Suatu saat karena lama tidak nongol di medsos, saya sempat mengintip obrolan di sebuah grup WhatsApp teman-teman sekolah dulu. Saya dapati mereka sedang berencana pergi ke pantai bersama-sama. Ada usulan-usulan ke pantai A, pantai B, pantai C, dan sebagainya. Saya tidak ikut nimbrung. Percuma saja toh saya tidak berada di Jawa. Saya juga belum tentu dalam waktu dekat akan berkumpul bersama mereka.

Kalaupun saya pulang ke Jawa paling akan menjenguk keluarga saya dulu, itupun waktu saya sudah habis. Kerja ikut orang ya harus ikut aturan orang, tidak bebas menentukan kapan bisa pulang. Harus ada perencanaan matang untuk sebuah cuti panjang.

Karena sudah terlanjur kangen dan kondisi belum bisa memungkinan pulang, maka sayapun hanya menelusuri jalan melalui aplikasi Google Map dan menemukan foto di lokasi yang terlebih dulu ditandai. Lumayan, serasa jalan-jalan walau hanya di angan-angan. Hiks.... Segitunya....

Seperti biasa, saya hanya menyimak saja. Dalam hati, saya sudah setiap hari melihat pantai. Saya justru pingin melihat hamparan sawah yang hijau dengan aromanya yang harum khas aroma padi tercium saat angin berhembus sepoi-sepoi. Pantai sudah menjadi makanan sehari-hari saya. Tentu ini akan menjadi sebaliknya bagi mereka. Setiap hari yang dilihatnya hamparan kota yang sudah penuh sesak dengan kemacetan jalan. Panasnya kemarau yang terik tak sempat membuat keringat menetes, langsung menguap. Panas kering udara di tengah daratan Jawa seperti di Solo dan sekitarnya.

Begitulah polanya. Orang daratan merindukan pantai, orang pantai merindukan daratan.

Untuk kamu yang termasuk generasi jaman old pasti inget istilah empat sehat lima sempurna. Makanan yang termasuk empat sehat isinya adalah makanan pokok, sayuran, lauk-pauk dan buah-buahan. Kemudian empat sehat akan menjadi sempurna jika ditambah satu, yaitu minumnya susu. Apapun makanannya, minumnya teh botol sostro susu. Sehingga empat makanan itu dikatakan sehat, menjadi sempurna bila terpenuhi menjadi lima.

Untuk kamu ketahui bahwa empat sehat lima sempurna sudah tidak berlaku lagi, sudah lama digantikan dengan "tumpeng sehat", yaitu komposisi makanan bergizi seimbang. Nah, saya tidak akan membahas tentang tumpeng sehat, silahkan googling sendiri kalau ingin tahu. Sekarang saya hanya akan membahas susunya saja.

Kalau dulu susu dianggap bagian penting dari menu makanan, bahkan menyempurnakan makanan sehat, maka sekarang minuman yang bersumber dari binatang itu mulai kontroversial. Ada beberapa pihak yang mempertanyakan dan bahkan menentang keberadaan susu sebagai salah satu jenis minuman bergizi.

Dari sumber yang saya baca, ada beberapa alasan yang mengatakan bahwa susu merupakan minuman yang tidak sehat. Apa saja alasannya? Kita simak beberapa uraian berikut ini:

Ubun-ubunku tiba-tiba berdenyut. Rasanya jantungku baru saja pindah di kepala. Tetapi dengan sedikit nyeri. Seperti biasa, kalau sakit kepala mulai melanda tandanya bisa karena kekurangan cairan atau telat makan. Tekanan darah menurun. Kalau tidak, ya kurang tidur, kurang darah, kurang ajar, ..., eh....

Sebelum sesuatu yang buruk terjadi, sebelum nyeri di kepala yang samar-samar berubah menjadi tension headache yang menyiksa, aku memesan segelas teh hangat untuk menyamankan diri. Mojok di sebuah kafetaria bandara yang agak jauh dari hiruk-pikuk para calon penumpang yang berseliweran.

Kubuka JOOX dari ponpinku, lalu kupilih nada-nada relaksasi untuk aku streamingkan ke dalam kedua liang telingaku. Memejamkan mata, lalu mulailah aku berangan-angan....

Tibalah aku di jaman ini. Saat aku sudah berhenti lama dari kegiatan berburu MP3. Mulai dari mendapatkan tautan untuk mengunduhnya sampai dengan mengkonversinya dari sebuah video di Youtube. Jaman sekarang musik hanya perlu dinikmati, tidak perlu didownload. Dengan aplikasi seperti JOOX atau Spotify, kita bisa menikmati berbagai musik, mulai dari musik yang populer saat kita belum lahir sampai musik jaman now, tersedia semua.

Begitu juga dengan film. Tidak lagi perlu membeli keping VCD, DVD atau Bluray untuk bisa menikmatinya. Tinggal buka HOOQ, Netflix, Iflix, dan sebagainya. Tidak perlu membeli hardrive berukuran tera-teraan untuk mengkoleksi file film dan musik. Pasalnya juga semakin besar kapasitas hardrive, semakin mahal pula harganya. Belum lagi umurnya yang cenderung pendek, gampang rusak oleh usia atau oleh karena benturan-benturan saat dibawa ke mana-mana.

Bahkan sekarang alat-alat pemutar musik dan video juga tersedia tidak hanya untuk perangkat mobile saja. Ada beberapa alat streaming media player yang juga bisa terkoneksi internet, baik melalui jaringan kabel maupun Wi-Fi untuk menyuguhkan musik-musik pilihan di rumah. Tentunya player ini akan dihubungkan dulu dengan sistem suara yang akan menghasilkan musik dengan kualitas tertinggi yang bisa dihasilkan.

Kutelusuri jalan ini sendiri
Menyelinap di celah antara senja dan malam
Laju yang kuayunkan mengikuti kelok jalanan
Aku mencoba menguntit jejak-jejakmu
Kusadari tak lagi ada dirimu disini
Hanya bekas-bekas kehadiranmu yang telah terhapus
Kucoba mengendus seluruh sisa aromamu di sekitar




Hanya selongsong kosong, ruang hampa yang ada
Terasa ada kegetiran hati sejak kepergianmu
Ingin rasanya meratapi sepi
Kesendirian yang akan kujalani
Entah sampai kapan

Wow... sepertinya ini isu yang sempat membuat kita syok saat pertama kali mendengarnya. Terlepas dari pro dan kontra mengenai pernyataan seorang jendral yang mengutip novel Ghost Fleet karangan Peter Warren Singer bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030, kekhawatiran seperti ini perlu kita tangkap. Tentunya kita bukan dalam posisi mendukung bubarnya negera NKRI, bukan juga pesimis terhadap persatuan bangsa di masa yang akan datang, tetapi prediksi-prediksi seperti ini, walaupun dinyatakan dalam bentuk sindiran, jokes ataupun cerita fiksi sekalipun, kiranya perlu dihargai untuk kebaikan kita. Kita perlu berpikiran positif dulu deh mengenai isu-isu seperti ini. Seperti kata pak Kapolri Jendral Tito Karnavian yang menilai pidato Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tersebut bisa dijadikan panggilan untuk menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menyikapi prediksi semacam ini, saya teringat saat tahun 2011 dulu pernah ada prediksi bahwa dalam waktu 21 tahun ke depan yang namanya “minyak bumi” akan musnah. Dengan jumlah produksi yang semakin menurun, sumber minyak yang semakin terkikis, serta penggunaan yang seperti sekarang (di saat itu), maka mulai 21 tahun ke depan anak cucu kita tidak lagi mengenal apa yang disebut “minyak bumi”.

Minyak bumi sebagian besar digunakan untuk memproduksi bensin dan minyak bakar, keduanya merupakan sumber "energi primer" utama. Namun sekarang belum sampai 21 tahun sejak tahun 2011, kita sudah mulai kehilangan minyak bakar atau yang disebut minyak tanah. Kompor minyak sudah ditinggalkan orang, lalu beralih ke gas sesuai kebijakan pemerintah yang diluncukan pada awal tahun 2007 berupa kebijakan konversi minyak tanah ke gas LPG (Liquid Petroleum Gasses). Menurut Pertamina.com waktu itu, cadangan bahan bakar minyak dunia yang semakin menipis menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk melakukan konversi terhadap bahan bakar gas yang masih tersedia dalam jumlah besar.

Kenyataan tersebut menjadikan pelajaran bahwa prediksi menyangkut isu-isu menakutkan sekalipun, terutama yang menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat banyak, perlu disikapi dengan pikiran positif dan kesiapan mental untuk berubah. Jadi bukan masalah sikap optimis atau pesimis, tetapi lebih skeptis dan obyektif melihat situasi dengan data-data yang ada saat ini. Kita justru harus bersyukur sudah ada yang melontarkan isu seperti itu, menurut saya bukan untuk dilawan dengan opini sendiri lalu menyulut polemik dan nyinyir-nyinyiran di dunia maya. Menurut saya justru bagaimana supaya isu itu tidak menjadi kenyataan di masa datang.