Hanya ada angin bertiup
Perlahan menguntit waktu
Walau langit makin redup
Menutup hari mengganti baru

Senja kelana masih gemuruh
Mendekap kata dibalik kata
Berderai di sepanjang jauh
Terlintas berkeping dan sirna

Menelusup hidup membara cinta
Rintihan yang menggelegar
Mendamba seutas makna
Mengekang harapan sebentar

Keanggunan kian terkesan
Melantik kebiruan rindu
Lelah menyebar angan
Namun waktu terus berderu

Waktu terus berubah, tahun berganti, hidup terus berputar, seperti roda, berjalan terus. Angin pun menerpa, jalanan menanjak, menurun, berliku. Sebagaimana ujian, cobaan, halangan, rintangan, tantangan dan godaan. Tak pernah jemu menyapa di sepanjang perjalanan kita.

Saya teringat sebuah kisah tentang seorang nenek yang hampir setiap hari pekerjaannya hanya menangis saja. Hari-harinya dilalui dengan menangis dan terus menangis. Seolah si Nenek tidak pernah tersenyum, hanya wajah kesedihan yang senantiasa ditujukkannya. Ketika ditanya, kenapa kerjanya hanya menangis, maka nenek itupun mulai bercerita. Dia curhat mengenai kondisi anak-anaknya. Dia hanya memiliki dua orang anak, satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Mereka semua bekerja sebagai pedagang keliling. Yang laki-laki sebagai penjual bakso, yang perempuan sebagai penjual es.

Di saat musim kemarau, matahari memancarkan terik yang dahsyat panasnya. Udara pun terasa panas dan kering. Di saat seperti ini sang Nenek selalu menangisi nasib anak laki-lakinya. Karena dia terlalu mengkhawatirkan dagangan anaknya yang berupa bakso, pasti tidak akan laku di kondisi cuaca seperti itu. Sebaliknya di saat musim hujan, ketika hari-hari selalu diliputi hujan terus menerus sampai ada kejadian banjir di mana-mana, sang nenek menangisi nasib putrinya yang berjualan es. Tidak akan ada orang yang membeli es dalam kondisi alam seperti itu. Lalu kapan sang nenek punya waktu untuk tidak menangis?

Kebahagiaan itu tidak untuk dicari, melainkan diciptakan. Bahagia itu sederhana, tidak perlu hal-hal rumit dan mewah untuk bahagia. Tinggal melakukan aktivasi dari dalam hati. Hanya perlu tahu caranya.

Itulah sebenarnya awal dari adanya fenomena yang belakangan ini mendadak booming. Terlepas dari memboomingnya fenomena ini, asal-usul dari aktivitas ini adalah semata-mata suatu proses menciptakan kebahagiaan.

Sejauh ini saya juga nggak ngerti kenapa berbagai fenomena di era informasi ini datang dan pergi begitu sporadis dan dramatis. Mulai dari fenomena Keong Racun, Briptu Norman, dan mungkin sudah banyak yang kita lewatkan, giliran yang barusan merebak dalam 3 hari ini adalah fenomena “Om Telolet Om”.

Sebenarnya sudah agak lama fenomena ini muncul. Pada bulan November lalu mulai merebak di Facebook tentang video yang berisi anak-anak dan para muda-mudi ramai berdiri di pinggir jalan Ngabul, Jepara, Jawa Tengah. Mereka berteriak, “Om, telolet, Om!” pada setiap bus AKAP (antar kota-antar provinsi) yang lewat. Maksudnya adalah meminta si Supir bus untuk membunyikan klaksonnya. Bus AKAP memang memiliki bunyi klakson yang khas, berupa suara “telolet” yang sangat keras. Maka saat klakson dibunyikan oleh bus sambil berlalu, anak-anak itu berteriak kegirangan.

Bulan ke-7 dan bulan ke-10 tahun ini merupakan bulan paling muram bagi masyarakat Jayapura dan sekitarnya dalam hal koneksi Internet. Pada bulan Juli 2016 sempat terjadi putus koneksi sampai sekitar seminggu, baik internet seluler maupun yang melalui saluran telepon. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2016 hal itu terulang lagi sampai dengan 11 November 2016. Hampir sebulan warga Jayapura mengalami kesunyian maya. Bahkan rencananya perbaikan kabel bawah laut itu direncanakan sebulan penuh, sehingga baru bisa nyambung lagi tanggal 18 November 2016. Kalaupun ada koneksi dikit-dikit itu cuma back-up koneksi via satelit yang tidak begitu membantu.

Dengan kondisi seperti itu seluruh pesan WhatsApp (WA) baru masuk pada pukul 02.00 WIT. Ucapan “Selamat pagi!” di hampir semua grup WA sampai dengan “Selamat malam, selamat istirahat semuanya!” masuk secara serentak berurutan pada pukul 02.00 dini hari itu. Itupun hanya sebentar, karena pukul 03.00 ke atas aplikasi chatting itu “sudah tidak bisa dipakai lagi”.

Yang masih bisa menolong adalah aplikasi bernama Telegram. Entah mengapa hanya Telegram saja yang masih tang, ting, tung, sepanjang hari sepanjang malam. Hal ini karena seluruh aktivitas komunikasi kantor menggunakan Telegram. Sedangkan WA, BBM, Facebook, Instagram dan kawan-kawan sama sekali tidak berkutik. Apalagi yang namanya browser itu sama sekali mampet... pet... pet... pet...!

Mendengarkan nyanyian John Legend yang berjudul All of Me pada awalnya saya tidak tertarik. Kemudian sesuatu terjadi....

Lagu itu sering terdengar di tempat orang jualan CD (compact disc, maupun celana dalam), di mall, di swalayan, hypermarket, di radio mobil, bahkan di dalam pesawat terbang. Saya tidak menyukai musik piano yang "duet" dengan vokal seperti itu. Apalagi lagunya slow begitu. Rasanya tidak sabar saja untuk mendengar lagu selanjutnya. Andaikan lagu itu mengalun di gadgetku, bisa kupastikan aku menyentuh tombol "next" dan membiarkannya berlalu.

Telinga saya lebih menikmati suara instrumen (sound) daripada suara penyanyinya (voice). Walaupun tidak semua permainan musik instrumentalia bisa saya nikmati, tetapi vokal yang tidak dominan dengan aneka suara instrumen musik yang mengiringinya lebih enak terdengar bagi saya. Kalau ada lagu yang tidak menggunakan intro musik, melainkan vokalnya yang mendahului, saya tidak begitu tertarik untuk mendengar keseluruhan lagu itu sampai selesai.

Kemarin iseng membeli DVD instrumentalia biola. Violistnya bernama Lindsey Stirling. Sudah lama tidak menikmati biola setelah dulu pernah memutar grup musik Bond dengan permainan kuartet biola rame-rame yang terkenal dengan lagunya yang berjudul Victory.