Mungkin kamu pernah mendengar cerita heroik tentang penyelamatan korban kebakaran dan pemadaman api dahsyat yang terjadi. Pelakunya lantas mendapatkan berjuta pujian dan sanjungan. Seketika itu juga sang pelaku penyelamatan dan pemadaman api mendapatkan popularitas. Kebakaran tersebut dipicu masalah sepele, yaitu adanya orang yang merokok di dekat orang jualan bensin. Dia sempat ditegur oleh seseorang. Tapi orang yang menegur itu tidak ketahuan lagi siapa orangnya. Kalah populer sama orang yang memadamkan api tadi.

Tindakan pencegahan memang tidak pernah populer untuk dilakukan, tidak menarik. Tetapi tindakan pemadaman kebakaran bisa jadi malah disanjung-sanjung.

Orang lebih tertarik mengembangkan tekhnologi pemindaian otak daripada mengembangkan pencegahan penyakit stroke atau kanker. Orang lebih suka berdebat masalah banjir daripada memperbaiki perilaku membuang sampah sembarangan. Orang lebih menghargai upaya menangani kemacetan lalu lintas daripada perencanaan dan pembangunan infrastruktur jalan. Orang lebih memilih peran yang lebih populer dengan fokus pada sebuah akibat langsung daripada mencegah dampak buruk yang belum tampak di muka mereka.

Kita seringkali tidak pernah peduli pada penyebab suatu masalah. Nanti kalau masalah sudah berulang dan terakumulasi, barulah analisis-analisis dilakukan untuk menemukan penyebabnya. Setelah penyebab diketahui, orang pun hanya sekedar tahu saja tanpa bersedia dengan sukarela mengubah perilakunya. Lebih nyaman tanpa perubahan. Perubahan dianggap terlalu menyakitkan. Tetapi ketika melihat fenomena yang terjadi selanjutnya, seolah tanpa dosa, tanpa tahu kalau sebab-akibat itu terus berantai membentuk efek domino yang tidak pernah berakhir.

Ya, kamu tidak salah baca. Bukan judul film “Ada Apa dengan Cinta” (AADC) yang saya maksud. Bukan juga tentang Dian Sastro yang pernah menjadi primadona dan buah bibir disaat AADC dan AADC2 sedang “meledak”. Lalu kenapa gambar yang dipasang kok gambarnya si Dian Sastro? Ya, karena dia itu cantik dan mempunyai organ tubuh yang seksi .... Hmmm....

Ini ngomongin Cina. Ya, Cina yang merupakan bangsa dari negeri tirai bambu itu, bukan ras cina yang sudah menjadi warga negara Indonesia yang hidup berdampingan dengan kita-kita. Ada yang menulisnya China, ada yang Cina tanpa huruf “h”. Entah mana yang benar, saya belum sempat konfirmasi ke KBBI daring maupun luring. Yang jelas saya sudah kebelet mau cerita tentang Cina ini.

Ditengah kekhawatiran bangsa kita akan adanya invasi besar-besaran bangsa Cina, di tengah hiruk-pikuk keberadaan bangsa Cina yang tahu-tahu sudah merebak dan tersebar di tengah-tengah kehidupan kita, masih belum hilang dari ingatan adanya wilayah tanah air kita yang diduduki oleh bangsa Cina, termasuk hadirnya kapal-kapal perang Cina yang sempat menerobos masuk ke perairan negeri ini.

Bahkan mungkin sebagian orang sudah ada yang bersiap siaga menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi ke depan. Ada banyak tanya terbersit dalam hati, yang juga belum terjawab.

Kemarin tetiba saja saya mendapati kunjungan pemirsa di blog ini seakan “meledak”, dari kunjungan mingguan di bawah 200 pengunjung perminggu, lha kok tiba-tiba kemarin kulihat sampai 3000an pengunjung. Ada apa ini? Hal ini juga pernah terjadi waktu itu di tahun 2012 orang Suriname yang menyerbu kesini, seakan datang berbondong-bondong, entah memang banyak orang atau hanya satu orang yang melakukan kunjungan berulang kali. Tapi yang jelas, waktu itu sempat ada seorang bapak asal Suriname yang komentar di tulisan saya, lalu terjadilah beberapa percakapan.

Mungkin belum banyak yang tahu bahwa saat ini Revolusi Industri ke-4 tengah berjalan. Gejalanya sudah mulai terasa dengan lahirnya artificial intelligence serta terlibatnya dunia virtual secara masif. Bagaimana Revolusi Industri itu bisa mencapai 4.0? Seperti apa saja perkembangannya? Saya coba membuat ringkasan berdasarkan pencarian dari berbagai sumber:

Revousi Industri I – Tenaga Mesin menggantikan Tenaga Manusia
Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.

Revolusi Industri II – Mesin Produksi Massal
Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinati pada 1870.

Revolusi Industri III – Komputerisasi dan otomasi
Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.

Revolusi Industri IV – Digitalisasi
Nah, sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things.
Rupanya Presien Joko Widodo cukup jeli melihat peluang ini dan dianggap bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi. Sehingga dibentuklah roadmap dengan nama Making Indonesia 4.0.

Demikianlah catatan singkat saya, semoga mencerahkan. Hehehe....

Pada hari ini dunia sedang menghadapi fenomena disrupsi (disruption), yaitu suatu situasi pergerakan dunia industri atau persaingan kerja yang tidak lagi linier. Perubahan yang terjadi sangat cepat, fundamental dengan “mengacak-acak” pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru.

Disrupsi ditandai dengan lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif. Menurut Clayton M Christensen perubahan mendasar ini sifatnya juga destruktif, menggantikan seluruh cara kerja yang lama dengan yang baru. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, dunia pendidikan dan juga kesehatan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah. Teori Darwin yang menyatakan bahwa makhluk hidup yang dapat beradaptasi terhadap perubahan alam akan tetap lestari, sedangkan yang tidak mampu akan punah, ini akan berlaku juga dalam dunia manusia modern sekarang ini.

Banyak yang menganggap disrupsi hanya berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi yang marak belakangan ini, atau lebih spesifiknya lagi selalu soal taksi online. Memang fenomena ini menjadi contoh mudah dalam menjelaskan terjadinya disrupsi. Kita bisa melihat femomena ini secara nyata dan pernah terjadi demo besar-besaran dari para sopir taksi yang mewakili perusahaan taksi yang menolak kehadiran taksi online. Bahkan di beberapa daerah dan beberapa tempat seperti di bandara, terdapat larangan beroperasinya taksi online di area tersebut.

Contoh mudah lainnya adalah tenggelamnya raksasa besar di bidang telepon seluler Nokia, yang tergeser oleh kompetitor lain seperti Samsung. Sebelum itu kita mungkin sudah hampir lupa bahwa dulu pernah ada teknologi radio panggil bernama Pager yang hilang karena hadirnya teknologi SMS (Short Messaging Service) di ponsel. Disamping itu juga kita sekarang tidak menyadari sudah tidak ada lagi wartel dan warnet yang dulu pernah menjamur di mana-mana.

Suatu saat karena lama tidak nongol di medsos, saya sempat mengintip obrolan di sebuah grup WhatsApp teman-teman sekolah dulu. Saya dapati mereka sedang berencana pergi ke pantai bersama-sama. Ada usulan-usulan ke pantai A, pantai B, pantai C, dan sebagainya. Saya tidak ikut nimbrung. Percuma saja toh saya tidak berada di Jawa. Saya juga belum tentu dalam waktu dekat akan berkumpul bersama mereka.

Kalaupun saya pulang ke Jawa paling akan menjenguk keluarga saya dulu, itupun waktu saya sudah habis. Kerja ikut orang ya harus ikut aturan orang, tidak bebas menentukan kapan bisa pulang. Harus ada perencanaan matang untuk sebuah cuti panjang.

Karena sudah terlanjur kangen dan kondisi belum bisa memungkinan pulang, maka sayapun hanya menelusuri jalan melalui aplikasi Google Map dan menemukan foto di lokasi yang terlebih dulu ditandai. Lumayan, serasa jalan-jalan walau hanya di angan-angan. Hiks.... Segitunya....

Seperti biasa, saya hanya menyimak saja. Dalam hati, saya sudah setiap hari melihat pantai. Saya justru pingin melihat hamparan sawah yang hijau dengan aromanya yang harum khas aroma padi tercium saat angin berhembus sepoi-sepoi. Pantai sudah menjadi makanan sehari-hari saya. Tentu ini akan menjadi sebaliknya bagi mereka. Setiap hari yang dilihatnya hamparan kota yang sudah penuh sesak dengan kemacetan jalan. Panasnya kemarau yang terik tak sempat membuat keringat menetes, langsung menguap. Panas kering udara di tengah daratan Jawa seperti di Solo dan sekitarnya.

Begitulah polanya. Orang daratan merindukan pantai, orang pantai merindukan daratan.