Somebody said that “life” is such a wide umbrella; a word that covers many, many things, and everyone’s experience of it is different.

Life, as we know, is full of challenges. Economic difficulties, serious illnesses, family problems, and political unrest plague people on a daily basis.

Life will challenge you – physically, mentally, emotionally, and spiritually.

How a person faces each challenge that comes their way however, says much about their character, who they are on the inside.

That's why then I tried to narrow the umbrella down. To look at something that crack open how life can feel when we’re struggling and things are hard… but also ones that put a balm on that wound.

There’s a lot of shit going on right now. There always is, but it’s been particularly sharp and thorny lately, and sometimes we need someone to put that into the words we just don’t have in us.

But today I tried so hard to find my own words. The words that shine my darkening life, the words that make sound in the silence.

Words that make us feel heard and understood, that acknowledge our pain and how heavy life can feel.

...

Konon katanya orang itu hanya akan ketemu dengan apa yang dia cari. Seorang ulama besar pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah ketemu pelacur ketika dia sedang berada di Amerika. Sementara orang lain menyanggah, bahwa tidak mungkin tidak ada pelacur di Amerika, sedangkan di Arab saja banyak ditemui.

Demikian juga kalau kita punya keinginan kuat akan sesuatu, bisa jadi kita akan mendapatkannya. Saya nggak tahu apakah keinginan itu bisa terwujud tanpa doa. Apakah keinginan yang dipendam itu merupakan bagian dari doa. Apakah doa harus dilafalkan dan dirangkaikan dengan kata-kata terlebih dahulu.

Entahlah… pada akhirnya kita hanya percaya bahwa kita telah mendapatkan yang terbaik dariNya. Keinginan yang kita miliki, kalau belum diberi, itulah yang terbaik bagi kita agar terus bersabar. Kalau akhirnya diberi, itulah yang terbaik buat bersyukur.

Mungkin keinginan saja tidak cukup, harus ada upaya untuk menggapainya. Namun tidak sedikit keinginan yang terlalu sulit untuk digapai dengan usaha, bahkan usahanya pun kadang tidak bisa kita ketahui, usaha tepat seperti apa yang bisa kita lakukan untuk keinginan tertentu itu. Sebelum tahu upayanya apa, tentu yang harus pertama kali jelas adalah keinginannya. Kalau keinginan saja tidak jelas, bagaimana bisa berupaya?

Yang namanya keinginan dan harapan tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Karena dengan adanya harapan itulah maka ada kehidupan. Makanya, teruslah berharap. Setidaknya untuk terus mengisi hidupmu. Tentunya hidup akan jadi hampa tanpa harapan.

Mulai dari harapan sederhana yang hanya terlintas di pikiran sampai dengan harapan besar yang terus dipendam untuk ditunggu realisasinya, tentu akan bervariasi bagi setiap insan. Kebutuhan dan selera tiap orang akan diikuti oleh warna hidupnya, kadar kenikmatan yang dirasakannya, sampai dengan besarnya rasa syukur yang dimilikinya.

"Yang salah siapa?" inilah pertanyaan paling mudah ketika terjadi permasalahan. Kemudian, mencari-cari kesalahan orang lain adalah hal paling mudah selanjutnya. Entah mengapa yang namanya kambing hitam itu selalu harus ditemukan? Disadari atau tidak, yang paling mudah disalahkan adalah pimpinan. Dialah kambing hitam yang sesungguhnya. Maka dari itu, jangan jadi pemimpin kalau mau selamat.

Seperti sudah menjadi kodrat, siapapun pimpinannya, entah itu suatu negara, suatu lembaga, institusi, organisasi, bersiaplah disalahkan. Bersiaplah digunjing, dihina-hina, didiskreditkan, dikambinghitamkan, dianggap mendzolimi, dibully, dan sebagainya.

Menjadi Presiden adalah menjadi orang paling “berdosa” saat ini. Siapapun orangnya. Karena budaya menyalahkan sudah terlanjur mudah menular. Sekaranglah jamannya menyalahkan orang lain. Koreksi diri tidaklah populer. Orang yang mengajak koreksi diri pun dianggap belum tentu bisa melakukan koreksi diri.

Pemimpinlah yang salah. Ada yang salah juga dalam pendidikan dan pelatihan kepemimpinan saat ini. Orang jadi lupa bahwa dia juga harus memimpin dirinya sendiri pada saat yang sama dia memimpin orang lain. Bahkan dia harus bisa memimpin dirinya sendiri lebih dahulu sebelum dianggap bisa memimpin orang lain. Entahlah, bagaimana caranya memimpin diri sendiri itu. Sulit mungkin untuk dibayangkan. Terlalu abstrak!

Apalagi menyalahkan diri sendiri. Itu hampir mustahil. Ego itu di atas segalanya. Sangat anti untuk disalahkan. Yang salah adalah orang lain. Pasti ada pembenaran untuk memperjelas kesalahan orang. Pembenaran pun dicari. Hanya orang-orang yang memiliki kesamaan saja yang bisa berteman. Lainnya musuh! Perbedaan adalah hal yang biasa. Tetapi pemahaman akan perbedaan sudah tidak ada ruang lagi.

Mungkin kamu pernah mendengar cerita heroik tentang penyelamatan korban kebakaran dan pemadaman api dahsyat yang terjadi. Pelakunya lantas mendapatkan berjuta pujian dan sanjungan. Seketika itu juga sang pelaku penyelamatan dan pemadaman api mendapatkan popularitas. Kebakaran tersebut dipicu masalah sepele, yaitu adanya orang yang merokok di dekat orang jualan bensin. Dia sempat ditegur oleh seseorang. Tapi orang yang menegur itu tidak ketahuan lagi siapa orangnya. Kalah populer sama orang yang memadamkan api tadi.

Tindakan pencegahan memang tidak pernah populer untuk dilakukan, tidak menarik. Tetapi tindakan pemadaman kebakaran bisa jadi malah disanjung-sanjung.

Orang lebih tertarik mengembangkan tekhnologi pemindaian otak daripada mengembangkan pencegahan penyakit stroke atau kanker. Orang lebih suka berdebat masalah banjir daripada memperbaiki perilaku membuang sampah sembarangan. Orang lebih menghargai upaya menangani kemacetan lalu lintas daripada perencanaan dan pembangunan infrastruktur jalan. Orang lebih memilih peran yang lebih populer dengan fokus pada sebuah akibat langsung daripada mencegah dampak buruk yang belum tampak di muka mereka.

Kita seringkali tidak pernah peduli pada penyebab suatu masalah. Nanti kalau masalah sudah berulang dan terakumulasi, barulah analisis-analisis dilakukan untuk menemukan penyebabnya. Setelah penyebab diketahui, orang pun hanya sekedar tahu saja tanpa bersedia dengan sukarela mengubah perilakunya. Lebih nyaman tanpa perubahan. Perubahan dianggap terlalu menyakitkan. Tetapi ketika melihat fenomena yang terjadi selanjutnya, seolah tanpa dosa, tanpa tahu kalau sebab-akibat itu terus berantai membentuk efek domino yang tidak pernah berakhir.

Ya, kamu tidak salah baca. Bukan judul film “Ada Apa dengan Cinta” (AADC) yang saya maksud. Bukan juga tentang Dian Sastro yang pernah menjadi primadona dan buah bibir disaat AADC dan AADC2 sedang “meledak”. Lalu kenapa gambar yang dipasang kok gambarnya si Dian Sastro? Ya, karena dia itu cantik dan mempunyai organ tubuh yang seksi .... Hmmm....

Ini ngomongin Cina. Ya, Cina yang merupakan bangsa dari negeri tirai bambu itu, bukan ras cina yang sudah menjadi warga negara Indonesia yang hidup berdampingan dengan kita-kita. Ada yang menulisnya China, ada yang Cina tanpa huruf “h”. Entah mana yang benar, saya belum sempat konfirmasi ke KBBI daring maupun luring. Yang jelas saya sudah kebelet mau cerita tentang Cina ini.

Ditengah kekhawatiran bangsa kita akan adanya invasi besar-besaran bangsa Cina, di tengah hiruk-pikuk keberadaan bangsa Cina yang tahu-tahu sudah merebak dan tersebar di tengah-tengah kehidupan kita, masih belum hilang dari ingatan adanya wilayah tanah air kita yang diduduki oleh bangsa Cina, termasuk hadirnya kapal-kapal perang Cina yang sempat menerobos masuk ke perairan negeri ini.

Bahkan mungkin sebagian orang sudah ada yang bersiap siaga menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi ke depan. Ada banyak tanya terbersit dalam hati, yang juga belum terjawab.

Kemarin tetiba saja saya mendapati kunjungan pemirsa di blog ini seakan “meledak”, dari kunjungan mingguan di bawah 200 pengunjung perminggu, lha kok tiba-tiba kemarin kulihat sampai 3000an pengunjung. Ada apa ini? Hal ini juga pernah terjadi waktu itu di tahun 2012 orang Suriname yang menyerbu kesini, seakan datang berbondong-bondong, entah memang banyak orang atau hanya satu orang yang melakukan kunjungan berulang kali. Tapi yang jelas, waktu itu sempat ada seorang bapak asal Suriname yang komentar di tulisan saya, lalu terjadilah beberapa percakapan.