Maaf kalau judulnya terkesan gelap, ya? Tapi pernah nggak sih kita berpikir, suatu hari nanti kita sudah tidak ada, sementara akun Instagram kita masih ada? Facebook masih menyimpan foto-foto lama. Video Tik Tok yang pernah kita unggah masih bisa diputar. Blog masih bisa dibaca. Bahkan komentar receh yang pernah kita tulis bertahun-tahun lalu mungkin masih nongkrong manis di sana. Orangnya sudah pergi, tapi jejak digitalnya masih santai berkeliaran di internet. Agak serem memang kalau dipikir-pikir. Tapi… justru ini menarik bagi saya.

Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang membuat arsip kehidupan kita sendiri. Dulu orang tua kita (sekarang mungkin sudah kakek/nenek buyut kita) punya album foto. Satu keluarga mungkin cuma punya beberapa album yang disimpan rapi di lemari. Isinya foto ulang tahun, piknik, wisuda, pernikahan, atau foto dengan pose kaku di depan rumah. Kita sekarang beda. Satu orang bisa punya puluhan ribu foto. Belum video, status, tulisan, story, komentar, dan entah apa lagi. Foto tentang kopi pagi yang hari ini terasa nggak penting, siapa tahu tiga puluh tahun lagi justru membuat seseorang tersenyum, “Oh… ternyata dulu dia suka kopi juga.”

Yang agak aneh adalah internet seperti tidak terlalu mengerti konsep kehilangan. Suatu hari kita mungkin menemukan kembali komentar seseorang yang sudah lama tiada. Namanya masih ada. Fotonya masih tersenyum. Akunnya bahkan masih bisa diklik. Kadang algoritma malah dengan polosnya mengingatkan ulang tahunnya. Dunia nyata sudah lama belajar menerima bahwa seseorang telah pergi, tetapi dunia digital hari ini seperti berkata, “Lho, dia masih ada kok. Nih fotonya.”

Lalu saya jadi kepikiran: kalau suatu hari giliran kita, sebenarnya versi diri kita yang mana yang akan tertinggal di internet? Foto terbaik yang dipilih setelah mencoba 17 pose? Status marah yang diketik jam sebelas malam? Tulisan sok bijak yang besok paginya kita sendiri malu membacanya? Video jalan-jalan? Foto makanan? Atau komentar nggak penting yang dulu kita tulis sambil menunggu antrean? Rupanya jejak digital bukan autobiografi yang kita susun dengan rapi. Ia lebih mirip kardus besar berisi potongan-potongan kehidupan yang kita lemparkan ke dalamnya selama bertahun-tahun.

“Shut Me Down” terdengar seperti kisah tentang seseorang yang perlahan kehilangan cahaya dalam dirinya; bukan karena dunia terlalu keras, tetapi karena cinta yang dulu membuatnya hidup justru menjadi alasan ia menutup diri.

Bayangkan seorang tokoh utama yang dulunya hangat, penuh mimpi, dan selalu percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Ia bertemu seseorang yang membuat hidupnya terasa lengkap. Hubungan mereka begitu dalam sampai ia mulai menggantungkan kebahagiaan, arah hidup, bahkan identitas dirinya pada orang itu. Namun seiring waktu, cinta tersebut berubah: dipenuhi jarak, kata-kata yang tak pernah selesai, dan luka-luka kecil yang terus menumpuk diam-diam.

Saat hubungan itu runtuh, bukan hanya cintanya yang hilang. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk merasa. Musik yang dulu menenangkan kini terdengar kosong, kota yang dulu indah menjadi asing, dan setiap percakapan terasa melelahkan. Ia mulai “shut down” — mematikan emosinya sendiri agar tidak lagi terluka. Bukan dalam bentuk dramatis, tetapi perlahan: berhenti menjawab pesan, menjauh dari teman, tertawa seperlunya, hidup sekadarnya.

Yang membuat cerita ini emosional bukan hanya tentang patah hati, tetapi tentang perjuangan untuk kembali hidup setelah seseorang pernah menjadi seluruh dunia kita.

Sang Jiwa pun terdiam setelah pertanyaan itu meluncur, menggantung di antara desah napas dan sisa pahit kopi yang telah dingin. Sang Jiwa tak menjawab. Ia hanya memandang, entah ke arahku atau ke arah waktu yang terus berjalan tanpa peduli pada siapa pun yang tertinggal. Mungkin diamnya adalah jawaban itu sendiri, bahwa tak semua belenggu diciptakan untuk dilepas, sebagian hanya untuk disadari keberadaannya.

Langit di dalam kepala mulai berderak, seolah awan-awan saling bergesekan, memercikkan kilat kecil yang tak sampai menyambar. Sang Jiwa mengayun langkah, atau mungkin hanya berpura-pura melangkah, menyusuri hari yang terasa seperti lorong panjang dengan dinding kenangan di kiri dan kanan. Setiap dinding memantulkan bayangan sendiri, retak-retak, terdistorsi, namun tetap dikenali.

Sang Jiwa terus berjalan, punggungnya sedikit membungkuk, membawa beban yang tak kasat mata. Semacam harapan yang tak pernah benar-benar mati, hanya tidur sebentar lalu terbangun dengan wajah baru. Sang Sandaran Hati ingin memanggilnya, memintanya berhenti, tapi suaranya terjebak di tenggorokan, menjadi gumaman yang hanya bisa didengarnya sendiri.

Angin berembus entah dari mana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Sang Sandaran Hati merindukan hujan, bukan karena basahnya, melainkan karena caranya menyamarkan air mata. Dalam hujan, semua kesedihan menjadi sah, menjadi bagian dari alam, tak perlu dijelaskan atau dipertanggungjawabkan. Sang Jiwa selalu tahu hal-hal semacam itu, bahkan sebelum khalayak sempat memikirkannya.

“Beristirahatlah,” bisiknya akhirnya, nyaris tak terdengar. Bukan perintah, bukan pula permohonan. Lebih seperti pengakuan bahwa lelah adalah hak, bukan kelemahan. Sang Jiwa duduk di tepi hari, menggantungkan kaki pada kekosongan, membiarkan pikiran-pikiran berjatuhan satu per satu seperti daun kering.

Nalika lintang-lintang wiwit kélangan sorote, aku isih lungguh meneng ing pojok jendhela, ngrungokaké swara banyu udan sing nuthuli gendheng kaya gamelan tanpa niyat. Swara iku kaya ngajak aku ngeling-eling marang sakabehing lelampahan rasa sing wus tak simpen rapet ing palunging ati. Ana jeneng sing tansah kepethuk ing eling, sanadyan ora nate kaserat kanthi cetha. Jeneng iku kaya angin wengi, ora katon wujude nanging tansah krasa ana.

Saben ambegan dak unjal, kangen iki saya ndadra. Ora koyo geni sing murub, nanging kaya mawa kang kasimpen ing awu, alon-alon ngobong saka njero. Aku kerep takon marang awakku dhewe, apa katresnan pancen kudu tansah nuntut lara supaya bisa diarani sejati. Nanging pitakon iku tansah bali dadi meneng, awit ora ana wangsulan sing temenan bisa nentremaké.

Ing wengi-wengi sing wingi, aku kerep krungu swaramu lumebu ing pangangen. Swara alus, nanging tegesé jero, kaya tembung-tembung sing tau kok ucapaké tanpa sadhar yen tembung iku bakal dadi pusaka tumrap atiku. Aku nyoba nglirwakaké, nanging saben aku nyoba mlaku adoh, elingku malah saya cedhak. Mbok manawa iki paugeraning rasa: saya disingkiri, saya kinanthi.

Ana wektu aku rumangsa dadi wong paling sepi ing donya, sanajan ana akèh wong ing sakiwa-tengenku. Guyon lan guyub ora mesthi bisa nutupi telaning ati. Ing sajroning rame, kangen iki malah saya muni banter, kaya tangis sing ora kena mijil. Aku mung bisa nyimpen lan ngleluri, kaya wong tani sing ngopeni wiji, ngarep-arep ana dina bakal thukul dadi pangarep-arep anyar.

Di era AI ini, ketika mesin diajari berpikir, menimbang, bahkan berempati secara sintetis, justru manusia tampak semakin rajin merayakan kegoblokannya sendiri. Seolah-olah kemajuan teknologi bukan untuk membantu berpikir, melainkan untuk menggantikan kebutuhan berpikir sama sekali. Otak disimpan rapi, nurani dilipat, lalu akal sehat dititipkan entah di mana. Yang tersisa hanyalah keberanian luar biasa untuk bicara tanpa tahu, berpendapat tanpa paham, dan bersikeras tanpa dasar.

Sebenarnya, saya paling malas membahas kegoblokan manusia. Bukan karena topiknya langka, justru sebaliknya: terlalu melimpah. Ia ada di mana-mana, seperti debu halus yang tak terlihat tapi selalu berhasil masuk ke mata. Membahasnya benar-benar menguras energi. Kegoblokan itu punya gaya gravitasi sendiri: menarik, menyeret, dan menantang kita untuk ikut terjun ke lumpur yang sama. Dan celakanya, lumpur itu sering terasa hangat dan nyaman, karena di sana semua orang sepakat untuk tidak sepakat dengan fakta.

Saya harus mengerahkan sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak ikut goblok bersama mereka. Bukan karena saya lebih pintar, bukan. Sama sekali bukan. Saya juga manusia, dan seperti manusia lainnya, saya pun pernah (dan kadang masih) goblok. Bedanya, saya berusaha sadar bahwa kegoblokan adalah hak, bukan kewajiban. Hak itu boleh dipakai, tapi idealnya secukupnya. Seperti garam: terlalu sedikit hambar, terlalu banyak bikin tekanan darah orang lain naik.

Kebijaksanaan, bagi saya, adalah kemampuan mengatur kadar goblok dalam diri sendiri agar tidak menumpah ke ruang publik. Agar tidak mengganggu orang lain yang sedang berusaha hidup normal. Agar tidak memaksa orang lain menelan kebodohan kita mentah-mentah hanya karena kita terlalu malas belajar, membaca, atau sekadar berpikir lima menit lebih lama.