Kucium jejak aroma itu di udara sore yang hangat, ketika aku sedang melayang di atas awan. Diantara hembusan angin yang bertebarkan kerinduan, kutemukan sebuah harapan untuk sekedar menggapainya, dari mana jejak itu berasal. Aku terus mengendus-endus, sepertinya bidadari itu biasa beterbangan disini. Rupanya aku sedang memasuki jalur lalu lintas penerbangan hari-harinya, sehingga aroma itu tak pernah lepas dari atmosfer yang menyelubungi bumi, dimana dia tinggal.

Gemuruh rindu tidak pernah berhenti mengajakku untuk mencumbu senja yang jingga, sebelum tiba-tiba berubah menjadi hitam kelam malam. Aku tahu dia masih berada di sekitaran sini untuk menuai beberapa senandung cinta. Maka akupun mencoba menebar sinyal-sinyal, agar dia tau aku ada disini. Kalau saja ada rindu di hatinya, dia tak akan lari menghindariku. Tapi bila ternyata sebaliknya yang terjadi, ya nggak apa-apa. Aku masih punya waktu bersabar menunggu besok untuk menemukan aroma itu lagi. Karena setiap malam menjelang, jejak itu pasti tiba-tiba hilang, tak terlacak lagi.

Akhirnya kutemukan dia di semacam pintu lorong, yang terbentuk dari sela-sela gumpalan mega yang berwarna senja. Sedang terbang menyambutku. Ternyata dia tidak saja sekedar membaca sinyalku, tapi masih menyala juga kerinduan di hatinya. Rona wajah itu masih sama saja seperti biasanya, dengan tatapan malu-malu, membuang pandang ke arah mega-mega berwarna gradasi biru-jingga dan tak pernah melawan tatapanku terlalu lama.

Barangkali memang sudah dari sononya kita ditakdirkan untuk bisa merayu. Sejak dari zaman Nabi Adam juga sudah ada kemampuan merayu, kan? Masih ingat, nggak, bagaimana Hawa merayu Adam untuk memakan “buah terlarang” itu? Jadi, wajar saja kalau kemudian semua keturunannya juga jadi jago merayu.

Apalagi dengan adanya evolusi peradaban dan manusia, kemampuan merayu pun menjadi semakin canggih. Hehehe… Jadi jagoan merayu semua, deh! Lihat saja, anak-anak kecil sekarang, sudah pandai sekali mereka merayu. Ya, apa nggak?!

Anak saya yang kecil itu baru berumur lima tahun juga sudah pintar merayu. Terutama kalau sedang dimarahin. Dia selalu bilang, "Bapak, jangan marah-marah donk.... Kalau marah nanti gantengnya ilang!"

Lagian, siapa sih yang tidak senang dirayu? Bohong deh, kalau ada yang bilang, “Saya paling tidak suka dirayu!” Maksudnya tidak senang dirayu, barangkali! Mestinya, ya tergantung dari model rayuannya seperti apa. Ada yang senang dirayu dengan puisi-puisi cinta, ada yang senang dirayu dengan diberi hadiah, tapi ada juga yang senangnya dirayu dengan perbuatan-perbuatan tak terduga. Tiba-tiba dibikinin telor dadar, misalnya. Wah, ini pengalaman siapa, ya?

Yen ana sing takon, geneya rakyat padha mata dhuwiten nalika suwarane dadi rebutan dening tokoh-tokoh politik nalika arep pemilu? Wangsulane wis cetha, jalaran kabeh sing bisa nglungguhi kursi DPRD lan DPR Pusat bakal lali marang rakyat lan malah padha gelis-gelisan sugih. Dene kabeh bisa gelis sugih jalaran pancen bisa sewenang-wenang ngreka-ngreka lan nggolor-olor anggaran proyek-proyek.

Luwih cethane, kabeh tokoh politik uga mata dhuwiten saengga saben-saben obah tangane mesti kudu nampa dhuwit sing diarani komisi resmi utawa komisi ora resmi. Dene komisi resmi bisa wae dianggep wis sarujuk karo paugeran saengga ora dianggep korupsi. Dene komisi ora resmi kaya sogok-sogokan wis cetha yen kuwi nerak paugeran. Nanging yen kabeh padha nerak paugeran mangka dianggep lumrah-lumrah wae.

Wis ora bisa dibantah maneh yen kabeh anggaran proyek dadi bancaan dening kabeh tokoh politik sing ana ing legislatif lan eksekutif. Pokoke kabeh mesti padha-padha nampa jatah saben-saben ana proyek.

Senja masih bercengkrama dengan suara-suara angin dan deru ombak. Udara terasa hangat menghembus ke wajah yang letih. Sejenak mengheningkan diri dengan segumpal harapan yang tak pernah hilang. Sesekali melemparkan kerikil ke arah laut sambil membuang angan-angan yang tersabur antara kenyataan dan kepalsuan.

Tidak banyak yang bisa mengubah angan-angan itu selagi angin hanya sekedar berhembus, tak membawa perubahan apapun selain hujan kata-kata yang ditebarkan ke langit. Tidak semua orang sama dalam memahami cerita dan pesan di baliknya. Cenderungnya akan selalu saja menilai buku dari sampulnya.

Maka cemburulah hanya kepada ombak yang memesrai pantai, kepada ciuman yang membelai setiap saat. Jangan kepada badai yang hanya datang semusim sekali. Harusnya kaupahami letihnya penantian dalam kesendirian menunggu musim baru yang kadang tidak muncul tepat waktu. Tidak juga banyak yang bisa dilakukan buat mengubah sejarah ini sekarang.

Namun yang selalu jelas tersirat disetiap berkas sinar bintang-bintangmu hanyalah kebencian. Tak pernah kausadari bahwa perasaan itu hanya membuang energi yang dari pelepasan cahayanya yang redup-terang. Kamu selalu membuat nafasku berhenti hanya untuk bayang-bayangmu yang kelam. Kamu selalu membakar belantara cinta ini hanya dengan sepercik api yang tak pernah terduga datangnya.

Setengah malam telah bersemayam. Menyanyikan lagu begitu indah. Walau tidak tau sejauh mana angan-angan telah mengembara. Kemelut sudah sedemikian kejam membakar cinta yang beku. Rindupun menggunung bagai sampah yang tertimbun dan mengotori hati dengan prasangka negatif akan harapan-harapan palsu. Bahkan janjipun melahirkan keraguan, akankan cinta sudah sedemikian pantas untuk ditinggalkan.

Tidak tahu seberapa dalamnya hati. Tapi tidak juga bisa dijelaskan, karena ketidakberdayaan selalu membelenggu. Terkesan rapuh, lemah, tak berguna. Tidak pernah berhenti keyakinan disiramkan bagai hujan, membanjiri setiap media dengan kata-kata. Yang namanya keterbatasan walaupun bisa dimaklumi namun begitu sering malahan menjadi makan hati. Tinggal sejauh mana kita akan memaknai cinta, walaupun seringkali kita mendapati segalanya berada di atas penyesalan masa silam.

Maka sang Jiwa kembali terbang melesat membumbung tinggi, menuju lapis langit tiga ratus sekian. Disitulah sang Jiwa kembali berharap bertemu sang Sandaran Hati. Tidak tahu lagi dimana bidadari itu kini berada, karena dia selalu mengepakkan sayapnya ke sana, ke mari, demi sebuah pengharapan yang bisa mencukupi diri akan semua kebutuhan kesehariannya. Hanya satu tempat yang pasti dia kunjungi, tempat yang selalu meneduhkan hati dikala segala beban terasa sedemikian berat untuk terus dijinjing.