat itu pembagian tugas sangat ketat, akhirnya saya memang harus menerima tantangan untuk ikut blusukan ke daerah yang konon kabarnya penuh konflik dan keprimitifan itu.

Hari ini mungkin sudah ada sekitar sebulan aku merasakan Internet lemot, baik dari koneksi seluler di ponsel pribadi maupun koneksi kabel di kantor. Hal yang sebenarnya bikin bete banget, karena di jaman Internet ini seakan semuanya sangat tergantung dengan Internet. Untuk memulai pekerjaan juga sudah terpola seperti itu, tidak lepas dari membuka kembali apa yang menjadi hot issue hari ini melalui koneksi yang bernama Internet itu.

Biasanya kita membuka e-mail dulu untuk mencari tugas-tugas yang harus diselesaikan hari ini, kalau tidak ada, baru menyelesaikan tugas lain yang kemarin belum kelar. Tidak jarang di hari kerja kita sering mendapatkan tugas cito alias dadakan untuk diselesaikan hari itu. Tapi kalau Internet tidak bersahabat, sering kali kita tidak tahu. Nanti tahunya sudah terlambat mendekati deadline waktu, akhirnya kelabakan dan hasilnya harus pulang malem untuk menyelesaikannya sampai tuntas.

Kalaupun tidak ada tugas cito, tugas kemarinpun kalau sudah selesai, untuk dikirim juga tidak bisa. Oh, betapa susahnya kalau koneksi Internet bermasalah, pada saat jaman sudah menuntut informasi harus dialirkan seperti halnya streaming.

Itu urusan kerjaan. Kalau hari libur lebih bete lagi. Tidak ada hiburan yang lebih seru daripada bermain ponsel, browsing informasi-informasi yang menghibur, baca-baca berita, atau menuangkan gagasan dalam bentuk postingan di Fesbuk, Twitter, atau bahkan Blog. Padahal salah satu hobi saya itu juga membuat jepretan foto dan mengaplod gambar di Instagram. Kalau Internet lelet, jadi males juga akhirnya bikin foto dan ngetik di blog. Yang pasti lagi, ketinggalan berita!

Lho kan ada sarana lain? Radio, televisi, surat kabar?

Kurang lebih sudah dua minggu lebih saya nggak main-main di Fesbuk. Padahal sebelumnya hampir setiap hari paling rajin main di sana. Walaupun nggak update status, tapi setidaknya komen-komen atau sekedar baca-baca celoteh temen yang kadang bikin geli.

Akhir-akhir ini lemotnya jaringan semakin bikin putus asa. Aplikasi fesbuk yang biasanya menghadirkan berita-berita yang biasanya di-share oleh teman-teman, sekarang tidak terasa lagi. Yang ada hanyalah berita basi yang sudah banyak dikomenin dan sudah nggak dibahas lagi.

Dalam pekerjaanpun, koneksi internet semakin membikin tambah stress. Download lampiran dari e-mail seringkali terputus dan tidak bisa terbuka alias corrupt. Walaupun kadang koneksi terasa begitu lancar, tapi seringkali juga putusnya sedemikian lama. Kalau misalnya saya harus mengirimkan laporan yang sudah mendekati deadline-nya, ini merupakan hal paling memusingkan dan bikin frustasi.

Pada saat yang sama datanglah php (pemberi harapan palsu) berupa hadirnya tekhnologi baru sinyal 4G LTE yang katanya super-cepat. "Sinyal Internet seluler" generasi ke empat "Long Term Evolution" itu pastinya akan diklaim sebagai sarana koneksi internet paling cepat saat ini. Kehadiran koneksi 4G LTE (Long Term Evolution) diyakini mampu meningkatkan produktivitas rakyat disegala bidang.