Kadang kalau meja kerja sudah terlalu berantakan, saya tiba-tiba ingin membereskannya. Kertas ditumpuk. Pulpen dikembalikan ke tempatnya. Gelas dipindahkan. Barang-barang kecil yang entah sejak kapan tinggal di situ mulai disingkirkan.
Lima belas menit kemudian meja terlihat bersih.
Masalahnya, saya malah bingung.
“Lho, kertas yang tadi di sini mana?”
Hahaha.
Ternyata selama ini saya punya sistem penyimpanan sendiri: berantakan, tapi tahu letaknya. Begitu dibereskan, justru hilang semua koordinatnya.
Pasti beberapa dari kalian juga relate, kan?
Mungkin kepala saya juga begitu.
Isinya tidak pernah benar-benar tertata. Pagi memikirkan pekerjaan. Siang tiba-tiba ingat lagu lama. Sore membaca sesuatu tentang teknologi. Malam kepikiran masa lalu. Besoknya ingin menulis tentang pendidikan. Lusa malah muncul dua baris puisi yang nggak jelas datang dari mana.
Kalau ada petugas audit untuk isi kepala, mungkin temuannya banyak.
“Saudara, ini pikiran tentang masa depan kenapa dicampur dengan kenangan tahun 1997?”
“Tidak tahu, Pak. Sudah dari sananya.”
Hahaha.
Dulu saya agak terganggu dengan itu. Rasanya hidup seharusnya rapi. Kita harus punya tujuan yang jelas. Kalau menulis blog, katanya harus punya niche. Kalau bikin media sosial, harus punya personal branding. Kalau punya ide, harus dibuat mind mapping. Kalau punya target, harus SMART.
Pokoknya semua harus jelas.
Makan → foto dulu.
Jalan-jalan → bikin story.
Olahraga → upload Strava.
Nonton konser → rekam.
Beli kopi → foto.
Sedih → bikin quote.
Bahkan sedang bahagia pun kadang belum sah sebelum ada yang tahu.
Hahaha.
Saya tentu tidak sedang menyindir siapa-siapa. Lha wong saya juga pelakunya. Pernah datang makanan bagus, bukannya berdoa dulu malah cari HP. Geser piring sedikit. Sendok dipindah. Gelas jangan menutupi lauk. Cari angle. Jepret. Kurang bagus. Jepret lagi.
Makanannya menunggu dengan sabar....
Kalau dia bisa ngomong mungkin dia akan bilang, “Om, saya ini mau dimakan atau ikut casting?”
Yang lebih lucu lagi kalau jalan-jalan. Dulu orang pergi ke pantai untuk melihat laut. Sekarang kita pergi ke pantai, lihat laut sebentar, lalu membelakanginya.
...
Karena mau selfie.
Matahari yang sudah menempuh perjalanan 150 juta kilometer menjadi Sunset akhirnya cuma dijadikan background foto kita yang pakai kacamata hitam.
Kasihan juga matahari. Hahaha.
Tanpa sadar, sebenarnya kita sedang membuat arsip kehidupan kita sendiri. Dulu orang tua kita (sekarang mungkin sudah kakek/nenek buyut kita) punya album foto. Satu keluarga mungkin cuma punya beberapa album yang disimpan rapi di lemari. Isinya foto ulang tahun, piknik, wisuda, pernikahan, atau foto dengan pose kaku di depan rumah. Kita sekarang beda. Satu orang bisa punya puluhan ribu foto. Belum video, status, tulisan, story, komentar, dan entah apa lagi. Foto tentang kopi pagi yang hari ini terasa nggak penting, siapa tahu tiga puluh tahun lagi justru membuat seseorang tersenyum, “Oh… ternyata dulu dia suka kopi juga.”
Yang agak aneh adalah internet seperti tidak terlalu mengerti konsep kehilangan. Suatu hari kita mungkin menemukan kembali komentar seseorang yang sudah lama tiada. Namanya masih ada. Fotonya masih tersenyum. Akunnya bahkan masih bisa diklik. Kadang algoritma malah dengan polosnya mengingatkan ulang tahunnya. Dunia nyata sudah lama belajar menerima bahwa seseorang telah pergi, tetapi dunia digital hari ini seperti berkata, “Lho, dia masih ada kok. Nih fotonya.”
Lalu saya jadi kepikiran: kalau suatu hari giliran kita, sebenarnya versi diri kita yang mana yang akan tertinggal di internet? Foto terbaik yang dipilih setelah mencoba 17 pose? Status marah yang diketik jam sebelas malam? Tulisan sok bijak yang besok paginya kita sendiri malu membacanya? Video jalan-jalan? Foto makanan? Atau komentar nggak penting yang dulu kita tulis sambil menunggu antrean? Rupanya jejak digital bukan autobiografi yang kita susun dengan rapi. Ia lebih mirip kardus besar berisi potongan-potongan kehidupan yang kita lemparkan ke dalamnya selama bertahun-tahun.
“Shut Me Down” terdengar seperti kisah tentang seseorang yang perlahan kehilangan cahaya dalam dirinya; bukan karena dunia terlalu keras, tetapi karena cinta yang dulu membuatnya hidup justru menjadi alasan ia menutup diri.
Bayangkan seorang tokoh utama yang dulunya hangat, penuh mimpi, dan selalu percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Ia bertemu seseorang yang membuat hidupnya terasa lengkap. Hubungan mereka begitu dalam sampai ia mulai menggantungkan kebahagiaan, arah hidup, bahkan identitas dirinya pada orang itu. Namun seiring waktu, cinta tersebut berubah: dipenuhi jarak, kata-kata yang tak pernah selesai, dan luka-luka kecil yang terus menumpuk diam-diam.Saat hubungan itu runtuh, bukan hanya cintanya yang hilang. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk merasa. Musik yang dulu menenangkan kini terdengar kosong, kota yang dulu indah menjadi asing, dan setiap percakapan terasa melelahkan. Ia mulai “shut down” — mematikan emosinya sendiri agar tidak lagi terluka. Bukan dalam bentuk dramatis, tetapi perlahan: berhenti menjawab pesan, menjauh dari teman, tertawa seperlunya, hidup sekadarnya.
Yang membuat cerita ini emosional bukan hanya tentang patah hati, tetapi tentang perjuangan untuk kembali hidup setelah seseorang pernah menjadi seluruh dunia kita.
Langit di dalam kepala mulai berderak, seolah awan-awan saling bergesekan, memercikkan kilat kecil yang tak sampai menyambar. Sang Jiwa mengayun langkah, atau mungkin hanya berpura-pura melangkah, menyusuri hari yang terasa seperti lorong panjang dengan dinding kenangan di kiri dan kanan. Setiap dinding memantulkan bayangan sendiri, retak-retak, terdistorsi, namun tetap dikenali.
Sang Jiwa terus berjalan, punggungnya sedikit membungkuk, membawa beban yang tak kasat mata. Semacam harapan yang tak pernah benar-benar mati, hanya tidur sebentar lalu terbangun dengan wajah baru. Sang Sandaran Hati ingin memanggilnya, memintanya berhenti, tapi suaranya terjebak di tenggorokan, menjadi gumaman yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Angin berembus entah dari mana, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Sang Sandaran Hati merindukan hujan, bukan karena basahnya, melainkan karena caranya menyamarkan air mata. Dalam hujan, semua kesedihan menjadi sah, menjadi bagian dari alam, tak perlu dijelaskan atau dipertanggungjawabkan. Sang Jiwa selalu tahu hal-hal semacam itu, bahkan sebelum khalayak sempat memikirkannya.
“Beristirahatlah,” bisiknya akhirnya, nyaris tak terdengar. Bukan perintah, bukan pula permohonan. Lebih seperti pengakuan bahwa lelah adalah hak, bukan kelemahan. Sang Jiwa duduk di tepi hari, menggantungkan kaki pada kekosongan, membiarkan pikiran-pikiran berjatuhan satu per satu seperti daun kering.






