Sejak AI makin canggih, dan jujur saja: makin pinter, saya malah makin bego jarang nulis. Bukan karena kehabisan ide, tapi karena kebanyakan ide. Dan juga karena rasa minder yang aneh. AI bisa nulis cepat, rapi, runut, enak dibaca. Tinggal ketik prompt, jadi. Sementara tulisan saya? Acak-acakan. Lompat sana-sini. Hari ini bahas kesehatan, besok pendidikan, lusa bisa sok religius, besoknya lagi puisi setengah sadar yang bahkan saya sendiri harus baca dua kali buat ngerti maksudnya.
Blog ini memang bukan blog. Lebih mirip keranjang sampah pikiran. Apa pun yang numpuk di kepala, saya buang ke sini. Tanpa mikir SEO, tanpa mikir engagement, tanpa mikir “ini relevan nggak ya?”. Kadang cuma pengen lega. Kadang cuma pengen ada tempat buat ngomel yang nggak dinilai KPI-nya.
Lalu AI datang. Dan anehnya, justru sejak ada alat bantu super canggih, saya malah berhenti. Karena muncul suara kecil di kepala: “Ngapain nulis? AI bisa lebih bagus.” Dan suara itu bukan cuma ada di kepala saya. Banyak penulis: blogger, copywriter, jurnalis, penulis iseng di Notes HP, mengalami hal yang sama. Kita bukan kehabisan kata. Kita kehabisan keberanian untuk merasa tulisan kita masih layak ada.



