Sejujurnya saya takut menggunakan judul ini. Karena ketika kita menyebut kata "pulang", bisa berarti pulang yang sesungguhnya: pulang ke rumah; tapi bisa jadi pulang entah ke mana. Pasalnya saya jadi kehilangan makna "pulang" itu sendiri. Tidak tahu ke mana saya akan "pulang" dalam maksud yang sesungguhnya. Saya memiliki rumah, tetapi dalamnya kosong tanpa cinta, tanpa derai tawa, tanpa penghuni. Kalaupun saya "pulang" ke rumah ini, tentu bukanlah "pulang" yang saya maksudkan. Apa sejatinya "pulang" itu?

Beberapa waktu lalu saya bisa menyempatkan diri "pulang" ke Gorontalo dan tinggal sehari semalam di rumah penuh kenangan itu. Rumah kecil yang sederhana, tapi benar-benar terawat, bersih dan tidak berbau. Hanya saja instalasi listriknya jadi sedikit berantakan akibat beberapa saklar yang sudah aus dan mengalami malfungsi. Yang pernah menempati rumah ini menambahkan beberapa helai kabel yang melintang pukang di atas ruang tamu, sehingga pemandangan menjadi tidak sedap, tidak rapi. Saya datang ke sana sibuk membenahi kembali. Sayang tidak selesai, tidak cukup waktu, disamping peralatan yang serba terbatas.

71

Aku kembali bertemu dengan pagi yang bening ketika jam dinding menggeliat sambil bermalas-malasan. Kuraih ponsel untuk menyimak serangkaian notifikasi yang menyerbu di sisa sore kemarin. Tak ada yang istimewa. Karena seperti biasa, minggu ini akan padat sebagaimana minggu-minggu sebelumnya. Yang perlu dipersiapkan hanyalah fisik. Maka akupun segera mempersiapkan sebutir telur rebus dan secangkir teh hangat manis untuk bekal tubuh menghadapi aktivitas pagi sampai setengah hari nanti. Berharap cukup sampai siang nanti, saat waktunya mengisi perut tiba.

Aku berjalan diantara puing-puing yang tak kukenali kembali. Rasanya tantangan begitu besar untuk terus mengikis rasa sabar. Harus pandai mengukur diri terhadap ke mana arah angin bertiup. Harus tahu kapan mesti mengalir seperti arus, kapan harus bertahan seperti ikan yang berenang melawan derasnya aliran. Akhirnya akupun harus memaknai puisi karya Darwin itu, untuk bertahan dikala adaptasi harus terus dilakukan di tengah derasnya perubahan.

Lalu terdengar pula nyanyian Einstein, manakala berharap hasil yang berbeda dengan cara yang sama hanya dilakukan oleh orang gila. Lagu lama yang benar-benar populer kembali akhir-akhir ini. Ah, persetan sajalah. Ada banyak ragam kegilaan yang tidak harus demikian. Ada sisi kegilaan di setiap diri manusia, yang kadang keluar tanpa disadarinya, kadang juga disengaja. Bahkan untuk sebuah mahakarya sering dibutuhkan kegilaan yang disempurnakan. It’s a perfect insanity!

Ini ngomong apa sih? Sedang belajar bahasa Inggris apa gimana? Coba deh, baca sekali lagi terus coba artikan. Ooh… setelah dibaca beberapa kali barulah ngeh maksudnya. Yaitu ungkapan basa Jawa yang bunyinya “ Ngono yo ngono, ning aja ngono”. Indonesianya: Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Maksudnya: boleh seperti itu, tapi kalau bisa jangan melakukannya. Bingung kan? Nah, coba kita uraikan lagi deh. Bahasa Inggrisnya tentu tidak seperti itu. Tapi untuk memahaminya kita simak dengan teliti deh. Yuk…?

Dalam hidup ini kita punya hak-hak tertentu yang memang boleh kita nikmati. Orang lain juga punya hak. Kadang dalam menggunakan hak kita, kita sering berbenturan dengan hak orang lain. Maka dalam hal ini kita seyogyanya mengalah. Dalam arti, kita gunakan hak kita sebatas tidak mengganggu hak orang lain. Tahu sama tahu, lah. Tepa selira, toleransi, berempati kepada sesama, tidak egosentris, itu semua ada kaitannya dengan hal ini.

Kalaupun terpaksa harus menggunakan hak kita, supaya tidak menimbulkan masalah bagi yang haknya terganggu, tentu saja ada cara-cara musyawarah diantara pihak-pihak yang terlibat. Sama-sama sepakat untuk menemukan win-win solution sebagai hasil musyawarah, ciri khas dari budaya luhur kita yang berlandaskan Pancasila. Ngeeek…!

Sudah jelas kan? Kita boleh begitu (menggunakan hak), tapi ya jangan begitu juga (memaksakan kehendak atas nama hak yang jelas mengganggu hak orang lain). Kecuali dibicarakan terlebih dahulu. Itu makna sebenarnya.

Cemberut.... Di mana-mana orang menunjukkan wajah cemberut. Di trotoar orang-orang berjalan cemberut. Di pasar-pasar, orang-orang berjualan menunggu pelanggan dengan wajah cemberut. Di terminal bus antar kota, orang-orang pasang muka cemberut. Para pengendara motor berhenti di lampu merah, mukanya cemberut. Di dalam taksi, sopir dan penumpangnya sama-sama cemberut. Di ruang tunggu bandara, orang-orang duduk berderet dengan wajah cemberut. Di kantor, bos-bos cemberut, anak buah pun cemberut. Mulai dari top manager sampai cleaning service semua cemberut.

Mengapa hari ini tiba-tiba semua orang cemberut? Aku seperti melewatkan sesuatu. Adakah mungkin hari ini ditetapkan sebagai hari cemberut nasional? Hari ini mungkin telah terjadi inflasi? Hari ini ada bencana di belahan bumi tertentu? Ada wabah? KLB? Pageblug?

Sepertinya semua orang benar-benar telah terkena wabah cemberut. Hanya anjing saja yang tidak cemberut. Anjing putih belang hitam mengais sampah, lalu ngeloyor tanpa hasil. Wajahnya tetap berseri-seri, menjulurkan lidahnya sambil berlari-lari kecil, sesekali mengedus-endus di sana-sini.

Oh, entahlah. Lama-lama aku ketularan cemberut juga, sama dengan mereka. Tapi mengapa mereka harus mempengaruhi aku? Kok aku jadi ikut-ikutan? Urusan mereka kan bukan urusanku? Tidak ada alasan untuk cemberut bagiku, maka, aku tidak perlu cemberut. Akupun tersenyum. Meringis. Tertawa. Hahahaha. ….

Setiap akhir pekan, ada saja sesuatu yang unik di Chaoyang District, Beijing sana. Kali ini ada wanita cantik dan seksi tampak menyusuri jalanan sambil menuntun seekor sapi. Ini bukan sebuah atraksi, wanita itu sengaja membawa hewan tersebut untuk diperah susunya lalu dijual ke pengguna jalan yang kebetulan lewat. Wow....!

Aktifitas itu spontan langsung jadi pusat perhatian warga Beijing. Banyak yang sengaja datang membeli susu perahan itu. Begitu larisnya, wanita seksi penjaja susu itu kadang tak mampu mencukupi kebutuhan para konsumennya. Laris manis!

Ketika sedang berjualan, sang wanita memperbolehkan para pelanggannya untuk memerah susu sendiri. Jika ada yang tak bisa, barulah ia turun tangan untuk memandunya. Demikian dilansir Shanghaiist.

Beberapa pembeli kabarnya ada yang langsung menenggak susu tersebut di tempat, namun ada pula yang tampak ragu dengan alasan keamanan. Sehingga disediakan juga dalam kemasan kotak untuk dimasak terlebih dahulu. Untuk tiap kotaknya, susu berlogo Organic Milk itu dibandrol dengan harga 8 Yuan atau setara 16 ribu rupiah.