Pagi masih berpalut kabut ketika renda-renda awan bergelombang seperti rindu di hati.
Kemudian seperti genderang tertabuh detik-detik waktu terus menghunjam tanpa ampun.
Seperti sepasang burung terbang rendah menggapai harapan kecil yang sederhana.
Di permukaan bening itu terpantul cahaya keheningan yang tidak lagi sempurna.

Semburat jingga di angkasa mengingatkanku kepada rona merah di pipimu.
Gerimis yang kemarin tak lagi hadir seandainya angin bertiup seperti sedia kala.
Jangan kauhiraukan lambaian luka di dalam mimpi, keruhkanlah dengan kelabu.
Hanya sedikit pedih menanti gerhana hati berlalu sambil bersenandung rindu.


Kita tahu dan percaya bahwa semua jenis profesi di dunia ini adalah mulia, kecuali penjahat. Kita boleh jadi apa saja asalkan jangan sampai menjadi penjahat. Anak kecil yang selalu ditimang-timang orang tuanya, selalu diharapkan besarnya menjadi orang yang berguna, bukan jadi penjahat.

Penjahat itu ada tingkatannya, mulai dari penjahat kelas teri, kelas coro, sampai kelas kakap. Mungkin masih ada kelas-kelas yang lebih tinggi lagi, karena biasanya berlaku juga prinsip di atas langit ada langit. Konkritnya, ada orang yang berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi, biasa disebut maling, ada pula yang terang-terangan merampas hak milik orang lain, biasanya disebut perampok. Dari maling sampai perampok ada serangkaian gradasi yang bervariasi, bisa terselubung juga, seperti yang disebut calo, rentenir, koruptor, penipu, pemalak, penodong, tukang gendam dan sebagainya.

Setiap orang juga memiliki potensi menjadi penjahat. Ada yang bisa menekan kejahatan dalam dirinya sehingga hampir tidak pernah manifes dalam hidupnya, tapi ada juga yang justru hobi melakukan kejahatan. Celakanya, dalam kondisi terbiasa melakukan kejahatan, orang sering tidak sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah perbuatan jahat. Itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun, jadi tidak masalah, toh yang dijahati juga rela menjadi korban dan tidak pernah mempermasalahkannya. Apalagi kalau orang-orang sekitarnya juga melakukan hal serupa. Pasti anggapannya,"Gak masalah kok, banyak yang melakukan itu. Kalau dianggap salah, berarti semua orang itu juga harus dihukum, itu tidak mungkin. Jadi pasti dibolehin." Padahal yang namanya kesalahan itu juga bisa bersifat massal.

Artinya: Ilmu titen. Ini istilah saya sendiri, tidak ada di kamus manapun untuk saat ini. Entah kalau besok-besok mulai ada. Saya agak kesulitan mentranslit kata “titen”, sebuah kata dari Bahasa Jawa, ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Titen itu bisa digambarkan dalam ilustrasi contoh sebagai berikut:
Kemarin pak guru masuk kelas dengan menyuruh anak-anak membuka buku pelajaran halaman sekian. Hari ini beliau melakukan hal yang sama, yaitu menyuruh anak-anak membuka buku halaman sekian yang berbeda dari kemarin. Besoknya, bisa dipastikan dia akan menyuruh anak-anak membuka buku halaman yang berbeda lagi. Intinya, beliau akan punya kebiasaan yang sama dalam memulai pelajaran, yaitu dengan menyuruh anak-anak membuka buku halaman tertentu.
Dalam kasus ini, kita bisa niteni, bahwa setiap pak guru yang itu memulai pelajaran, pasti menyuruh anak-anak membuka buku halaman tertentu.
Ini contoh lain:

Dulu waktu saya tinggal di Ternate, saya tinggal satu kos dengan orang yang sama-sama dari Jawa. Kebetulan dia sudah lebih lama berada di sana karena penempatan tugas juga dari kantornya. Saat itu dia banyak sharing tentang kondisi, kebiasaan, dan segala keanehan yang tidak biasa untuk kita temui selama di Jawa. Dengan maksud tentunya agar saya sebagai pendatang baru tidak terlalu kaget mengahadapi keanehan yang akan ditemui. Sehingga hal yang aneh menurut kita orang Jawa, akan menjadi tidak aneh lagi alias lumrah kalau kita hidup di Ternate. Sehingga ada hal-hal tertentu yang harus dipahami sebelum nantinya dibuktikan sendiri.

Ing jaman Media Sosial iki gunane lambe kanggo pangucap wis sinulih dening driji kanggo ngetik. Unen-unen "ajining dhiri ana ing lathi" wus ora trep maneh. Awit diriji tangan cacah sepuluh, malah utamane jempol cacah loro ing piranti mobile, wus adoh anggone darbe peran kang luwih wigati. Semono uga unen-unen "waton mangap" apadene "waton njeplak" wis kurang trep, amarga mangap lan njeplak iku luwih ditujokake marang piranti kang diarani lambe utawa cangkem. Pramila manungsa jaman saiki sing umume kurang pinunjul ing pacelathon, katon menengan, in tlatah media sosial bisa dadi wong kang "criwis" ing samubarang lelakon. Luwih trep manawa wong-wong iki dhasare pancen nggrathil, amarga olah pikire kasalurake ora lumantar ing lambe, nanging lumantar drijine.

Jumbuh karo jamane saiki wis sarwa bebas. Ngongasake isi atine, isi pikire lan -jare- "ekspresi diri" ing jaman saiki wus bebas, ora perlu ewuh pakewuh apadene kaweden kena ing paukuman. Sinaosa ana sing dadi perkara amarga dianggep mendzholimi pihak-pihak tertentu, nanging akeh sing tembunge sajak kendel anggone alok, utamane kang ditujokake marang para pejabat, para tokoh sing terkenal, malah saukuran Presiden uga ora luput saka komentar kang surasane pedhes.

Kayadene sing wingi nembe wae rame ing media, si Deddy Corbuzier nganti nesu-nesu amarga kancane sing jenenge Chika Jessica diunekane PSK marang sawijining hater. Nganti hater iku dicekel, dilarak saka Jambi menyang Jakarta kanggo diadhepake marang para awak media kareben ngakoni manawa tumindake iku bener-bener ora becik. Kang mangkono iku dudu kedadeyan sing pisan-pindho. Sadurunge uga nate ana bocah abege sing diseneni Deddy amarga komentare sing ora mranani ati.

Di jaman sekarang ini yang namanya hubungan itu sangat penting. Hubungan yang saya maksud berupa koneksi maupun interkoneksi antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dia bisa berupa hubungan interpersonal, antar disiplin ilmu, antara pikiran dan perasaan, dari hati ke hati, antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Bahkan di dalam individu sendiri, hubungan antara otak kiri dengan otak kanan juga menjadi kian penting karena dianggap menjadi bagian yang utama dalam meningkatkan kompetensi seseorang.

Pemikiran out of the box sudah menjadi basi, apalagi pemikiran yang masih terkotak-kotak. Pemikiran yang masih membagi segala sesuatu sebagai bagian dari sebuah hal yang tidak berkaitan dengan hal lain sudah tidak relevan lagi saat ini. Pemikiran terbaru yang akan dikembangkan ke depan sudah tidak seperti itu. Pemikiran sebaiknya bebas, tidak terpancang pada kotak tertentu. There should be no box!

Dengan adanya kotak-kotak atau box-box akan membatasi ruang gerak pikir sehingga kita cenderung mengabaikan hubungan antara satu hal dengan hal lain yang seharusnya penting untuk diperhatikan. Memang tidak selalu hubungan itu bersifat langsung. Adakalanya hubungan tidak terlihat jelas. Seperti tidak berhubungan tapi memiliki pengaruh, keselarasan, sinergi, maupun serangkaian sebab akibat. Output atau outcome satu bagian akan menjadi input bagian lain, dari sistem satu dengan yang lainnya. Begitu seterusnya.