![]() |
| Hmmm.... |
Suatu ketika saya lembur malam di kantor sampai larut, bahkan jatah makan dari kantor pun sudah habis. Pulang-pulang kelaperan bukan kepalang. Saya sama pak Rahmat pulang sambil cari warung yang masih buka. Nemu penjual Nasi Goreng. Lumayan kan?
"Telurnya habis, pak. Tinggal pakai telur rebus, kalau mau!" kata penjualnya.
"Telur rebus?" tanyaku dalam hati.
Ya sudahlah, itu momen "lapar mengalahkan idealisme kuliner", hahahaa. Walau sejujurnya antara otak dan perut lagi berdebat:
Otak: "Aku mau nasi goreng telur ceplok setengah mateng, kuningnya lumer..."
Perut: "Dek, itu telur rebus terakhir. Ambil apa pulang nahan laper?"
Dan jujur, 5 menit setelah suapan pertama biasanya kita lupa sama estetikanya. Yang ada cuma: "nasgornya anget, telurnya ngenyangin, udah cukup".
Malah kadang jadi kayak menemukan menu baru. Jadi inget pengalaman sebelumnya: pesen ayam geprek taunya sambalnya habis, dikasih sambal ijo. Awalnya protes, sekarang malah jadi sering-sering cari sambal ijo buat teman makan. Hahahaaa....
Ya sudahlah, itu momen "lapar mengalahkan idealisme kuliner", hahahaa. Walau sejujurnya antara otak dan perut lagi berdebat:
Otak: "Aku mau nasi goreng telur ceplok setengah mateng, kuningnya lumer..."
Perut: "Dek, itu telur rebus terakhir. Ambil apa pulang nahan laper?"
Dan jujur, 5 menit setelah suapan pertama biasanya kita lupa sama estetikanya. Yang ada cuma: "nasgornya anget, telurnya ngenyangin, udah cukup".
Malah kadang jadi kayak menemukan menu baru. Jadi inget pengalaman sebelumnya: pesen ayam geprek taunya sambalnya habis, dikasih sambal ijo. Awalnya protes, sekarang malah jadi sering-sering cari sambal ijo buat teman makan. Hahahaaa....



0 komentar:
Posting Komentar