Sebenarnya kamu tak perlu menangis, sebab aku hanya merangkum apa yang pernah kita jalani selama ini. Aku tidak hanya mengulas kepedihan saja kok, keindahan diantara kita juga banyak. Biarlah kekecewaan ini sengaja kuungkapkan di awal pembicaraan sebagai tekanan agar kelak kita bisa sama-sama memperbaikinya.


Kamu juga tidak perlu merayuku untuk tidak pergi meninggalkanmu. Sebab aku masih cinta sama kamu. Aku masih milikmu, setidaknya sampai akhir tahun ini. Aku hanya ingin kamu tahu apa mauku, disamping aku juga ingin tahu apa maumu. Dengan begitu kita punya sehelai benang merah untuk titian perjalanan yang apa adanya. Perjalanan sederhana yang kita sebut seperti aliran air ini.

Perjalanan ini adalah belajar untuk berubah. Memperbaiki hal-hal negatif dan membangun yang positif-positif. Kalaupun terpaksa harus memelihara kebusukan, biarlah kita simpan dalam-dalam agar kita saja yang tahu. Sebab, tidak ada hal yang benar-benar sempurna untuk kita miliki. Yang lalu biarlah lekang oleh waktu, kita hanya butuh pelajaran darinya. Seperti kataku dulu, kita dipertemukan untuk sebuah makna. Hakikat itulah yang harus kita gali. Jadi menurutku nggak cukup sampai disini, nggak hanya sampai akhir tahun ini.


A Tribute to My Beloved Mother


Still remember the first story about an angel who came in my dream....

At the time I woke up in shock and in wet conditions. I was wet? Oh, no! This wet was just different. I thought of what happened while I was dreaming. Apparently I had a dream to fuck up an Angel, after I catch her up.

 


There were about 5 to 7 people pursued an angel who was flying low. An angel who exhausted reach the sky again. A beautiful angel, but was battered for so long despaired, unkempt.

I myself did not know where I was. Anywhere, in a part of the world there was often an angel falling from the sky. The Angel was deliberately lowered into the earth by gods because of an unforgivable mistake. She was sentenced to be a human being on earth. Only the first man who catch her is that allowed to have it.

Buto Cakil baru saja melarikan diri dari perang kembang. Badannya terasa remuk semua setelah kalah melawan Arjuna. Dalam hatinya tidak pernah terima. Dia sudah berlatih berperang, memperlincah gerakan-gerakannya, mempelajari trik-trik melawan musuh. Tapi tetap saja ia kalah dan kalah. Ia mengeluh kepada para Dewa yang menjadikan takdir seperti itu untuknya. Ia protes. Akankah selamanya ia akan kalah menghadapi si Ganteng yang playboy itu?


Soal wajah memang boleh kalah. Tampang memang sudah dari sononya begini. Mau nyalahin siapa lagi? Nyalahin tukang sungging (tukang pahat) wayang juga nggak bisa. Karena mereka hanya nurut pakem pakeliran (pewayangan) yang berlaku. Jadi ia masih terima dengan wajah yang jelek, dengan rahang bawah yang ekstrem klas 3 itu. Tapi soal nasib dan takdir, ini siapa sebenarnya yang bikin? Sepertinya Tuhan tidak pernah membikin nasib seseorang jadi selamanya ancur begini. Tidak adil kalau hidup seseorang hanya menjadi tumbal bagi yang lainnya. Nasib bisa diubah, kadang diatas, kadang dibawah. Maka iapun menggugat. Kepada Para dewa di kayangan ia tidak pernah didengarkan, iapun menggugat sang Dalang.

Lihat Aku? Sudah tampang jelek, nasib nggak kalah jelek. Padahal dibalik kejelekanku aku ini punya kesetiaan. Aku punya semangat untuk selalu menang. Aku selalu belajar dan berlatih. Karena itulah, sesama pasukanku aku yang terpilih (pilih tanding). Aku selalu mengobarkan semangat perangku untuk selalu menyala. Dan kenyataannya, aku selalu melambangkan tokoh yang pantang menyerah dan selalu berjuang hingga titik darah penghabisan. Tapi kali ini aku melarikan diri untuk satu tujuan, yaitu protes!

Satu hal lagi yang penting: aku bukan tipe orang yang suka mempermainkan hati perempuan. Aku tidak pernah merebut pacar ataupun istri orang.

Apa yang kamu lihat pada si Arjuna itu? Wajah ganteng, punya segalanya. Tapi apa arti kesetiaan baginya? Apakah memang harus demikian jalan hidup untuk menjadi manusia? Menjadi orang yang sukses, dengan harta melimpah, tahta yang terhormat, wanita yang banyak? Satu pasangan tak cukup? Dua simpanan juga tak cukup? Sebenarnya siapa yang Bajingan? Aku atau Arjuna?

Kamu sekarang sebagai seorang dalang, “Ngudhal Piwulang”! Pelajaran apa yang telah kauberikan untuk para manusia? Kau selalu menempatkan aku dalam kebusukan hidup, menjadi raksasa dekil yang tidak disukai wanita. Jangankan untuk merebut hati perempuan seperti si Sembadra; Juminten, janda jelek jerawatan penjual jamu itupun nggak sudi sama aku!

Inikah yang kau sebut takdir? Kurasa ini bukan takdir dari Tuhan! Ini takdir yang sengaja kauciptakan untuk kepentinganmu sendiri. Kaubenarkan segala bentuk keserakahan akan harta, tahta, bahkan wanita! Kaubenarkan perselingkuhan dan hubungan-hubungan tidak sah! Kautiduri wanita-wanita pesindenmu! Lalu dengan keserakahan yang manis itu kaukambinghitamkan orang-orang buruk rupa seperti aku sebagai bentuk angkara murka di dunia ini!

Hmm... dunia memang sudah terbalik sejak dulu! Terserah! Sampai jumpa di Neraka!

Langit masih berselimut mendung, hujan masih deras menikam bagai seribu anak panah di hatinya yang semakin terkoyak. Jadi dia hanya diam membisu di kamarnya yang sepi dan gelap, tanpa lampu. Badai petir dan halilintar masih terkadang menggelegar seirama jeritan hatinya yang tercabik-cabik. Tetes air mata tak lagi mampu ditahannya, meskipun lelaki sejati ini mengaku tidak pernah menangis.

Adalah sang Rama yang tersayat hatinya karena cintanya telah dinodai, membakar ranjangnya sendiri dengan dendam. Ranjang dengan lambang cinta sang Dewi Shinta itu kini telah jadi hangus menjadi serpihan-serpihan abu. Adalah Rahwana yang telah merebut cinta suci itu darinya. Cinta yang dia persembahkan dengan segenap hati dan setulus jiwanya. Cinta dari hatinya yang hanya satu, yang tidak berbelah dan tidak terbuat dari besi.

Dibukanya jendela kamar, dirasakannya hembusan angin menerpa wajahnya yang telah kusut. Rinaian air hujan telah membasahi wajahnya dan berpadu dengan air mata yang terus meleleh. Hanya satu nama yang selalu ia sebut-sebut. Shinta sang kekasih hati telah pergi, berselingkuh dengan pria berada, nun jauh di seberang sana. Hatinya semakin meradang dendam, betapa teganya sang kekasih yang dicintainya selama bertahun-tahun kini pergi begitu saja tanpa alasan.

Matanya lalu tertuju ke laci almari, dimana ia pernah menyimpan sepucuk pistol. Sebatang peluru sudah cukup untuk menyudahi hidupnya yang kini tengah berseklibut dengan keputusasaan. Sayangnya ia tak mampu lagi mengingat dimana ia simpan peluru terakhirnya itu. Yang dia ingat hanyalah sebotol racun serangga yang ia simpan di kamar sebelah. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya ia tidak akan bunuh diri kalau hanya dengan racun serangga itu. Nggak berkelas! Masih lebih keren kalau bunuh diri dengan pistol yang meledak di kepalanya. Disamping itu, rasa dan aromanya tidak enak untuk diminum, bahkan ia harus mengalami sakit perut lebih dulu sebelum akhirnya benar-benar mati. Itupun masih bisa gagal kalau kadar racunnya belum cukup untuk membunuhnya. Hasilnya ia akan malu dengan para tetangga karena gagal bunuh diri.

Dia masih berpikir. Tapi kali ini ia berencana membunuh sang Rahwana keparat itu. Tapi ia tak punya ide bagus untuk melakukannya sekarang. Hatinya yang patah sangat mengganggu ide-ide cemerlangnya. Sepertinya ia perlu waktu untuk membangkitkan kembali semangat juangnya dengan perencanaan yang matang dan strategis.

Malam berikutnya ia masih terbengong sepi di kamarnya yang hangus terbakar. Hujan dan badai tak lagi turun. Ia belum juga menemukan titik terang, apa yang harus diperbuatnya. Sebatang arang yang ia temukan diantara serpihan-serpihan ranjang itu diraihnya untuk mulai menggores di sebagian dinding yang masih putih.

Plan A: ia akan mengikhlaskannya. Biarlah Shinta kekasih hatinya itu bahagia di ranjang orang. Hatinya penuh harap kepada Sang Hyang Widhi, agar kebahagiaan selalu dicurahkan kepada kekasih hatinya itu, dimanapun ia berada. Tiba-tiba hilang keinginan meneruskan menulis plan A, lalu diambilnya gitar dan mulai bersenandung lagu sedih. Lagu yang keluar dari hatinya begitu menyayat. Seperti senandung kehancuran yang lainnya. Badai masih berkecamuk dalam hatinya, dan lagu yang dinyanyikannya pun semakin keras menghentak. Seperti musik-musik aliran heavy metal di era 80-90an.

Setelah selesai dengan nyanyiah hati yang ia senandungkan selama kurang lebih 10 menit, iapun letih. Ditaruhnya gitar di sudut ruangan dan iapun lelap tertidur.

Akan tetapi di dalam mimpinya, lagu itu belum berhenti bersenandung. Semakin menghentak dan semakin keras. Bahkan teriakan serigala malam pun tak ada yang sekeras nyanyian itu. Bayang-bayang dalam mimpinya silih berganti datang dan pergi dengan suara-suara yang seolah-olah didengarnya. Sesekali badannya terkejut-kejut selama ia tidur. Bola matanya yang terpejam tampak menggeliat-geliat mencari-cari sesuatu. Nafas tidurnya terengah-engah, bagaikan sedang berperang. Tangan dan kakinya kejang-kejang di saat-saat tertentu. Hingga pada suatu jam tertentu, terbangunlah ia dari tidurnya.

Seolah tidak terima diperlakukan tidak adil, segera dicarinya kembali sebatang arang dan melanjutkan dengan Plan B. Sebab Plan A akan sangat mungkin gagal dia wujudkan.