Ketupat selalu identik dengan Hari Raya Lebaran. Tetapi sebenarnya apa sih yang membuat Ketupat menjadi tradisi yang selalu ada waktu Lebaran? Apa filosofinya?
Pertanyaan yang ada sekarang, kenapa menggunakan Ketupat? Bagi masyarakat Jawa, Ketupat memiliki arti tersendiri, selain dari nama dan bentuk, proses pembuatan Ketupat sendiri memiliki makna dan arti dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Ketupat dalam Bahasa Jawa biasa disebut kupat, dalam salah satu website, disebutkan bahwa adanya tradisi makan Ketupat di luar (setelah) hari Lebaran, yang biasanya dinamakan dengan hari Raya Ketupat, disebut sebagai tradisi Kupat Luar. Kupat ini berasal dari kata Pat atau Lepat (kesalahan) dan "Luar" yang berarti di luar, atau terbebas atau terlepas, dengan harapan bahwa orang yang memakan Ketupat akan kembali diingatkan bahwa mereka sudah terlepas dan terbebas dari kesalahan, sehingga masyarakat diharapkan akan saling memaafkan dan saling melebur dosa dengan simbolisasi tradisi kupat luar.
Di salah satu sumber lain, Ketupat berasal dari kerotoboso (atau bahasa singkatan) dari kata Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi Ketupat diharapkan akan membuat kita mau mengakui kesalahan kita sehingga membantu kita untuk memaafkan kesalahan orang lain juga. Sehingga, dosa yang ada akan saling terlebur.

Pada umumnya, dikenal dua bentuk Ketupat, dan bentuk yang paling sering dikenal adalah bentuk Ketupat yang seperti pelajaran di SD dulu yaitu belah ketupat! Bentuk persegi seperti ini dapat diartikan di masyarakat Jawa sebagai perwujudan dari kiblat papat lima pancer, dengan berbagi penjelasan dan berbagai cara memandang. Ada yang memaknai kiblat papat lima pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer: Tuhan yang Maha Esa.
Kiblat papat lima pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi Jawa: amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Amarah adalah nafsu emosional, aluamah adalah nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah atau bagus, dan mutmainah adalah nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini.
Kita bicarakan bahan pembuatnya yuk...
Ketupat merupakan makanan dengan isi beras, berselongsong janur atau daun kelapa yang berwarna agak kekuningan. Salah satu cara mematangkan Ketupat adalah dengan merebusnya dalam santan, atau, jika Ketupat direbus dalam air biasa, akan dihidangkan bersama makanan bersantan
1. Janur kuning.
Janur kuning ini adalah lambang penolakan bala. Di Kraton Surakarta, ada salah satu aksesoris wajib yang harus dikenakan, dan berbentuk kain panjang berwarna kuning. Kain ini disebut samir. Samir ini merupakan penolak bala, nah, Janur kuning adalah simbol dari samir tersebut.
2. Beras.
Sebagai simbol kemakmuran, beras dianggap sebagai doa agar kita semua diberi kelimpahan kemakmuran setelah hari raya.
3. Santan.
Santan, atau dalam bahasa jawa santen, berima dengan kata ngapunten yang berarti memohon maaf. Salah satu pantun yang terkenal yang menyebut keberadaan Ketupat dan santan adalah:
Mangan kupat nganggo santen.
Manawi lepat, nyuwun pangapunten.

(Makan Ketupat pakai santan.
Bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)

(Dicomot dari KapanLagi.com - Jum'at, 26 September 2008)


Ikan Bakar Rica


Berlatar belakang kenangan tentang Ternate


Temaram Seperti Senja

Angin menghembus pelan, menggerakkan daun-daun nyiur yang hanya tampak sebagai bayang-bayang di depan langit gelap kebiruan. Suara alam pun tenggelam, bergantikan suara serangga-serangga menjemput malam. Bahkan hatipun tak sanggup memaknai apa kata alam ini kepadanya. Rasanya telah terlalu jauh tersesat di sebuah ujung dunia fana, entah dimana.

Kenapa pula tiba-tiba terhenti disini. Seperti ada semacam kerapuhan didalam sehingga hilang semua keramaian yang kemarin. Tersadar lagi akan ketololan yang tak sengaja terpelihara sampai sekarang. Seolah-olah inikah hakikat yang ada: rapuh, pada saat kiri dan kanan tergelayut beban yang harus dipikul.
Hati merasa terhempas, terlempar ke tepi sebuah masa dimana hanya ada ketololan yang menyertai. Sendiri: tanpa anak dan istri, tanpa pekerjaan, tanpa harta, tanpa jiwa, tanpa Tuhan!

Pemandangan yang indah dan seksi hanyalah kesementaraan yang selalu habis dalam sesaat. Semua telah berubah temaram seperti senja ini. Senja dimana angin menghembus, menggerakkan daun-daun nyiur yang hanya tampak sebagai bayangan gelap di depan sisa-sisa terangnya langit biru.

Begitu rupanya sedari dahulu, gelap tanpa sinar menerangi tatkala tak ada lagi tempat untuk bertanya. Tak ada pula tali tempat bergelayut. Hidup dalam belantara primitif seperti masa lalu yang sepi. Biarpun sang waktu telah menyeret sampai seabad kedepanpun akan tetap sepi.

Mungkin memang hanya mimpi bahwa suatu saat kelak benua fana ini tidak sekedar sempurna. Lalu buat apa harus disesali manakala tempat tinggal ini tidak pernah memberi apa-apa kecuali hanya sedikit senyuman diantara kekecewaan dan penyesalan.

Inikah samudra luas di depan mimpi itu?
Samudra pemberi kebebasan alam semesta: rimba primitif dengan keterbatasan pilihan. Masih tetaplah embun pagi yang menetes dan mengikuti arus air, sampai ke selokan-selokan. Dari selokan-selokan itulah mengalir limbah masa lalu yang gelap dan sepi: tanpa lampu, tanpa siaran radio dan televisi, hanya koneksi Internet yang sering putus. Masih tetap sumpah serapah jugalah yang ada di mulut. Bukan semacam keharuman kata-kata mutiara.

Inikah samudra luas kenyataan itu?
Alam semesta yang hanya memberi cerita tentang Katak dalam Tempurung, Pangeran yang Terbunuh, Candi Batu yang Tak Pernah Jadi Seribu, Sang Bidadari Dungu, serta Langit Kelabu yang Tak Pernah Membiru. Semua hanya cerita tentang Neraka masa lalu dan Neraka masa kini, tak jauh dari kisah-kisah penderitan orang.