Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang membuat arsip kehidupan kita sendiri. Dulu orang tua kita (sekarang mungkin sudah kakek/nenek buyut kita) punya album foto. Satu keluarga mungkin cuma punya beberapa album yang disimpan rapi di lemari. Isinya foto ulang tahun, piknik, wisuda, pernikahan, atau foto dengan pose kaku di depan rumah. Kita sekarang beda. Satu orang bisa punya puluhan ribu foto. Belum video, status, tulisan, story, komentar, dan entah apa lagi. Foto tentang kopi pagi yang hari ini terasa nggak penting, siapa tahu tiga puluh tahun lagi justru membuat seseorang tersenyum, “Oh… ternyata dulu dia suka kopi juga.”
Yang agak aneh adalah internet seperti tidak terlalu mengerti konsep kehilangan. Suatu hari kita mungkin menemukan kembali komentar seseorang yang sudah lama tiada. Namanya masih ada. Fotonya masih tersenyum. Akunnya bahkan masih bisa diklik. Kadang algoritma malah dengan polosnya mengingatkan ulang tahunnya. Dunia nyata sudah lama belajar menerima bahwa seseorang telah pergi, tetapi dunia digital hari ini seperti berkata, “Lho, dia masih ada kok. Nih fotonya.”
Lalu saya jadi kepikiran: kalau suatu hari giliran kita, sebenarnya versi diri kita yang mana yang akan tertinggal di internet? Foto terbaik yang dipilih setelah mencoba 17 pose? Status marah yang diketik jam sebelas malam? Tulisan sok bijak yang besok paginya kita sendiri malu membacanya? Video jalan-jalan? Foto makanan? Atau komentar nggak penting yang dulu kita tulis sambil menunggu antrean? Rupanya jejak digital bukan autobiografi yang kita susun dengan rapi. Ia lebih mirip kardus besar berisi potongan-potongan kehidupan yang kita lemparkan ke dalamnya selama bertahun-tahun.






