Sepasukan bersenjata pedang dan tombak sudah hadir di depan mataku, siap merangsek masuk ke dalam gerbang kota Caruban yang saat ini aku jaga. Ada sekitar 1500 orang anggota pasukan yang sengaja hendak menyerbu kota, sedangkan aku sendirian. Sungguh ini tidak masuk akal.
Sudah lama rakyat Caruban tidak bayar pajak dan upeti kepada sang Raja. Paceklik yang melanda beberapa kali sempat membuat perekonomian kami hancur. Pajak dan upeti itu hanya menambah masalah saja. Maunya penguasa hanya mengeruk harta, tanpa memandang kondisi kami yang merana. Masih bagus kalau membantu, perhatianpun tidak. Tidak peduli kondisi sedang mencekik, para penguasa malahan menambah beban derita rakyat. Jangankan buat bayar pajak, menghidupi keluargapun rakyat kami terseok-seok.
Mungkin karena alasan itulah mereka mendatangkan pasukan untuk menghancurkan kota kami, yang menurut pandangan mereka mungkin sudah dianggap memberontak.
Entah setan mana yang merasukiku, hingga aku mau-mau saja menjalani peranan ini. Seorang kesatria tua yang mendapat kepercayaan menjaga gerbang kota seorang diri hanya dengan bersenjatakan sebilah pedang tua yang tumpul.
Walau berada di bawah matahari yang terik, aku mencoba untuk tetap berdiri tenang. Segala kemungkinan yang terjadipun siap aku hadapi. Aku hanya perlu tahu, apakah aku benar-benar harus bertarung, ataukah sebatas negosiasi dengan pimpinan pasukan yang siap tempur itu.
Seorang diantara mereka akhirnya datang mendekatiku, seorang pemuda tampan berbadan tegap mengendarai kuda hitam legam. Dengan pakaiannya yang mentereng itu, sepertinya dia seorang pejabat kerajaan yang tidak main-main. Dengan menunggang kuda hitamnya ia mendekatiku lalu turun dan memberi hormat kepadaku.
Sudah lama rakyat Caruban tidak bayar pajak dan upeti kepada sang Raja. Paceklik yang melanda beberapa kali sempat membuat perekonomian kami hancur. Pajak dan upeti itu hanya menambah masalah saja. Maunya penguasa hanya mengeruk harta, tanpa memandang kondisi kami yang merana. Masih bagus kalau membantu, perhatianpun tidak. Tidak peduli kondisi sedang mencekik, para penguasa malahan menambah beban derita rakyat. Jangankan buat bayar pajak, menghidupi keluargapun rakyat kami terseok-seok.
Mungkin karena alasan itulah mereka mendatangkan pasukan untuk menghancurkan kota kami, yang menurut pandangan mereka mungkin sudah dianggap memberontak.
Entah setan mana yang merasukiku, hingga aku mau-mau saja menjalani peranan ini. Seorang kesatria tua yang mendapat kepercayaan menjaga gerbang kota seorang diri hanya dengan bersenjatakan sebilah pedang tua yang tumpul.
Walau berada di bawah matahari yang terik, aku mencoba untuk tetap berdiri tenang. Segala kemungkinan yang terjadipun siap aku hadapi. Aku hanya perlu tahu, apakah aku benar-benar harus bertarung, ataukah sebatas negosiasi dengan pimpinan pasukan yang siap tempur itu.
Seorang diantara mereka akhirnya datang mendekatiku, seorang pemuda tampan berbadan tegap mengendarai kuda hitam legam. Dengan pakaiannya yang mentereng itu, sepertinya dia seorang pejabat kerajaan yang tidak main-main. Dengan menunggang kuda hitamnya ia mendekatiku lalu turun dan memberi hormat kepadaku.





