“Satu suapan lagi! Habis ini boleh tidur.” katanya sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutku. Dengan malas kuturuti kata-kata itu, aku membuka mulut dan berjuang keras untuk melawan rasa mual di perutku, agar makanan yang telah kutelan tidak tumpah lagi. Ini suapan terakhir semoga tidak mengacaukan semuanya. Sambil mengunyah pelan-pelan, aku benahi selimut tidurku dan mencoba memejamkan mata. Rohmi beranjak pergi, mungkin ke dapur. Biasanya dia menghabiskan sisa makananku itu sebelum akhirnya menyusulku tidur.

Malam beranjak larut. Mataku terbuka kembali seketika Rohmi merebahkan tubuhnya di sebelahku. Sempat kulihat wajah letihnya yang menyiratkan perasaan pilu. Perempuan itu masih setia menemaniku hingga di usia senja seperti ini. Diapun mulai memejamkan mata. Aku sering memperhatikan raut wajahnya yang belakangan semakin menunjukkan penderitaan. Bukan lantaran merasakan penderitaan yang kualami, tetapi penderitaan yang lain. Entah karena apa. Aku tidak bertanya. Paling-paling dia tidak lagi mau bercerita. Alasannya sudah bisa ditebak: tidak mau menambah penderitaanku.

Perempuan itu tertidur semakin lelap. Wajahnya yang redup seperti rembulan, seakan menahan kepedihan hatinya. Rohmi… andaikan saja aku masih akan sehat seperti hari-hari lalu… niscaya aku akan lebih membahagiakanmu lagi. Kesetiaanmu begitu dalam, saat ini aku tak sanggup membalasnya dengan apapun. Sekarang aku lebih banyak membebaninya dengan sakitku. Tapi aku juga tidak pernah meminta sakit. Dia datang begitu saja tanpa permisi. Dokter bilang aku sudah stadium lanjut. Sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Aku hanya tinggal menunggu waktu dan keajaiban.

“Kedelep…! Kedelep…! Kedelep…!”

“Opo to kuwik?”

“Aku sing ngendhangi, kowe sing nyanyi!”

“Weh … wegah! Aku raisoh nyanyi!”

“Yowis, neknu kowe sing ngendhangi…. Ndang!”

“Kedelep…! Kedelep…! Kedelep…!”

“Wakakakakakak……!”

“Lho, malah ngakak?”

“Lucu!”

“Kendhang kok kedelep-kedelep, apane sing kedelep? Aku kok dadi mbayangke sesuatu sing ora-ora.”

“Yen ngono ganti … icikiwirrr… icikiwirrr…”

“Kaya-kayane penak yen dadi pelawak yo? Uripe mung ngakak thok, bayare akeh!”

“Ah, yo ora mesthi! Urip iku katone wang sinawang. Nyawang leliyan katone enak-kepenak, nanging sing nglakoni yo babak bundhas, wong liya ora ngrasakake. Rumput tetangga nampak lebih hijau dari rumput sendiri. Istri tetangga tampak lebih cantik dari pembantu kita di rumah. Rak yo ngono to, Dul?”

“Halah, omongmu ki lho! Nggedhabrus! Wang-sinawang kok malah nyawangi istri tetangga!”

Sang Malam mengajakku mendekam dalam kamar. Kali ini aku ditemani angan-angan saja, karena internet yang biasanya kusetubuhi kini tengah mati. Biasanya listrik juga mati jam segini, tetapi tumben-tumbennya malam ini begitu gemerlap.

Di kampung ini sudah tak ada lagi bola lampu remang-remang dengan cahaya redup bagaikan lilin. Bola lampu temuan Thomas Alfa Edison itu tidak lagi digunakan di era hemat energi seperti sekarang ini. Digantikan dengan lampu-lampu fluoresen dan bahkan lampu yang terbuat dari semikonduktor canggih yang keren dengan namanya LED (Light Emitting Diode).

Tetapi ada yang selalu sama di kampung ini. Selepas isya, tak ada lagi kehidupan di jalan-jalan. Orang lebih suka mengurung diri di rumah, menghadap berhala-berhala mereka yang disebut televisi. Ya, televisi, benda itu memang dari dulu selalu mengurung orang-orang kampung untuk diam di dalam rumah masing-masing. Seperti tersihir oleh apa yang mereka lihat. Kadang saya bertanya, mengapa mereka begitu terhipnotis oleh berhala-berhala itu. Tetapi mungkin mereka juga sebaliknya bertanya, mengapa aku tak menonton televisi dan malah berlama-lama berduaan dengan ponpin? Kadang senyum-senyum sendiri di depan layar sempit itu, seperti orang gila kehilangan makna. Sama-sama pemilik berhala, hanya saja berbeda bentuk lantaran beda selera saja.

Kali ini mereka seperti nyukur-nyukurin aku yang tersesat sendirian di alam nyata kehilangan dunia maya. Sementara mereka asyik masyuk dengan dunia maya yang lain, berpesta pora dengan tontonan penuh hura-hura dan canda tawa. Aku merasa terasing. Sendiri di dalam kamar, memeluk sang Malam dan membiarkan semua angan-anganku beterbangan ke manapun mereka mau menuju.

Saderengipun, mbok manawi lepat kula nyuwun sih pangapunten ingkang tanpa umpami. Awit dumugi mriki kula dereng saged ngleksanani punapa ingkang dipun dhawuhaken dening Kanjeng Begawan. Sinaosa sampun makaping-kaping dipun pengetaken, dipun wucal, saha dipun paringi pitedah maneka warni, kula naming ndableg kemawon.

Kados padatan, mbok manawi Kanjeng Begawan sampun nyumurupi punapa ingkang kawula raosaken sapunika, kula naming nyuwun dipun paringi kasempatan malih ingkang radi longgar. Mbok manawi Gusti ingkang Maha Agung taksih peparing yuswa ingkang panjang, kula badhe ngleksanakaken punapa ingkang sampun dipun dhawuhaken dhumateng kula rikala semanten.

Kula sakyektos saged ngrumaosi bilih punapa ingkang kula tindakaken punika sampun nerak paugeran, nalisir saking margi kaleresan. Babagan punika ugi ingkang ndadosaken pusaka Nyai Sekar Pararaton ingkang awujud kaca benggala nalika semanten uwal saking tangan kula, saha sirna tanpa tetilas. Salajengipun, anggen kula saged pinunjul ing apapak nalika rumiyin, naming dados cariyos ing wekdal sapunika, prasasat mboten wonten nyatanipun.

Sanalika kula dados tiyang ingkang ina, saina-inanipun. Kados mboten pantes nggadhahi kuwaos-kuwaos saha punapa kemawon ingkang sampun dados peparingipun Kanjeng Begawan ingkang tansah kula puji. Punapa malih piandel-piandel ingkang saged nyaranani labuh labet kula dhumateng bangsa lan negari punika kadosdene sampun mboten saged dipun ginakaken malih.

Hanya ada angin bertiup
Perlahan menguntit waktu
Walau langit makin redup
Menutup hari mengganti baru

Senja kelana masih gemuruh
Mendekap kata dibalik kata
Berderai di sepanjang jauh
Terlintas berkeping dan sirna

Menelusup hidup membara cinta
Rintihan yang menggelegar
Mendamba seutas makna
Mengekang harapan sebentar

Keanggunan kian terkesan
Melantik kebiruan rindu
Lelah menyebar angan
Namun waktu terus berderu