masih terkait dengan keanggunan dunia
keanggunan yang biasa saja
tapi di mataku terlihat sempurna
masih selalu terpesona gerlap dunia
yang entah cahyanya datang dari mana
begitu kelam tapi sungguh menyilaukan mata
masih berbahagia dengan membakar diri
dalam kubangan api yang selalu terasa hangat
dalam dekapan malam yang melupakan arah pulang
masih terpedaya oleh kekalnya kesementaraan
yang terus merenggut hati dengan rindu
dan menjerat hasrat dengan nikmat
tak lagi berharga pengetahuan dan pemahaman
hanyalah pembenaran yang terus dipakai alasan
sampai lupa diri kapan harus kembali
tentang kesempurnaan yang sejatinya tiada
tentang peluang yang tidak kunjung tiba
tentang kegersangan yang membawa ke persimpangan
seperti bintang yang terbentang jarak
berkilau sendiri dan berinteraksi dalam konstelasi
saat tak ada yang peduli
entah sampai kapan ...
Ono sepasang lanang wedok rukun wis podho umur sewidakan lagi arep mapan turu neng dhuwur dhipan. Ing tengah sepi wengi kang bening iku, sing lanang ngentut banter trus omong, "Poinku pitu!"
Sing wedok banjur nyingkur karo omong, "Gek maksude opo, ngono?"
Sing lanang mangsuli, "Ayo dolanan entut-entutan!"
Let sedhela sing wedok genti ngentut trus ngomong, "Wis, skor sama saiki."
Limang menit mlaku, sing lanang ngentut maneh trus omong, "Saiki aku menang 14 lawan 7. Yess!"
Wegah kalah, sing wedok ngelus wetenge karo ngupaya biso ngentut maneh, trus akhire isoh ngentut karo ngomong, "Podho maneh saiki skore!"
Persaingan dadi tambah sengit... Sing lanang wegah kalah, dheweke banjur ngeden sak kuwate. Nanging sing metu dudu entut thok malah ketoke katutan sak ampase. Suarane gemrutuk rada aneh....
Sing wedok krungu banjur takon, "Kuwi suworo opo, Kung?"
Sing lanang semaur, "Suoro wasit nyemprit. Setengah mainan. Tukar posisi!"
Sing wedok banjur nyingkur karo omong, "Gek maksude opo, ngono?"
Sing lanang mangsuli, "Ayo dolanan entut-entutan!"
Let sedhela sing wedok genti ngentut trus ngomong, "Wis, skor sama saiki."
Limang menit mlaku, sing lanang ngentut maneh trus omong, "Saiki aku menang 14 lawan 7. Yess!"
Wegah kalah, sing wedok ngelus wetenge karo ngupaya biso ngentut maneh, trus akhire isoh ngentut karo ngomong, "Podho maneh saiki skore!"
Persaingan dadi tambah sengit... Sing lanang wegah kalah, dheweke banjur ngeden sak kuwate. Nanging sing metu dudu entut thok malah ketoke katutan sak ampase. Suarane gemrutuk rada aneh....
Sing wedok krungu banjur takon, "Kuwi suworo opo, Kung?"
Sing lanang semaur, "Suoro wasit nyemprit. Setengah mainan. Tukar posisi!"
Kok pesimis gitu sih? Harus optimis dong! Kita bisa melalui ini secepatnya kok!
Optimis itu kan kalau segala sesuatu berada di bawah kendali kita sepenuhnya? Kalau masalah Covid-19 ini kan masalah kompleks? Peran majemuk dari para pemegang kepentingan sangat menentukan. Jadi kamu nggak bisa sendirian. Seorang Presiden pun tidak bisa mengatasi masalah ini di negaranya sendirian walaupun optimismenya setinggi langit.
Optimis itu kan kalau segala sesuatu berada di bawah kendali kita sepenuhnya? Kalau masalah Covid-19 ini kan masalah kompleks? Peran majemuk dari para pemegang kepentingan sangat menentukan. Jadi kamu nggak bisa sendirian. Seorang Presiden pun tidak bisa mengatasi masalah ini di negaranya sendirian walaupun optimismenya setinggi langit.
Lalu kenapa harus 2028?
Ya lihat saja. Walaupun itu hanya opini, tapi sebenarnya ada banyak faktor yang bisa kita teliti kalau mau lebih cermat. Pengalaman negeri ini selama setahun pandemi Covid-19, saya yakin sudah bisa banyak data yang bisa disajikan. Ya pasti bisa diprediksi lah, bagaimana kecenderungan penyakit ini. Bagaimana trend kasusnya, tingkat kematiannya, attack rate virusnya, efektivitas pencegahannya, efektivitas penanganannya, dan masih banyak lagi.
Mau dibahas satu persatu? Ayook!
Trend kasus
Bagaimana nggak ngeri, ketika pada akhir Januari 2021 ini kasus Covid-19 yang dilaporkan https://covid19.go.id/ sudah tembus angka satu juta. Pada saat itu tambahan kasus per hari mengalami tren di atas 10.000 kasus dalam dua pekan terakhir, sementara fasilitas kesehatan "nyaris kolaps" dengan sejumlah orang yang dinyatakan positif Covid-19 mengaku kesulitan mendapat perawatan. Sejak awal 2020 trend kasus yang diprediksi akan melandai di Juli 2020, ternyata tidak ada kecenderungan menurun sama sekali. Bahkan kasus ini terus merangkak naik di Januari 2021. Kasus kematian sudah mencapai 28.855 per 27 Januari 2021. Setiap bulan dilaporkan “pecah rekor” baru dalam jumlah kasus, mau bikin prediksi turun lagi di tahun 2021?
Mau dibahas satu persatu? Ayook!
Trend kasus
Bagaimana nggak ngeri, ketika pada akhir Januari 2021 ini kasus Covid-19 yang dilaporkan https://covid19.go.id/ sudah tembus angka satu juta. Pada saat itu tambahan kasus per hari mengalami tren di atas 10.000 kasus dalam dua pekan terakhir, sementara fasilitas kesehatan "nyaris kolaps" dengan sejumlah orang yang dinyatakan positif Covid-19 mengaku kesulitan mendapat perawatan. Sejak awal 2020 trend kasus yang diprediksi akan melandai di Juli 2020, ternyata tidak ada kecenderungan menurun sama sekali. Bahkan kasus ini terus merangkak naik di Januari 2021. Kasus kematian sudah mencapai 28.855 per 27 Januari 2021. Setiap bulan dilaporkan “pecah rekor” baru dalam jumlah kasus, mau bikin prediksi turun lagi di tahun 2021?
![]() |
| Cover Media Indonesia Minggu 10 01 2021 |
Kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang terjadi pada hari Sabtu, 9 Januari 2021 sepertinya akan menimbulkan keengganan sebagian masyarakat untuk melakukan perjalanan udara beberapa minggu ke depan setelah kejadian. Hal ini tentu berdampak pada upaya pengetatan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), terutama untuk wilayah Jawa dan Bali yang akan dilakukan per tanggal 11 - 25 Januari 2021. Kebijakan tersebut diambil karena kecenderungan meningkatnya kasus Covid-19 yang menimbulkan status pandemi menjadi berkepanjangan.
Di awal tahun 2020 lalu pernah diprediksi bahwa pandemi ini dapat mulai menunjukkan trend berakhir di bulan Oktober dan benar-benar berakhir di bulan Desember. Upaya PSBB juga pernah diambil kebijakannya di bulan Maret 2020, lalu kebijakan pembatalan libur panjang lebaran di pertengahan tahun, serta terus menggencarkan protokol kesehatan dengan melaksanakan 3M (Menjaga jarak, Mencuci tangan, dan Memakai masker). Tapi di tengah perjalanannya, kebijakan pelaksanaan New Normal diambil, yang ditujukan untuk menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat agar tidak terpuruk.
Era New Normal sepertinya tidak begitu efektif. Sebagian masyarakat sudah kehilangan rasa takut akan adanya pandemi ini. Mereka seolah sudah terbiasa dengan kondisi yang ada. Kebiasaan baru yang seharusnya diterapkan tidak dijalankan. Yang seharusnya menjaga jarak, tidak dilakukan. Nekad bergerombol dan membuat kerumunan di acara-acara pesta dan sebangsanya. Kebiasaan cuci tangan pun mulai diabaikan. Tempat-tempat cuci tangan yang disediakan di sarana-sarana umum seolah hanya tinggal pajangan belaka, bahkan cenderung mengering, seolah tidak pernah dipakai. Apalagi penggunaan masker yang standar sesuai yang direkomendasikan pun semakin tidak dipedulikan. “Mengenakan masker” memang dilakukan, tetapi mengenakannya tidak secara benar, tidak menutupi hidung dan mulut seperti yang dianjurkan.
Kemudian adanya cuti bersama maulud Nabi Muhammad s.a.w yang dirangkai dengan libur panjang di akhir bulan Oktober 2020 juga ternyata menimbulkan dugaan kuat terkait dengan peningkatan kasus Covid-19 setelah masa tersebut. Hal ini menyebabkan pemerintah harus mengambil kebijakan untuk meniadakan lagi cuti bersama yang dirangkai libur panjang Natal 2020 dan tahun baru 2021. Padahal sedianya cuti panjang ini merupakan penangguhan cuti panjang lebaran yang sudah ditiadakan di pertengahan tahun 2020.
Jane aku ra arep misuh-misuh. Tapi apa daya kahanan soyo marai aku muneg, muntab, kemropok,... Djancuk tenan, pokoke! Iki pandemi Covid-19 kapan rampunge? Heeee????
Prokes! Prokes! Prokes! Dikon nglakoni protokol kesehatan wae kok uangel men? Goblok, pekok, opo picek? Lha yo jelas samsoyo nyebar viruse, samsoyo ngembyah kasuse, wong dho bebas-bebasan tular-tularan sak karepe dhewe. Dupeh ora ngrasakne, dupeh OTG, dupeh isih nom, isih kuwat, isih seneng leda-lede, ....
Protokol kesehatan iku sing penting jaga jarak, amargo virus iku nulare liwat abab. Ababmu sing kecing kuwi ngandhut virus yen kowe guneman, ambegan, opomaneh ngakak-ngakak tanpo masker. Biso nular marang wong sing jarak kurang saka semeter. Mulane jaga jarak, ora gawe krumunan, ora thongkrongan udad-udud bukak-bukakan masker.
Yen ora mungkin jaga jarak amargo nglakoni kewajiban, amargo golek nafkah, amargo nyukupi butuh, alasan ekonomi, okee.... maskere diagem nggih, Dhe, Pak, Bu, Lik, Ngger! Le, Ndhuk! Su! Masker kuwi kanggo nutupi dhapurmu ben ora los-dhol ababe mobat-mabit tekan ngendi-ngendi. Maskere sing standar, yo? Ojo sing digawe soko saringan wedhi! Ndladhuk tenan, wis dikandhani ahline jik ra gagasan.
Astane kuwi yo kudu ajeg diwisuhi gunane opo to? Yo ben virus sing tememplek neng astane kuwi biso katut banyu wisuh. Opomaneh kebiasaan tangan reged njur ditemplekne rai, useg-useg kukul, uthik-uthik upil, thithil-thithil slilit, yen kerep diwisuhi kan kuman-kuman kuwi biso sudo. Ora biso ngilangi 100% nanging biso nyudo kan lumayan? Kareben ora kemproh-kemproh banget uripmu, Dhus!
Jane yen dho manut nglakoni prokes ngono kuwi ora perlu ono pembatasan-pembatasan sing kudu diatur dening pamerintah kaya saiki iki. Batasan wae mbok langgar, dhasar kowe ki asu pranakan menungso tenan kok! Pamarentah wis menehi wewates kareben nglakoni PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ora keno lelungan sik, ora kumpul-kumpul sik, ora mudhik sik, transportasi diwatesi nganggo aturan-aturan ketat, nganggo tes-tes Rapid Antigen, swab PCR, kareben podho lerem anggone arep mrono-mrene nular-nularake virus.
Leren sik, neng ngomah wae, rasah kudu mbedhal metu. Sekolah-sekolah wis digawe “prei” kareben sinau neng omah, kantor-kantor wis diberlakukan WFH (Work From Home), nanging kok yo nekad. Malah dho gawe acara, pesto-pesto sing ora nggagas marang protokol kesehatan. Viruse melu pesto, Su!
Prokes! Prokes! Prokes! Dikon nglakoni protokol kesehatan wae kok uangel men? Goblok, pekok, opo picek? Lha yo jelas samsoyo nyebar viruse, samsoyo ngembyah kasuse, wong dho bebas-bebasan tular-tularan sak karepe dhewe. Dupeh ora ngrasakne, dupeh OTG, dupeh isih nom, isih kuwat, isih seneng leda-lede, ....
Protokol kesehatan iku sing penting jaga jarak, amargo virus iku nulare liwat abab. Ababmu sing kecing kuwi ngandhut virus yen kowe guneman, ambegan, opomaneh ngakak-ngakak tanpo masker. Biso nular marang wong sing jarak kurang saka semeter. Mulane jaga jarak, ora gawe krumunan, ora thongkrongan udad-udud bukak-bukakan masker.
Yen ora mungkin jaga jarak amargo nglakoni kewajiban, amargo golek nafkah, amargo nyukupi butuh, alasan ekonomi, okee.... maskere diagem nggih, Dhe, Pak, Bu, Lik, Ngger! Le, Ndhuk! Su! Masker kuwi kanggo nutupi dhapurmu ben ora los-dhol ababe mobat-mabit tekan ngendi-ngendi. Maskere sing standar, yo? Ojo sing digawe soko saringan wedhi! Ndladhuk tenan, wis dikandhani ahline jik ra gagasan.
Astane kuwi yo kudu ajeg diwisuhi gunane opo to? Yo ben virus sing tememplek neng astane kuwi biso katut banyu wisuh. Opomaneh kebiasaan tangan reged njur ditemplekne rai, useg-useg kukul, uthik-uthik upil, thithil-thithil slilit, yen kerep diwisuhi kan kuman-kuman kuwi biso sudo. Ora biso ngilangi 100% nanging biso nyudo kan lumayan? Kareben ora kemproh-kemproh banget uripmu, Dhus!
Jane yen dho manut nglakoni prokes ngono kuwi ora perlu ono pembatasan-pembatasan sing kudu diatur dening pamerintah kaya saiki iki. Batasan wae mbok langgar, dhasar kowe ki asu pranakan menungso tenan kok! Pamarentah wis menehi wewates kareben nglakoni PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ora keno lelungan sik, ora kumpul-kumpul sik, ora mudhik sik, transportasi diwatesi nganggo aturan-aturan ketat, nganggo tes-tes Rapid Antigen, swab PCR, kareben podho lerem anggone arep mrono-mrene nular-nularake virus.
Leren sik, neng ngomah wae, rasah kudu mbedhal metu. Sekolah-sekolah wis digawe “prei” kareben sinau neng omah, kantor-kantor wis diberlakukan WFH (Work From Home), nanging kok yo nekad. Malah dho gawe acara, pesto-pesto sing ora nggagas marang protokol kesehatan. Viruse melu pesto, Su!
Langganan:
Postingan (Atom)





