Sepasukan bersenjata pedang dan tombak sudah hadir di depan mataku, siap merangsek masuk ke dalam gerbang kota Caruban yang saat ini aku jaga. Ada sekitar 1500 orang anggota pasukan yang sengaja hendak menyerbu kota, sedangkan aku sendirian. Sungguh ini tidak masuk akal.

Sudah lama rakyat Caruban tidak bayar pajak dan upeti kepada sang Raja. Paceklik yang melanda beberapa kali sempat membuat perekonomian kami hancur. Pajak dan upeti itu hanya menambah masalah saja. Maunya penguasa hanya mengeruk harta, tanpa memandang kondisi kami yang merana. Masih bagus kalau membantu, perhatianpun tidak. Tidak peduli kondisi sedang mencekik, para penguasa malahan menambah beban derita rakyat. Jangankan buat bayar pajak, menghidupi keluargapun rakyat kami terseok-seok.

Mungkin karena alasan itulah mereka mendatangkan pasukan untuk menghancurkan kota kami, yang menurut pandangan mereka mungkin sudah dianggap memberontak.

Entah setan mana yang merasukiku, hingga aku mau-mau saja menjalani peranan ini. Seorang kesatria tua yang mendapat kepercayaan menjaga gerbang kota seorang diri hanya dengan bersenjatakan sebilah pedang tua yang tumpul.

Walau berada di bawah matahari yang terik, aku mencoba untuk tetap berdiri tenang. Segala kemungkinan yang terjadipun siap aku hadapi. Aku hanya perlu tahu, apakah aku benar-benar harus bertarung, ataukah sebatas negosiasi dengan pimpinan pasukan yang siap tempur itu.

Seorang diantara mereka akhirnya datang mendekatiku, seorang pemuda tampan berbadan tegap mengendarai kuda hitam legam. Dengan pakaiannya yang mentereng itu, sepertinya dia seorang pejabat kerajaan yang tidak main-main. Dengan menunggang kuda hitamnya ia mendekatiku lalu turun dan memberi hormat kepadaku.

Libur panjang lebaran sudah mau habis nih. Yang mudik juga sudah mulai ada yang balik. Tahun ini aku nggak mudik lagi. Jadi sudah 2 kali lebaran tidak pulang. Pesan senior: kalau bisa jangan sampai 3 kali, deh. Ntar nyaingi bang Toyib, lagi.

....♪♬...tiga kali puasa, ♪...♬...
....♪..♪...tiga kali lebaran....♪♬...
....♪♬...Abang gak pulang-pulang....♬...♪..
...♬...♪...sepucuk surat tak datang ♪♪..♬..

Setidaknya kerinduanku udah nggak menderu seperti dulu. Entahlah, mungkin karena ada beberapa teman yang ternyata juga tidak pulang mudik tahun ini. Lagian aku juga sudah telpon buat mengendorkan muatan impuls di saraf kerinduan. Emang ada ya, saraf kerinduan? Secara ilmiah sih nggak ada. Ini istilahku sendiri.

Yang jelas tempatnya di otak, yang mengatur perasaan dan emosi. Disitu ada semacam lokus yang mengeluarkan persepsi berupa kerinduan.

Aku juga nggak tahu apakah kerinduan itu sembuhnya hanya dengan bertemu atau bisa luntur seiring berjalannya waktu? Tapi setidaknya aku bahagia hidup di era komunikasi digital sekarang ini, manfaatnya sudah banyak dirasakan orang, terutama untuk mengurangi simptom kerinduan yang banyak diderita orang.

Kali ini aku nggak akan ngobrolin soal tekhnologinya, tapi soal kerinduannya. Nggak tau kenapa ini jadi menarik bagiku untuk diulas. Direnungkan.

Duduk sendiri di pojokan
Memeluk rembulan

Gue nggak ngerti alur cerita ini
Tahu-tahu aja gue disini
Tersesat di ujung sunyi

Gue nyoba aja memetik gitar
Nurutin hati gue yang ingin nyanyi
Gue tahu suara gue jelek
Tapi bukan suara gue yang ingin gue perdengarkan
Hati gue ini, lho. Menjerit terus...

Lagunya ya, yang kemarin sore itu
Lagu lama, sih. Sekalian aja mau flash back
Lagu baru gue banyak yang gak ngerti (kuncinya)

Gue mulai meraung
Senar gitar gue aja nyaris putus
Tetangga gue terganggu
Gue mau dilempar batu
Tapi mereka masih baik hati
Tahu kalik, kalau gue lagi kumat?

Gue tau mestinya gue harus begitu-begitu
Bukan malah begini-begini
Ya sori saja, sebenarnya gue sadar sih
Kalau gue itu salah
Mestinya gue introspeksi. Gitu, kan?
Tapi nyatanya gue belum bisa insaf sekarang


Ngapuranen aku, ya, Nimas?
Amarga mangajab ing pepisahan iki
Mungguh aku mangerteni rasa tresna ing atimu
Nanging kabeh wis mokal bisane kelakon

Nimas, lali-lalinen aku saka sajroning atimu
Lalenana uga reronce critaning katresnan kang wingi
Aku ora ngira uga kabeh bakal kaya mangkene
Nimas, coba mangertenana wae

Ngapuranen aku sepisan maneh,
Nadyan sliramu isih ing atiku
Nadyan tresnamu isih rumaket
Sing gedhe ngapuramu, Nimas!

Aku ngerti laraning atimu
Nanging percayaa marang aku, Nimas!
Sliramu bakal ketemu katresnan
kang luwih becik tinimbang aku

Waktu masih ABG dulu, saya punya banyak energi untuk melakukan berbagai hal. Saya juga punya banyak waktu untuk itu. Yang tidak saya punya adalah uang. Keuangan masih bergantung sama orang tua.

Setelah sekarang saya bisa mendapatkan uang sendiri, saya tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal selain pekerjaan saya yang menghasilkan uang itu. Tentu saja saat ini energi saya masih sangat cukup untuk melakukan banyak hal.

Nanti kalau sudah pensiun, menginjak lansia, giliran energi yang lemah. Uang mungkin masih ada. Waktu yang tersedia sangat berlimpah.

Nah, kalau digambarkan dalam bentuk tabel, kira-kira seperti yang berikut akan kita lihat.

Hampir semua orang memiliki pola yang sama. Rata-rata begitu. Kalau kita menyadari hal ini lebih awal, kita bisa menentukan sikap agar di setiap rentang masa itu kita bisa menikmatinya dengan sempurna.

Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi masa berikutnya. Kita perlu mempersiapkan diri menyongsong masa berikutnya dengan tujuan agar masa selanjutnya itu tidak menemui kegagalan.

Jadi ketika masih abege, dimana energi dan waktu kita masih banyak, kita harus mengantisipasi suatu periode dimana waktu kita akan banyak tersita. Bagaimana caranya agar waktu yang ada dapat digunakan secara efektif, juga efisien.